Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
UTAMA

Melawat ke Yunnan (5): Negeri Minus Maling dan Preman

0
×

Melawat ke Yunnan (5): Negeri Minus Maling dan Preman

Sebarkan artikel ini
Kawasan Kota Tua Lijiang di waktu malam. Pengunjung tak perlu khawatir ada maling atau pencopet di tempat-tempat umum. HASRIL CHANIAGO

“Baik. Tenang bu, kalau jelas tinggal di sana, mudah-mudahan bisa ketemu,” kata Kahar berusaha menenangkan. Kemudian sopir bus bernama A Kang diarahkan mencari tempat berhenti.

Dari atas bus, Kahar segera menghubungi Yu Mi, petugas yang ditunjuk sebagai LO (liaison officer) delegasi Sumbar selama di Kunming. Melalui aplikasi WeChat (warga China tidak menggunakan WA), Kahar menginformasikan tentang HP yang tertinggal di tempat acara dan minta tolong memeriksanya.

Hanya dalam hitungan satu-dua menit, sudah masuk balasan ke WeChat Kahar dari Yu Mi: “Apakah ini HP-nya?” disertai gambar sebuah Iphone berwarna pink.

Ketika dikonfirmasi kepada Bu Lies, wajahnya langsung riang tiada terkira. “Alhamdulillah… iya, benar Pak Kahar. Tolong minta diantar sama Yu Mi, saya bayar ongkos taksinya,” katanya berketutus saja sudah tak sabaran.

Baca Juga  Festival Sumpah Sati Bukik Marapalam, Tempat Lahirnya Filosofi ABS-SBK di Sumatera Barat

Singkat cerita, sekitar 30 menit kemudian datang Yu Mi dan temannya dengan sebuah mobil sedan cantik. Ternyata bukan taksi. Bu Lies yang gembira bukan main menerima HP, lalu menyerahkan uang 100 dolar Amerika sebagai tanda terima kasih. Yu Mi berulang kali menolak pemberian itu. Lama juga keduanya bersitegang antara yang mau memberi dan yang menolak menerima. Namun setelah berkali-kali diyakinkan bahwa itu bukan tip, tetapi tanda terima kasih yang tulus, barulah Yu Mi bersedia menerima.

Negeri Minus Maling dan Preman

Cerita HP Bu Lies yang sempat hilang dan sukses kembali itu kemudian menjadi topik diskusi seru dalam rombongan safari ini. Ya, berkaitan dengan keamanan dan ketertiban umum di Yunnan dan Tiongkok umumnya. “Kalau ada barang-barang ketinggalan di tempat umum, bisa dipastikan tidak akan hilang. Soalnya, warga China sangat takut kena sanksi kredit sosial kalau mengambil barang bukan miliknya. Apalagi mencuri atau mencopet,” kata Haneco, pengusaha yang rata-rata setiap bulan bolak-balik Indonesia–China.

Baca Juga  77 Tahun Harian Haluan, Mursalim: Media Tertua yang Tak Pernah Lelah Mencerdaskan Ranah Minang

Hal itu dibenarkan oleh Hong Joe. “Jangankan maling, menyeberang jalan bukan pada tempatnya saja, warga China tidak berani. Karena pasti akan terekam CCTV dan dan diketahui identitasnya. Mereka mendapat sanksi sosial dari pemerintah,” kata Joe.