PADANG, HARIANHALUAN.ID — Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ke-3 dunia menghasilkan lebih dari 4 juta ton limbah kulit buah kakao setiap tahun.
Limbah yang selama ini dianggap tak bernilai, kini diubah menjadi sumber energi masa depan oleh tangan dingin Prof. Dr. Yuli Yetri, M.Si dari Politeknik Negeri Padang.

Melalui riset bertahap sejak 2022, Prof. Yuli berhasil mengolah kulit buah kakao menjadi karbon aktif, bahan dasar elektroda untuk superkapasitor —perangkat penyimpan energi berdaya tinggi yang mampu mengisi ulang hanya dalam 30 detik. Kandungan selulosa dan lignin tinggi dalam kulit kakao menjadikannya bahan ideal untuk teknologi ini.
“Kulit kakao bukan sekadar limbah. Ia menyimpan potensi energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Prof. Yuli dalam Forum Hilirisasi Riset Energi Terbarukan, Jumat (3/10).

Penelitian ini telah menghasilkan dua artikel ilmiah bereputasi internasional dan empat prosiding seminar global. Capaian riset mencapai TKT 3, dan kini tengah diajukan kembali melalui Skim Penelitian Hilirisasi untuk mencapai TKT 6 berupa prototipe sel superkapasitor berbasis karbon aktif kulit kakao.
Tahapan Riset:
– Pra-karbonisasi kulit kakao pada suhu tertentu
– Aktivasi kimia dan fisika untuk menghasilkan karbon aktif
– Uji sifat fisika dan kimia elektroda
– Pengembangan prototipe sel superkapasitor (target tahun 2025)
Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dan difasilitasi oleh Politeknik Negeri Padang melalui kontrak riset hilirisasi dan pengujian model.

Dengan cadangan minyak bumi dunia yang makin menipis, riset ini menjadi harapan baru dalam mewujudkan teknologi hijau berbasis biomassa lokal. Kulit kakao, yang dulunya dibuang begitu saja, kini bertransformasi menjadi komponen penting dalam revolusi energi bersih.(*)





