SUMBAR

Besok Pameran Temporer Museum Adityawarman, Mengangkat Historis dan Semangat Kolektif Pascagempa Sumbar 2009

3
×

Besok Pameran Temporer Museum Adityawarman, Mengangkat Historis dan Semangat Kolektif Pascagempa Sumbar 2009

Sebarkan artikel ini
Konsolidasi Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Balai Bahasa Sumbar di Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (17/9). KIKI NOFRIJUM

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Talase-talase tampak dibersihkan, Senin (29/9/2025). Koleksi museum dari keramik disusun dan bakal dipersiapkan untuk memajang historisnya ke khalayak umum.

Pameran Temporer Museum Adityawarman 2025: “Retakan yang Bertutur – Menjaga Warisan Masa Lalu” jadi induk pameran yang akan digelar Selasa (30/9/2025) ini di Museum Adityawarman. Kata “retakan” dari tema bukanlah sepenuhnya kias makna. Namun kata itu karena dampak dari sebuah peristiwa besar, gempa Sumbar pada September 2009 lalu.

Kurator Pameran, Aurora Arby Samah, menjelaskan pascagempa koleksi-koleksi museum yang terbuat dari keramik sebagian besar hancur. Dan 16 tahun penantian, koleksi-koleksi itu telah rangkum kembali melalui perbaikan.

Baca Juga  Wujudkan Zero Accident Sejak 2019, PLN UIW Sumbar "Banjir" Penghargaan K3 dari Kementerian Tenaga Kerja

“Makanya kerusakan itu kita kiaskan koleksi itu sebagai saksi, sehingga Pameran Temporer ini diinisiasikan atas 16 tahun peringatan peristiwa gempa 2009 ini. Restorasi koleksi yang akan dipamerkan ini ibarat menceritakan koleksi itu sebagai saksi atas peringatan ini,” katanya.

Pameran ini, jelas Aurora, hadirnya ingin menyampaikan pesan bahwa warisan budaya pun dapat rapuh diterpa bencana. Tapi semangat pemulihan, kolaborasi lintas komunitas, dan mitigasi bencana memastikan bahwa identitas dan memori kolektif tetap dapat hidup.

Baca Juga  Padang Pariaman Kebut Pengentasan Kemiskinan Ekstrim

Kepala UPTD Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah, juga menjabarkan bahwa Pameran Temporer ini dalam konteks sejarahnya memang bermuhasabah terhadap persitiwa gempa 16 tahun silam, termasuk Museum Adityawarman dan seisinya hingga 320 koleksi (keramik) yang turut mengalami kerusakan.

“Kegiatan ini juga menjadi pertanda bahwa ada upaya kita untuk melakukan penyelamatan. Dan itu telah kita lakukan bersama berbagai pihak dari kementerian terkait, UNESCO, dan pihak lain,” ujarnya.