OPINI

Diskusi Poligami Bersama Pemerhati Sosial Keagamaan

0
×

Diskusi Poligami Bersama Pemerhati Sosial Keagamaan

Sebarkan artikel ini

Sekonyong-konyong kaum Bundo kanduang mulai mengenal arti kata cemburu. Mulai menerapkan gerakan emansipasi. Perubahan sosial tak terelakkan.

Status tulang punggung kaum Adam dalam keluarga termasuk yang terreduksi sering beremansipasinya tulang rusuk menuju tulang punggung. Bahkan anak-anak SD kita pun sekarang sudah merasa wajib punya pacar. Nauzubillah.

Celakanya tidak hanya infiltrasi makna kecemburuan saja, mindset-mindset perselingkuhan, LGBT, kumpul kebo dan lainnya mewabah tanpa bisa dibendung oleh komunitas agama Islam dengan benteng nya para ulama.

Baca Juga  BCM, Cinta Basko yang Belum Usai

Semua mindset ini pun menjelma menjadi normal baru menggantikan mindset kebersahajaan dalam balutan nilai-nilai agama yang Hanif.

Di sinilah kenormalan kehidupan berpoligami kelilip dan tenggelam seperti tak berbekas. Padahal sebenarnya masih menyisakan anak cucu dan sepupu yang mengalami langsung kenormalan ini.

Ketiga peluang mengembalikan kenormalan kehidupan berpoligami dalam komunitas Muslim, terkhusus Minangkabau yang bersendikan kitabullah ini. Sebenarnya bukan ini akar masalahnya.