Tak hanya ancaman ekologis, Firdaus juga mengungkap munculnya gejala sosial yang tak kalah mengkhawatirkan. Di sejumlah wilayah terdampak, seperti Kampung Apar, mulai terlihat perebutan bantuan antarwarga, disertai fitnah dan saling curiga.
“Ini sudah mulai terjadi. Masyarakat berebut bantuan, muncul fitnah antar sesama. Ini pertanda situasi sosial kita sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Ia menyebut, salah satu pemicu utama kondisi tersebut adalah melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem distribusi bantuan. Warga mulai enggan menyerahkan bantuan ke RT atau posko karena dinilai lamban dan tidak jelas.
“Ada warga yang bilang, ‘Kalau kau antar bantuan, tarok di sini saja. Kalau nunggu posko, lama.’ Ini menunjukkan kepercayaan mulai runtuh,” ujar Firdaus.
Menurutnya, ketidakjelasan fungsi dan mekanisme kerja posko bantuan harus menjadi perhatian serius pemerintah dan semua pihak terkait. Jika tidak segera dibenahi, situasi ini berpotensi memicu konflik horizontal di tengah kondisi masyarakat yang masih trauma.
Firdaus juga mengkritik pola penanganan bencana yang cenderung hanya masif di awal, lalu cepat mengendur setelah sorotan publik mereda.
“Kita ini sering kalibuik ampoknya ketika musibah saja. Satu minggu setelah itu, semua mulai dilupakan,” ucapnya.





