UTAMA

Dugaan Manipulasi Distribusi dan Pencemaran Lingkungan, PLTU di Sumbar Perlu Evaluasi Menyeluruh

5
×

Dugaan Manipulasi Distribusi dan Pencemaran Lingkungan, PLTU di Sumbar Perlu Evaluasi Menyeluruh

Sebarkan artikel ini
PLTU Ombilin

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Evaluasi menyeluruh terhadap pembangkit listrik di Sumatera Barat (Sumbar), khususnya yang masih bergantung pada energi fosil seperti batu bara, perlu dilakukan. Selain karena dampak lingkungan yang ditimbulkan, ada dugaan terjadi manipulasi administrasi dalam pendistribusian batu bara di Sumbar.

Hal itu disampaikan anggota Komisi XII DPR RI, Mulyadi. Ia mengatakan, saat ini Sumbar ada dua PLTU utama yang beroperasi, yaitu PLTU Teluk Sirih dan PLTU Ombilin, yang masih menggunakan batu bara sebagai energi primernya.

Baca Juga  Nur Husna Putri : Berguna di Negeri Asal, Bermanfaat di Ranah Minang

“Persoalannya, banyak laporan yang menyebutkan bahwa batu bara yang masuk ke Sumbar tidak sesuai dengan administrasi aslinya. Dilaporkan berasal dari tambang A, padahal kenyataannya dari tambang B,” kata Mulyadi, seperti dilansir dari laman resmi DPR RI, Minggu (20/4).

Mulyadi menambahkan bahwa praktik semacam ini menimbulkan pertanyaan terkait transparansi dan kelayakan sumber energi yang digunakan. Ia menilai perlunya pendalaman terhadap asal-usul batu bara yang digunakan oleh pembangkit listrik, termasuk juga yang digunakan oleh industri besar seperti Semen Padang, meskipun bukan mitra langsung Komisi XII.

Baca Juga  Sambangi Kru PLN, Presiden Jokowi Apresiasi Keandalan Listrik Saat Pergelaran KTT G20 di Bali

“Kami juga akan mendalami sumber pasokan batu bara yang menyuplai ke industri, termasuk Semen Padang. Pertambangan adalah bagian dari ruang lingkup kerja kami,” tutur politisi asal Dapil Sumbar tersebut.

Di sisi lain, ia mendorong percepatan dan optimalisasi pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) di Sumbar. Hal itu sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. Ia menyebut, energi panas bumi merupakan salah satu potensi unggulan Sumbar yang belum dimanfaatkan secara maksimal.