Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
OPINI

Gaung yang Redup Hari Buah Sedunia

0
×

Gaung yang Redup Hari Buah Sedunia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hardisman

Guru Besar FK Universitas Andalas

Setiap tanggal 1 Juli merupakah Hari Buah Sedunia, namun peringatan ini hampir tidak terdengar gaungnya. Bahkan praktisi kesehatan, gizi, dan pangan pun banyak yang tidak mengenalnya. Padahal peringatan Hari Buah Sedunia menyentuh gaya hidup masyarakat secara langsung.

Makna Hari Buah

Hari Buah Sedunia pertama kali digagas oleh sekelompok alumni University of Applied Science Alice Salomon di Jerman. Gagasan itu muncul pada sebuah pertemuan sederhana pada April 2007. Dalam suasana kebersamaan, muncul ide untuk merayakan sesuatu yang bisa menyatukan semua orang, lintas bangsa dan budaya, yang pilihan itu jatuh pada buah.

Buah dipilih karena ia netral, tidak mengandung simbol ideologi, agama, atau politik. Buah tumbuh di setiap benua, dan dikonsumsi oleh semua golongan. Buah berasa manis, segar, dan membawa nilai positif.  Pada hari itu mereka mengajak semua orang berkumpul dari lintas negara dan budaya, untuk membawa buah dari berbagai negara, dan saling berbagi. Tidak ada kasta, tidak ada sekat ekonomi, tidak ada batas etnik. Hanya buah, tawa, dan semangat berbagi. Sejak saat itu, tanggal 1 Juli ditetapkan sebagai Hari Buah Sedunia.

Buah adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Dalam satu buah, terkandung  vitamin dan mineral yang bermanfaat besar bagi kesehatan. Akan tetapi, kesegaran alami buah kini perlahan-lahan tergeser oleh pola makan instan, cepat saji, dan minim nutrisi.

Oleh karena itu, Hari Buah Sedunia bukan sekadar perayaan simbolik. Ia adalah pengingat bahwa gaya hidup sehat dimulai dari hal paling sederhana, yakni konsumsi bahan alam yang segar − buah.

Jeruk dan Gaya Hidup Inklusif

Setiap tahun, Hari Buah Sedunia mengangkat buah tertentu sebagai simbol. Buah yang dipilih menjadi tema khusus yang mencerminkan semangat tahun tersebut. Pada tahun 2025 ini buah yang terpilih adalah jeruk, dan temanya adalah “Inclusive Styles”.

Baca Juga  Korupsi yang Terus Tumbuh: Lemahnya Instrumen Hukum atau Implementasinya?

Tema peringatan hari buah tahun ini  adalah ajakan kepada seluruh masyarakat dunia untuk mengadopsi gaya hidup sehat yang terbuka bagi siapa saja, tanpa diskriminasi usia, status sosial, atau latar belakang budaya.

Jeruk sebagai simbol mempunyai makna yang mendalam. Jeruk adalah buah yang tampak sederhana, dan ia tumbuh pada semua belahan benua di dunia, dan ditemukan di semua negara. Sehingga ia mudah didapatkan oleh setiap orang dari semua kalangan. Namun dibalik kesederhanaannya, jeruk mengandung vitamin C yang tinggi, yang merupakan nutrisi penting dalam menjaga daya tahan tubuh.

Disamping itu, Jeruk juga punya banyak varian, mulai dari jeruk manis dengan berbagai sub-varian, jeruk nipis, jeruk bali, jeruk keprok, yang menunjukkan keragaman namun berada dalam satu kesatuan. Dalam konteks Hari Buah Sedunia tahun 2025, jeruk menjadi metafora yang indah, yakni buah yang sederhana, menyegarkan, namun kaya manfaat, inklusif, Bersatu dalam keberagaman, dan membumi.

Tema “Inclusive Styles” juga mengandung makna yang lebih luas. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan struktur soaial, maka penting untuk mengembangkan pola hidup sehat yang tidak hanya berlaku bagi kalangan elit atau menengah atas. Gaya hidup sehat bukan hanya milik mereka yang punya akses lebih, tetapi juga untuk masyarakat bawah, untuk anak-anak di pelosok, untuk lansia di desa terpencil, dan untuk komunitas-komunitas rentan yang sering kali terpinggirkan dalam kampanye kesehatan.

Baca Juga  Menyemai Daya Saing Daerah

 Filosofi jeruk, menunjukkan bahwa hidup sehat adalah kebutuhan siapa saja, bisa dilakukan siapa saja, dimana saja. Gaya hidup sehat bukan berarti mesti mahal.

Tantangan dan Solusi

Meskipun Indonesia merupakan negara agraris dengan produksi buah yang melimpah, konsumsi buah masyarakatnya justru rendah dan jauh dari rekomendasi WHO. Banyak orang masih menganggap buah bukan kebutuhan harian, diperburuk oleh minimnya kampanye publik yang konsisten dan kalah saing dari iklan makanan cepat saji. Akibatnya, generasi muda lebih akrab dengan camilan kemasan dibanding buah segar.

Peringatan Hari Buah Sedunia dapat menjadi momen penting untuk membangkitkan kesadaran konsumsi buah tersebut. Ini bukan hanya soal nutrisi, tapi juga strategi menghadapi krisis kesehatan global akibat pola makan tak sehat yang menyebabkan penyakit degeneratif, seperti jantung, diabetes, dan kanker.

Kampanye konsumsi buah perlu dibingkai dalam pendekatan ceria dan edukatif agar lebih efektif dan diterima semua kalangan. Buah menjadi bagian dari solusi yang tidak hanya sebagai sumber nutrisi, tapi juga sebagai sarana pendidikan gaya hidup sehat. Sehingga, peringatan Hari Buah Sedunia dapat menjadi momen edukatif yang menyenangkan dengan pendekatan yang ceria, bukan kampanye kesehatan yang kaku.

Selain manfaat kesehatan, Hari Buah Sedunia juga menyimpan nilai sosial dan budaya. Kegiatan berbagi buah dapat memperkuat solidaritas sosial dan mendorong masyarakat yang inklusif.

Oleh karena itu, momen ini dapat menjadi gerakan nasional untuk menanamkan kebiasaan makan buah secara rutin dan menyenangkan bagi semua generasi. Sehingga pada akhirnya menjadi wadah peningkatan kesadaran pola hidup dan konsumsi zat gizi yang sehat dan seimbang. Semoga!