PADANG PARIAMAN

Dosen ST Bhinneka Teliti Makna Filosofis Ritual Basarang di Nagari Kasang

2
×

Dosen ST Bhinneka Teliti Makna Filosofis Ritual Basarang di Nagari Kasang

Sebarkan artikel ini
RITUAL BASARANG - Prosesi menyarang dari pihak induak bako kepada keluarga ibu saat tradisi menyambut kelahiran bayi kembar berbeda jenis kalamin. IST

PADANG PARIAMAN, HARIANHALUAN.ID – Tradisi budaya Minangkabau kembali menarik perhatian akademisi. Salah satu dosen dari Sekolah Tinggi Bhinneka, Febry Aurlani, S.Pd., M.Hum., tengah melakukan penelitian mendalam terhadap ritual Basarang, sebuah tradisi khas Nagari Kasang,Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman yang hingga kini masih terus dilestarikan masyarakat setempat.

Ritual Basarang merupakan sebuah upacara adat yang dilakukan untuk menyambut kelahiran anak kembar berlainan jenis kelamin, yang oleh masyarakat Minangkabau disebut sebagai kembar sumbang. Tradisi ini dipercaya sebagai upaya pemisahan batin dan emosional antara dua anak kembar agar kelak tidak menjalin hubungan yang dianggap melanggar norma adat dan spiritual.

Baca Juga  Jorong Batang Palupuh Jadi Desa Wisata Binaan Kemenparekraf RI

Dalam kunjungan penelitiannya ke lokasi, Febry menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan sebuah sistem simbolik yang sarat nilai dan filosofi.

“Ritual Basarang menjadi contoh bagaimana masyarakat Minangkabau membingkai hubungan sosial dan spiritual dalam sistem adat yang diwariskan turun-temurun. Ini bukan hanya tentang bayi kembar, tapi juga tentang bagaimana komunitas menjaga keseimbangan dan batas dalam struktur sosial mereka,” ujar Febry kepada Haluan, Kamis (31/7).

Pelaksanaan ritual dilakukan di halaman rumah keluarga besar dari pihak bayi. Dua kelompok keluarga—dari pihak ayah dan ibu—duduk saling berhadapan dan melangsungkan prosesi yang tampak gaduh: saling melempar buah, tempurung kelapa, dan jamba berisi sesaji, sambil mengucapkan kata-kata kasar dan ejekan.

Baca Juga  BPBD Pasaman dan Wali Nagari Limo Koto Lakukan Survei IKM

Sementara itu, menurut tokoh adat setempat, H. Kamzar M. S., semua dilakukan dalam konteks simbolik, bukan untuk menyakiti.

“Ini bentuk pemisahan spiritual, bukan permusuhan. Simbol-simbol tersebut dimaksudkan untuk ‘memutus’ ikatan emosional antara kedua bayi kembar agar tidak saling terikat secara batin ketika dewasa,” jelas Kamzar.