OPINI

Mencari “Nahkoda Baru” KONI Sumbar

0
×

Mencari “Nahkoda Baru” KONI Sumbar

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Sumbar, Nofrizon

Oleh :

Nofrizon

Anggota DPRD Sumbar

Dua minggu ini sejumlah WAG atau Group WhatsApp yang saya ikuti diramaikan oleh diskusi tentang induk organisasi olah raga KONI (Komite Olah Raga Nasional Indonesia) Cabang Sumbar.  Sejumlah nama terlihat sangat berminat menjadi “Nahkoda Baru”. Ada yang terang terangan memperlihatkan keinginan dan dukungan dan ada pula yang bergerak dalam senyap.

Sebagai anggota DPRD Sumbar dan juga insan olah raga, suksesi ini memantik naluri menulis saya. Selain menarik untuk ditulis saya juga ingin meninggalkan jejak digital bahwa saya sudah pernah menyampaikan ide dan pemikiran. Setidaknya, “ambo lah maminteh sabalun anyuik, alah ma ingek an rantiang nan ka ma impok“.

Saat ini KONI dan dunia olah raga di Sumbar sedang tidak baik baik saja. Pembibitan dan pembinaan terhadap atlet oleh cabang organisasi tidaklah berjalan sebagaimana mestinya. Kompetisi sebagai wadah untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan atlet juga tidak ada. Buktinya sederhana, semenjak 2020 kita tak mendengar lagi ada Porprov atau ivent olahraga dalam konteks lokal. Setelah saya telusuri satu diantaranya terkendala anggaran untuk pelaksanaan ivent yang sudah berjalan dari tahun ke tahun. Sungguh ini menyedihkan saya sebagai insan olah raga.

Terus terang di mata saya dinamika pemilihan nahkoda baru ini cukup menarik. Suksesi Ketua KONI periode 2025-2030 bahkan melampaui suksesi sebuah pimpinan partai politik. Kandidat yang muncul menunjukan keinginan berkompetisi juga beragam. Mulai dari kader partai politik hingga ke pengusaha dan jendral bintang satu.

Ada yang musti jadi catatan kita bersama bahwa mengurus KONI tidaklah sama mengurus organisasi politik. Kehebatan personal dan kedekatan personal dengan tampuk kekuasaan juga tidak jaminan KONI bisa berjalan dengan aman dan lancar.

Dimata saya, KONI itu membutuhkan “nahkoda gila”. Gila yang saya maksud disini adalah orang yang paham dan benar benar berasal dari insan olah raga. Gila dalam artian mau berkorban dan mewakafkan waktu, uang dan pemikirannya untuk memajukan olah raga. Gila dalam artian diri mau rugi besar demi  olah raga bisa berkembang dengan baik di Sumbar.

Seorang Ketua KONI juga harus gila dalam artian merasa dan menganggap para atlit yang sedang meniti karir ini adalah anak mereka. Intinya, seorang Ketua KONI haruslah orang yang dapat dikatakan mau menjadikan KONI itu bak isteri keduanya.

Dalam tulisan ini saya tak ingin menyebut nama. Dalam tulisan ini saya juga tak bermaksud menungkai apalagi mengganjal seseorang untuk mehakodai KONI Sumbar ke depan. Dalam tulisan ini saya justru ingin dan menunjukan kepedulian saya pada dunia olah raga. Pilih lah orang yang tepat dan benar benar mau berjuang dalam membesarkan dunia olah raga.

Baca Juga  Kinerja dan Capaian PON Disorot DPRD, KONI Sumbar Maklum dan Janjikan Evaluasi

Jangan pernah melihat seorang kandidat itu dari kedekatan dengan tampuk pimpinan. Si A dekat dengan Pak Gubernur, si B dekat dengan Pak Wakil Gubernur, si C dekat dengan Ketua DPRD atau pejabat di Sumbar. Tidak, tidak itu titik tumpuan kita dalam menjatuhkan pilihan. Lihat dan telusuri betullah siapa dia, dari mana dia, apa latar belakangnya, apa prestasinya dalam dunia dan cabor. Maaf, ini bukan bermaksud menghakimi, bagaimana ekonominya. Kenapa? Jangan nanti posisi Ketua KONI itu menjadi ladang kehidupan diri atau kelompoknya. Kalau ini terjadi maka jangan harap olah raga di Sumbar akan berkembang dan bangkit.

Selain itu saya juga ingin mengingatkan kita semua bahwa dunia sudah berubah. Penggunaan anggaran negara tidaklah semudah dan sederhana yang kita pikirkan. Banyak tahapan, banyak prosedur dan aturan yang harus diikuti dalam penggunaan anggaran. Jangan sampai dana hibah dengan nilai rerata Rp 75 Miliar per tahun itu justru jadi mala petaka. Baik bagi organisasi ataupun nahkodanya.

Rujukan Nan Ampek

Agak berbahasa minang saya memberi sub judulnya. Dalam bulan September ini KONI akan menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov). Dalam musprov ini para kandidat harus merebut dukungan dari 77 cabor dan 19 KONI Kabupaten dan Kota.

Dimata saya menjadi Ketua KONI tak ubahnya menjadi “Gubernur”. Selain membawahi dan mengkoordinasikan antar cabor, KONI Sumbar juga mengkoordinasikan dan memayungi KONI Kabupaten dan Kota. Artinya, seorang Ketua KONI haruslah bisa merajut setiap bentuk tingkatan dan potensi. Leadhershipnya benar benar dibutuhkan untuk “mambangkik batang tarandam”.

Dalam catatan saya ada empat rujukan utama yang dapat jadi pedoman bagi kita bersama dalam memilih Ketua KONI Sumbar ke depan. Keempat ini sangat penting demi bangkit dari titik terendah yang terlalu lama menyungkup dunia olah raga Sumbar. Apa saja ke empat rujulan itu?

Pertama, rekam jejak si kandidat. Pahami benar lah rekam jejak si kandidat dalam berolahraga dan berorganisasi olahraga. Perhatikan mereka yang tiba-tiba muncul seolah paling paham dalam mengelola olahraga. Ingat KONI itu tak selebar “daun kelor”, banyak pihak dan dilema yang berputar dari hari ke hari didalamnya. Mulai dari Cabor, atlet, pelatih hingga ke kompetisinya.

Baca Juga  Sengketa Kepengurusan KONI Sumbar Berakhir, Dana Hibah Rp15 Milliar Dicairkan

Kedua, pastikan si kandidat tak hanya bergantung pada APBD Sumbar yang sangat terbatas. Dimata saya ini sangat penting. Kalau jualannya kedekatan dan berharap dari hibah APBD maka yakinlah KONI Sumbar bak “ma eto kain saruang”. Misi untuk “mambangkik batang tarandam” tak akan pernah bisa diwujudkan. Selain terbatasnya dana  di tengah efisiensi anggaran juga sistem pencairan dan pertanggungjawban yang kian rumit dan selektif. Artinya, Ketua KONI Sumbar ke depan harus “cadiak dan pandai ma angok kalua badan”. Tegasnya, dana hibah APBD jadikan sebagai modal dasar dan untuk pengembangan olah raga Ketua KONI harus mencari dana dari pihak luar. Tegasnya, pandai dan mampu mencari dana untuk KONI selain dari APBD dan CSR Bank Nagari.

Ketiga, mapan. Ini hal penting bahkan maha penting. Jangan sampai kandidat malah menumpangkan hidupnya di KONI sementara kemampuan finansialnya tak terpenuhi dari dirinya sendiri. Artinya, kapasitas si kandidat mestinya sudah paripurna dan bisa mandiri secara ekonomi.

Dan keempat, dia harus miliki jaringan yang mempuni di dalam Sumbar dan terutama di luar Sumbar. Dengan modal jaringan, maka upaya membangun olahraga Sumbar bisa mandiri dan tak hanya mengandalkan APBD yang memang menjadi amanat UU Sistem Keolahragaan Nasional.

Sebetulnya masih banyak indikator yang dapat menjadi rujukan  kita dalam memilih Ketua KONI Sumbar ke depan. Namun, karena pemikiran dan pemahaman saya yang singkat setidaknya empat indikator ini dapat menjadi pijakan dalam memilih.

Ingat!!! Dunia olah raga sumbar sudah  terlalu lama “lesu darah”. Gairah kompetisi sudah terlalu lama memudar. Intrik dan trik terlalu lama membelenggu jalannya organisasi. Hampir 10 tahun belakangan KONI berubah bentuk menjadi lapangan “tungkai manungkai”. Akibatnya,  program kerja yang dijanjikan tak dapat ditunaikan.

Kita tak mau belenggu masa lalu itu berlarut dan abadi mengunci dunia olah raga di Sumbar. Musprov adalah wadah dan momentum yang tepat untuk berbenah. Cari dan pilihlah pemimpin berdasarkan runjukan nan ampek tadi. Semoga saja Musprov dapat menjadi batu loncatan untuk membangkik batang tarandam. Mari bersama sama kita menyelamatkan dunia olah raga di Sumbar. Pilih dan renungkanlah pemikiran dangkal saya ini. (*)