Setelah memimpin rapat, Kepala BNPB kemudian meninjau rumah warga yang terdampak banjir di Kelurahan Ro’ong, Kecamatan Tondano Barat. Pada agenda tersebut Kepala BNPB juga berdialog bersama masyarakat terdampak guna menekankan bahwa pemerintah akan selalu hadir baik untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar hingga mencari solusi mengatasi banjir di Kabupaten Minahasa.
Banjir Terparah Dalam Lima Tahun Terakhir
Banjir di Kabupaten Minahasa ini terjadi akibat meluapnya air Danau Tondano yang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi, pada periode 21 April hingga 1 Mei 2025. Sedikitnya lima kecamatan terdampak, seperti Kakas, Tondano Barat, Tondano Timur, Eris, dan Remboken.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh BNPB, akibat bencana ini sebanyak 2.757 Kepala Keluarga (KK) atau sejumlah 7.330 jiwa terdampak, 1.313 jiwa di antaranya mengungsi baik di pengungsian terpusat maupun rumah sanak keluarga. Kendati telah berangsur surut, banjir yang sudah menggenangi wilayah permukiman warga hampir dua bulan lamanya ini telah menyebabkan 1.889 unit rumah terdampak, empat unit sekolah turut terdampak.
Banjir akibat luapan air dari Danau Tondano ini merupakan tergolong yang paling parah sejak lima tahun terakhir. Selain intensitas hujan, sejumlah faktor, menurut Suharyanto menjadi penyebabnya, seperti pendangkalan DAS, penumpukan sampah, dan kondisi pintu air.
Sementara itu, dalam lima tahun terakhir bencana hidrometeorologi basah menjadi bencana yang paling dominan terjadi di Sulawesi Utara. Jumlah bencana tersebut mencapai 149 kejadian dengan rincian banjir 94, cuaca ekstrem 27, tanah longsor 15, dan gelombang pasang/abrasi 13 kejadian.
Danau Tondano sendiri adalah danau terluas di Sulawesi Utara yang luasnya mencapai kurang lebih 4.000 hektare. Danau yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Manado ini diapit oleh tiga gunung dan satu bukit, yakni Gunung Lembean, Gunung Kaweng, Gunung Masarang, dan Bukit Tampusu. (*)





