PADANG

Pengangguran Tinggi di Padang, Pendidikan Vokasi Dinilai Gagal Jawab Kebutuhan Daerah

0
×

Pengangguran Tinggi di Padang, Pendidikan Vokasi Dinilai Gagal Jawab Kebutuhan Daerah

Sebarkan artikel ini
Pengangguran
Ketua Konsorsium Pendidikan Tinggi Vokasi Sumatera Barat (Sumbar), Nurul Fauzi

“Lulusan SMK itu sangat potensial. Tetapi sulit diterima di pasar kerja skala nasional. Kalau perguruan tinggi masih bisa, tapi SMK seharusnya terserap di daerah. Sayangnya, jurusannya tidak cocok dengan kebutuhan lokal,”katanya.

Untuk mengatasi masalah ini, Konsorsium Vokasi bersama Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) tengah berupaya menyinergikan program pendidikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Salah satunya dengan memasukkan karakter pariwisata halal khas Sumbar ke dalam kurikulum.

“Kalau bicara pariwisata Sumbar, tentu tidak bisa dilepaskan dari filosofi ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Tapi ini jangan sekadar slogan, harus masuk ke bahan ajar agar ada diferensiasi,” katanya.

Baca Juga  98 Program untuk 4.400 Warga: PT Semen Padang Salurkan Rp2,2 M Lewat Program BMN 2025

Meski begitu, Nurul menyayangkan masih adanya stigma bahwa pendidikan vokasi adalah jalur kelas dua. Padahal, ia menegaskan lulusan vokasi memiliki porsi praktik lebih besar dibanding pendidikan reguler.

“Komposisi vokasi itu 70 persen praktik, 30 persen teori. Jadi sebenarnya lebih siap kerja. Tapi masyarakat masih menganggap vokasi pilihan kedua,” ucapnya.

Melalui TKDV, pihaknya menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri untuk membentuk ekosistem pendidikan vokasi yang benar-benar menjawab kebutuhan daerah.

Baca Juga  Strategi Menghandel Pengangguran di Era Milenial 5.0

“Fungsi TKDV ini bukan sekadar mencocokkan kebutuhan, tapi merancang kurikulum bersama. Kalau ini berhasil, angka pengangguran di Padang maupun Sumbar bisa ditekan,” tuturnya. (*)