SASTRA BUDAYA

‘Robohnya Surau Kami’ oleh Gaung Ganto, Mengangkut Masa Lalu ke Masa Kini

0
×

‘Robohnya Surau Kami’ oleh Gaung Ganto, Mengangkut Masa Lalu ke Masa Kini

Sebarkan artikel ini
Pertunjukan Robohnya Surau Kami oleh Komunitas Seni Gaung Ganto pada FNJ TGL3 di Gedung Manti Menuik Ladang Tari Nan Jombang, beberapa waktu lalu. IST
Pertunjukan Robohnya Surau Kami oleh Komunitas Seni Gaung Ganto pada FNJ TGL3 di Gedung Manti Menuik Ladang Tari Nan Jombang, beberapa waktu lalu. IST


Dan dalam lampu pertunjukan yang padam, suara-suara baru (dari ruang dan suasana yang baru) hadir dalam gelapnya panggung, sampai lampu pertunjukan menyala – menghadirkan suasana orang-orang yang sedang berjualan di pasar. Orang-orang di pasar berteriak menjajalkan jaganya.


Suasana pasar seperti lari dari babak sebelumnya. Visual yang dihadirkan seperti dipatahkan. Hanya cerita yang terbawa ke pasar itu. Sekilas pasar menyimbolkan tempat berlangsungnya mencari-mendapat informasi. Gaung Ganto memang menghendakinya, memberikan tanda dalam “Robohnya Surau Kami” yang dimainkannya.


Lagi dan lagi, si gadis penyela datang lagi di tengah hiruk pikuk pasar. Ia benar-benar terlihat seperti penghubung ruang ke ruang lain, kembali menjembatani cerita antara panggung dan penonton. Ditambah seorang laki-laki dengan stelan yang sama dengan si gadis penyela — keduanya dalam hati yang senang dan bahagia.

Baca Juga  Puisi Tahun 1983 Karya Pulo Lasman Simanjuntak Kembali Menggema saat Ultah ke-3 JSM di Balai Pustaka Jakarta


Dalam selaannya, si gadis pun menutup cerita. Cerita yang diklisekannya sebagai dongeng, tapi yang tertangkap justru sebaliknya. “Robohnya Surau Kami” benar-benar membingkaikan surau (tanda) yang tetap saja roboh. Gaung Ganto melihatkan peristiwa itu masih ada dan terjadi lewat pertunjukannya.
Dan pertunjukan “Robohnya Surau Kami” pun berakhir, dengan kembali menyanyikan Ajo Sidi si pembual.


Ajo Sidi, O Ajo Sidi. Pekerjaannya sindir menyindir. Menjerat hati setiap orang. Jadi sumber ejekannya.

Sudut Pandang yang Sama dalam Surealis Gaung Ganto

Baca Juga  Kuda Lumping Sari Utomo, Pelestari Kesenian Jawa di Bumi Solok Selatan


Pertunjukan teater “Robohnya Surau Kami” yang dimainkan Komunitas Seni Gaung Ganto itu bisa dikatakan hampir sama dengan karya yang digarap Hermana HMT — secara sudut pandang. Hanya saja, properti, suasana panggung dan cara penokohan tampil berbeda. Penggarapan yang diinginkan sutradara memang atas kehendaknya. Properti yang terbatas – kursi, lesung, kain putih – tak disia-siakan dalam penggunaannya.


Namun, roh yang disampaikan tetaplah sama. Mungkin saja, Gaung Ganto memang ingin mengangkut masalah lama ke masa kini. Hadi Gustian melihat pemahaman yang masih bersimpang jalan itu masih terjadi dalam kacamatanya.