OPINI

Fungsi Politik Wacana dalam Slogan-Slogan Cina

0
×

Fungsi Politik Wacana dalam Slogan-Slogan Cina

Sebarkan artikel ini
Elly Delfia

Oleh: Elly Delfia

(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Artikel-artikel yang menarik tentang wacana cukup banyak ditemukan di jurnal-jurnal ilmiah. Hal ini membuktikan kajian wacana berkembang pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu artikel yang menggunakan analisis wacana kritis berjudul “Slogans with Chinese Characteristics: The Political Function of a Discourse Form” yang membahas karakteristik slogan politik Cina. Artikel tersebut ditulis oleh Jialin Song dari Renmin University of Cina dan James Paul Gee dari Arizona State University, USA serta diterbitkan oleh salah satu jurnal bergengsi, yaitu SAGE. Artikel itu berbicara tentang slogan Cina dari sudut pandang sejarah, budaya, dan politik, khususnya slogan dalam ekologi diskursif dari sejarah. Meskipun tampak sepele, slogan dapat menjalankan fungsi khusus dan penting dalam kasus tertentu. Slogan-slogan politik Cina disebut sebagai cara penting untuk menjalankan fungsi yang mendorong dan mengajarkan orang-orang untuk melihat diri sendiri sebagai warga negara. Hal itu adalah tujuan ideologis yang bersinggungan dengan negara sebagai sumber kekuatan koersif. Artikel tersebut berbicara tentang cara berbeda untuk mempelajari diskursif pada masyarakat yang berbeda untuk mencapai tujuan sipil dan ideologis negara.

Analisis wacana dianggap sebagai teori yang dapat mengeksplorasi slogan politik, sosial, dan budaya. Penulis artikel mengutip konsep analisis wacana Fairclough, Van Dijk, Wodak, dan Meyer dalam latar belakang melalui pernyataan “Memang, terkadang dalam bentuk bahasa yang “sepele” tersembunyi karya budaya atau politik yang kasar atau mungkin lebih kontroversial jika dikomunikasikan secara langsung (Fairclough, 2010; Gumperz, 1982; Jones, 2019; Van Dijk, 2008, 2009; Wodak dan Meyer”. Slogan-slogan politik Cina berbeda dengan slogan Amerika Serikat. Orang Amerika Serikat menganggap slogan-slogan Cina itu aneh, tetapi propaganda politik Cina menjadikan slogan sebagai alat kontrol sosial dan klaim politik. Slogan-slogan Cina terkait dengan fungsi yang harus dijalankan oleh negara untuk bertahan dan fungsi asal-usul manusia dalam biologi evolusi, khususnya permasalahan mendasar yang dialami manusia secara kolaboratif dalam skala besar.

Sharp (1984) menjelaskan kata “slogan” berasal dari bahasa Gaelic (Skotlandia), yaitu “slaughghairm” artinya ‘army cry’ atau ‘war cry’ yang dipakai untuk memotivasi anggota klan dalam memperjuangkan perlindungan atau kemuliaan klan. Slogan-slogan adalah seruan untuk mengangkat senjata. Pada masa perang, slogan memainkan peran besar pengganti iklan. Slogan adalah bentuk wacana hortatori yang menyampaikan ide-ide dan nilai-nilai sebagai dorongan atau panduan untuk bertindak.

Baca Juga  Peranan Seorang Ibu dalam Islam

 Slogan Cina modern muncul sejak Partai Komunis Cina enggunakan kata-kata sederhana dan ringkas untuk mengajari orang-orang tentang nilai-nilai sosial politik dan untuk mendorong orang dalam membuat pilihan serta melakukan tindakan sesuai dengan nilai-nilai yang disampaikan dalam slogan. Slogan dapat menyederhanakan ide-ide politik yang kompleks bagi mereka yang memiliki basis yang luas di China (Kim, 2011). Penggunaan slogan yang luas mengubah rasa peduli dan pola pikir orang Cina. Slogan digunakan untuk mengajarkan sistem nilai kewarganegaraan, mempertahankan kebersamaan, kewarganegaraan, dan untuk menciptakan kesetiaan pada negara.

Slogan sudah ada sejak zaman Cina Kuno selama lebih dari 2000 tahun meskipun secara akademis, kata ‘slogan’ pada zaman modern muncul pertama kali dan dipelajari oleh dunia Barat. Masyarakat Cina Kuno sudah bicara teks-teks filosofis dan penderitaan para petani dalam masyarakat feodal. Cina menciptakan tulisan sejak awal dalam temuan arkeologi pada Dinasti Han Barat (206-8 SM). Pada masa itu, Cina memiliki kertas serat linen, sejenis kertas yang teksturnya kasar dengan biaya produksi tinggi. Pada tahun pertama Yuan Xing (105) di Dinasti Han Timur. Oleh karena itu, tulisan kuno berusaha dipersingkat yang disebut dengan slogan. Contoh slogan Cina Kuno, di antaranya: (1) It will cause more harm to stop the free flow of people thoughts than to stop that of    the rivers (Guo Yu, 990-453 BC) yang berarti “Menghentikan aliran bebas pikiran orang-orang lebih berbahaya daripada menghentikan aliran Sungai” (Guo Yu, 990-453 BC), (2) The Commander of the army may be carried off, but the will of event a common man cannot be taken from him  yang berarti “Komandan tentara boleh saja dibawa pergi, tetapi bahkan keinginan orang biasa tidak dapat diambil darinya: (The Analects of Confucius, sekitar 400 SM)

Slogan zaman Cina kuno disebut ‘proto-slogan’. Para intelektual Cina menganggap slogan sebagai pencarian kehidupan tertinggi dalam tradisi patriotisme di tengah banyak pergolakan politik. Contoh slogan yang mendukung patriotisme. (1) Be first to worry about the trouble across the land, the last to enjjoy universal happines yang berarti “Jadilah orang pertama yang mengkhawatirkan masalah di seluruh negeri, yang terakhir menikmati kebahagiaan universal” (AD 1046), (2) Rise and of nation rests with every one of it is citizens “Jatuh bangunnya suatu bangsa ada di tangan setiap warganya “ (Gu Yanwu, 1670 M).

Baca Juga  Fenomena Longsor Maninjau, Saat Anak Menganggap Hujan Menjadi Bencana

Slogan-slogan tersebut menekankan bahwa individu harus mendahulukan keamanan negara dan bangsa di atas kepentingan sendiri dan nilai terbesar kehidupan adalah berkorban untuk negara dan bangsa. Anak-anak muda Tiongkok sudah familiar dan percaya pada slogan-slogan tersebut. Menilik masa lalu, slogan-slogan Cina modern berakar pada kearifan Cina kuno yang lahir dari ketidakadilan masyarakat feodal. Slogan Cina modern telah menjadi anggur baru di kulit lama yang mengubah fungsi lebih dari sekadar bentuk.  

Sebagai buntut dari Revolusi Kebudayaan dan dengan munculnya Kebijakan Pintu Terbuka, slogan-slogan menjadi enkapsulasi kebijakan negara, frase sebagai seruan untuk kewarganegaraan bersama, kesetiaan kepada negara, dan persatuan di bawah kepemimpinan Xi Jinping, bersama Partai Komunis Cina yang berusaha untuk menghidupkan kembali ideologi Marxis (dengan karakteristik Tiongkok) untuk mengembalikan semangat revolusi. Slogan-slogan menjadi propaganda pada masa pemerintahan Xi Jinping yang membuat kekuatan Cina turut diperhitungkan dalam dunia global. Contoh slogan politik Xi Jinping, yaitu Wether or not we can do ideological word well is related to the future and destiny of the party. It is related to longterm stability of the country and the national cohession and centripetal force. (Apakah kita dapat melakukan pekerjaan ideologis dengan baik atau tidak, itu terkait dengan masa depan dan nasib partai dan stabilitas jangka panjang negara serta kohesi nasional dan kekuatan sentripetal (Xi Jinping, 2013). Slogan tersebut mengejar kemajuan ekonomi berdasarkan pasar yang terintegrasi dalam ekonomi global dan upaya China sebagai kekuatan global sebagai pemersatu.

Cina menyadari situasi dunia modern yang berteknologi tinggi sangat rentan terhadap beragam hubungan yang melahirkan identitas berbeda. Permasalahan negara-negara bagian di Cina membuat orang melampaui kesetiaan, bahkan kesetiaan alami pada sanak saudara, kerabat, dan teman. Slogan digunakan untuk mengontrol kesetiaan orang-orang pada masa kini. Teori analisis wacana kritis berguna untuk mempelajari cara negara dalam melaksanakan fungsi inti untuk menjaga kelangsungan hidup Masyarakat dan kesetiaan warga pada negara. Slogan dianggap bentuk yang tepat untuk menggambarkan dinamika wacana, pemeliharaan, konflik, dan perubahan yang dapat melenyapkan suatu bangsa. Wacana kritis memberikan jawaban atas masalah mendasar manusia tentang bagaimana bersikap manusiawi kepada manusia lain yang tidak kenal secara pribadi, terutama dalam masa perang Israel-Palestina yang turut menyeret negara-negara besar, seperti Cina, Rusia, Iran, dan Amerika seperti saat ini. (*)