EkBis

Harga Cabai “Menyala” di Pesisir Selatan, Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

0
×

Harga Cabai “Menyala” di Pesisir Selatan, Tembus Rp90 Ribu per Kilogram

Sebarkan artikel ini

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID — Harga cabai di Pasar Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, melonjak tajam dan menembus Rp90.000 per kilogram. Kenaikan harga ini dipicu terbatasnya pasokan cabai akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir.

Pantauan di Pasar Surantih, Minggu (14/12/2025), menunjukkan harga cabai mengalami kenaikan signifikan dibandingkan pekan sebelumnya. Cabai merah keriting asal Kerinci dijual dengan harga tertinggi, yakni Rp90.000 per kilogram.

Salah seorang pedagang cabai, Iprianto (44), warga Kambang, menyebutkan bahwa harga cabai berbeda-beda tergantung asal pasokan. Selain cabai Kerinci, cabai lokal dijual seharga Rp80.000 per kilogram, sementara cabai asal Jawa dipasarkan dengan harga Rp75.000 per kilogram.

“Cabai merah keriting dari Kerinci hari ini dijual Rp90.000 per kilo. Cabai lokal Rp80.000, sedangkan cabai Jawa Rp75.000,” ujar Iprianto.

Menurutnya, lonjakan harga terjadi karena produksi cabai lokal menurun drastis. Ia bahkan harus mondar-mandir ke sejumlah kecamatan untuk mendapatkan pasokan dari petani.

Baca Juga  Marta Gunawan, Eksportir yang Siap Pimpin Pasbar

“Petani cabai jumlahnya terbatas, itu pun banyak yang tanamannya rusak akibat banjir kemarin,” katanya.

Ia menyebut, petani cabai di Pesisir Selatan umumnya terdapat di wilayah Bayang Utara, Bayang, Tarusan, Batang Kapas, Lengayang, hingga Ranah Pesisir. Namun sebagian besar lahan cabai di daerah tersebut rusak terendam banjir.

Selain faktor banjir, Iprianto mengatakan saat ini Pesisir Selatan juga berada di penghujung musim tanam kedua tahun 2025. Banyak petani beralih mengusahakan tanaman padi, sehingga produksi cabai semakin berkurang.

“Rata-rata petani sekarang fokus tanam padi. Akibatnya, produksi cabai sangat sedikit,” jelasnya.

Pasokan cabai dari luar daerah pun ikut menurun. Menurut Iprianto, kiriman cabai dari Jawa dan Kerinci–Sungai Penuh tidak lagi sebanyak biasanya.

Baca Juga  Hari Ini, 46 Jemaah Umrah PT Saudi Islamic Tour Diberangkatkan

“Biasanya setiap hari pasar, pagi-pagi cabai dari Kerinci sudah datang banyak. Sekarang hanya beberapa karung saja. Pedagang sampai berebut untuk dapat barang,” ucapnya.

Akibat pasokan terbatas, cabai yang dijualnya kerap habis lebih cepat dari biasanya.

“Kadang jam 12 siang sudah habis. Biasanya saya bisa jual sampai sore, tapi sekarang bisa pulang cepat karena barang sedikit,” tambahnya.

Kenaikan harga cabai juga berdampak langsung pada konsumen. Febri Iil (34), seorang ibu rumah tangga asal Nagari Koto Taratak, Kecamatan Sutera. Ia mengaku harus mengurangi jumlah pembelian cabai akibat mahalnya harga.

“Biasanya saya beli satu kilo untuk stok seminggu. Sekarang harus dikurangi setengah karena harganya mahal,” katanya.

Warga berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah stabilisasi harga dan memastikan kelancaran distribusi bahan pangan, terutama di tengah kondisi pascabencana yang masih berlangsung. (*)