OPINI

Muhasabah Diri

0
×

Muhasabah Diri

Sebarkan artikel ini

Oleh Nofrizon
Anggota DPRD Sumbar
Mantan Pegawai Deppen Sumbar

Kenapa setiap penceramah selalu mengatakan di awal dan di akhir
tausyiahnya pesan itu untuk dirinya? Semua itu tak terlepas dari
ketidaksempurnaanya sebagai Hamba Allah.

Sang mubalig menyadari
betul dirinya punya kekurangan dan kelemahan. Dia menyadari bahwa
dirinya merupakan manusia biasa tidak seperti Nabi dan Rasul.

Kita sebagai umat juga mesti belajar banyak dari sikap dan etika para
mubalig sebagai manusia kita tidaklah paripurna. Sebagai umat kita juga tidak luput dari salah dan khilaf. Untuk itu jangan pernah sekalipun kita menghakimi atau menjustifikasi seseorang dengan sebuah pemikiran.

Sebagai insan kita ditakdirkan memiliki banyak ketidaktahuan. Kita
tidak mengetahui apa yang terjadi esok dan tidak bisa pula memastikan apa yang terjadi dimasa depan.

Semua takdir dan jalan kehidupan itu adalah rahasia ilahi. Sebagai insan, kita hanya bisa menjalani. Apapun hasil takdir itu adalah garisan nasib. Kita tak bisa menolak apalagi memberikan perlawanan. Satu- satunya jalan adalah iklas menerima takdir dan melakukan
muhasabah diri.

Baca Juga  Merdeka untuk Menganggur

Orang bijak berkata kehidupan selalu menghadirkan dua sisi. Ada
baik ada buruk, ada funish dan ada reward. Termasuk dalam menjatuhkan hukuman. Hidup kita di dunia ini adalah cuma jaraknya antara azhan qhamat kehidupan kita yang langgeng hanya ada di akhirat nanti.

Sejak kita berumur mulai baliq dan berakal malaikat rakib dan atid
sudah mencatat semua pahala dan dosa-dosa yang akan kita pertanggungjawabkan
diakhirat nanti.

Proses pengadilan hukuman kepada kita ada tiga kategori. Pertama vonis pengadilan hukum dosa dan pahala di akhirat
nanti.

Kedua, vonis pengadilan hukum di negara kita, yaitunya di pengadilan negeri atau pengadilan tipikor.
Ketiga hukum alam yang menilai apa tindak tanduk kita di tengah masyarakat, kelompok lingkungan kita bergaul sehari.

Menurut analisa saya hukum alam yang menilai kita melalui orang lain
tersebut tentu tidak terlepas dari tindak tanduk kelakuan yang kita lakukan sendiri.

Semakin banyak yang kita omongkan, kelakuan kita itu mencerminkan karakter kita sendiri. Tanpa kita sadari juga sering terjadi orang memuja dan memuji di hadapan kita, sementara di belakang mentertawakan kita.

Baca Juga  Mereview Keterlibatan Influencer Bayaran untuk Kampanye RKUHP

Untuk mengubah menghilangkan imeg negatif orang tersebut, yang harus kita miliki adalah ilmu, wawasan serta intelektual. Maka dari itu marilah kita merenung sambil introspeksi diri kita apa saja yang sudah kita lakukan agar terlepas dari jeratan hukum alam yang vonis masyarakat kepada kita.

Orang bijak mengatakan, jadikanlah kelemahan, kekurangan dan kegagalan sebagai cambuk untuk mendorong kemajuan, agar kita tidak dinilai negatif orang lain. Mengambil keputusan dan kebijakan dalam keadaan emosional hasilnya pasti tidak maksimal. Jika kita tarik ke atas hidup ini hanya antara azhan dan qhamat.

Sebagai pengingat bagi kita, pakailah ilmu padi semakin tinggi semakin merunduk dan jauhilah sifat
cando kacang dihabuih ciek mahonjak kateh kabawah dan potongan lagu
alm asben cando tupai dapek jariang malompek bagungguang juo. (*)