OPINI

Fenomena Quiet Quitting: Bekerja Tanpa Hati, Diam Tanpa Mundur

0
×

Fenomena Quiet Quitting: Bekerja Tanpa Hati, Diam Tanpa Mundur

Sebarkan artikel ini
quiet quitting
Rita Rahayu

Hargai Kontribusi, Jangan Asumsikan Loyalitas. Memberi apresiasi bukan sekadar soal bonus. Ucapan terima kasih, pengakuan atas kerja keras, dan kepercayaan untuk berkembang itu semua adalah bentuk penghargaan yang sangat berpengaruh. Jangan anggap diamnya karyawan sebagai tanda puas. Bisa jadi mereka diam karena sudah kehilangan harapan.

Ciptakan Budaya Kerja yang Adil dan Manusiawi. Pemimpin memiliki peran penting dalam menciptakan atmosfer kerja yang sehat. Pastikan beban kerja didistribusikan secara proporsional, kesempatan berkembang terbuka bagi semua, dan evaluasi dilakukan secara transparan. Budaya kerja yang adil akan memperkuat keterikatan emosional dan komitmen tim.

Baca Juga  Melindungi Siswa di Dunia Maya: Pentingnya Literasi Risiko Internet di Sekolah Digital

Penutup: Membangun Kembali Kepercayaan dari Atas

Fenomena quiet quitting tidak akan hilang dengan ancaman, teguran, atau motivasi instan. Ia hanya bisa dicegah jika para pemimpin berani merefleksikan dirinya sendiri, membangun kompetensi, dan hadir sebagai figur yang layak diikuti.

Karena pada akhirnya, keterlibatan bukan soal gaji semata. Ia soal makna, keteladanan dan rasa percaya bahwa apa yang dilakukan bersama pemimpin memang layak diperjuangkan. (*)

Oleh: Rita Rahayu, PhD