Oleh: Wandi Malin
(Wartawan Haluan)
Ada yang bertanya, kenapa alam yang dulu ramah, semarah ini? Alam tidak marah karena kebetulan. Marahnya adalah akumulasi. Tetesan demi tetesan kelalaian manusia yang akhirnya berubah menjadi badai, banjir, dan longsor yang meluluhlantakkan.
Hari ini kita berdiri di tepian sungai, melihat kiriman yang datang. Banyak kayu-kayu patah terbawa arus dan masih berani berkata, “ini musibah alam.” Apakah memang hanya alam yang harus dipersalahkan, ketika peta Sumatera Barat menunjukkan satu pola panjang yang tak mungkin kebetulan?.
Gugusan Bukit Barisan yang membentang dari utara ke selatan Sumatera Barat bukan hanya kontur di peta atau latar foto wisata semata. Ia adalah kantung air, penyangga erosi, penyaring hujan, dan hulu bagi puluhan sungai yang memberi kehidupan dari Batang Anai hingga Batang Gawan, dari Lubuk Minturun, hingga batang Lembang dan dari Batang Tarusan, Batang Bayang hingga Batang Hari.
Hutan di sana bukan hiasan, melainkan mesin hidrologi yang bekerja tanpa henti menahan hujan, menyimpan air, menjaga tanah tetap memegang akar-akar vegetasi. Kini bayangkan mesin itu dibongkar perlahan-lahan hutan ditebangi, jalur-jalur ilegal logging dan ilegal minning memotong seperti sayatan di perut bumi, lereng-lereng yang dulunya rapat kini telah ditelanjangi.
Ketika kemarau datang, tanah retak bukan karena kebetulan, tetapi karena kehilangan jaringan penopang. Dan kala hujan datang, retakan itu terisi dan runtuh.
Hasilnya kita saksikan, longsor yang menelan rumah, sungai yang membawa kayu dan lumpur, nagari-nagari yang berubah jadi kolam. Hutan yang dulu ramah, kini berubah jadi petaka. Teriakan dimana-mana. Pekik penggang warga terdengar keras di telinga, berpacu dengan derasnya air bah nan datang mendera. Apa lagi hendak dikata..??
Perubahan iklim memperbesar intensitas badai dan curah hujan ekstrem itu betul. Tapi menyalahkan hanya pada iklim, adalah cara paling nyaman untuk menutup skenario yang kita buat sendiri. Siklon tropis mempercepat proses. Tetapi tebing yang mudah runtuh, aliran yang tak punya penyangga, dan tanah yang rapuh bukanlah pemberian alam, itu warisan dari perbuatan manusia.
Jika hutan adalah penahan, maka menebang hutan adalah tindakan yang membuka pintu bagi banjir, longsor dan galodo. Kita harus berhenti berpura-pura bahwa ada dua krisis yang terpisah. Krisis iklim global dan krisis perusakan lokal, keduanya saling memperkuat.
Menghapus hutan berarti memperbesar dampak perubahan iklim, dan perubahan iklim berarti setiap pengrusakan lokal menjadi lebih cepat berbahaya, begitu benarlah.
Potongan kayu yang terbawa arus bukan sekadar sampah yang hanyut menghiasi banjir; ia adalah bukti. Bukti bahwa ada pohon yang tumbang, ada hutan yang dirampas.
Setiap batang yang hanyut adalah saksi bisu dari rantai keputusan dari pelaku pembalakan, dari aparat yang membiarkan, dari konsumen yang membeli tanpa menanyakan asal. Kita tidak boleh lagi menerima narasi “hujan deras” sebagai satu-satunya penyebab, ketika bukti fisik berkata lain.
Bencana yang kita lihat hari ini bukan hasil dari satu kesalahan, tetapi rangkaian panjang kelalaian. Perizinan yang longgar, penegakan hukum yang lemah, ekonomi yang menuntut eksploitasi cepat, dan budaya yang memprioritaskan keuntungan jangka pendek. Sistem yang memberi ruang pada penjarahan hutan akhirnya menempatkan masyarakat sebagai korban paling depan.
Kerusakan lingkungan bukan hanya tragedi material, tetapi juga tragedi moral. Ketika rumah hilang, sawah rusak, atau korban jiwa muncul, kita sering hanya menghitung angka. Namun di balik angka-angka itu ada keluarga yang runtuh, mata pencaharian yang terhapus, dan masa depan generasi muda yang terguncang. Ini bukan lagi persoalan lingkungan semata, tetapi persoalan keadilan sosial dan kemanusiaan.
Solusi tidak bisa lagi bersifat tambal-sulam. Kita membutuhkan penegakan hukum yang tegas terhadap pembalakan liar, restorasi ekosistem yang diperlakukan sebagaimana pentingnya membangun jalan dan jembatan, dan model ekonomi yang tidak lagi bertumpu pada penghabisan sumber daya.
Masyarakat adat dan warga lokal harus menjadi garda penjaga alam, bukan sekadar penonton ketika keputusan-keputusan diambil di tempat jauh dari kampung mereka. Pendidikan lingkungan dan perubahan pola konsumsi harus menjadi bagian dari budaya kita, agar rantai perusakan bisa diputus dari hulu hingga hilir.
Kita bisa terus menyebut badai dan banjir ini sebagai “musibah” seolah datang tanpa sebab. Namun, semakin lama kita menyangkal, semakin jelas cermin yang ditunjukkan alam. Kerusakan yang kita tuai adalah hasil dari yang kita tanam.
Sekali lagi, alam marah bukan karena ia ingin marah. Ia marah karena keseimbangannya dirusak. Jika kita ingin meredakan amarah itu, langkahnya bukan sekadar doa ketika hujan reda, melainkan tindakan nyata, kebijakan yang berani, dan perubahan perilaku yang konsisten.
Sebelum itu terjadi, amarah alam akan terus menjadi peringatan keras yang tidak bisa lagi kita abaikan, ia tak akan pernah seramah dulu. Salam kopi tak bergula..***










