Namun demikian, ia mengingatkan bahwa relokasi warga tidak akan berhasil jika dilakukan tanpa melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka adat. Pendekatan teknokratis semata, menurutnya, justru memicu penolakan.
“Kalau relokasi dilakukan dengan pendekatan sekarang, saya yakin gagal. Tokoh harus dilibatkan agar masyarakat bisa menerima,” ujarnya.
Buya juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap potensi bencana susulan di sejumlah titik, termasuk kawasan Batu Busuk, di mana ia menilai keberadaan SMPN 44 berada dalam ancaman.
“Harus ada langkah pencegahan segera. Jangan menunggu korban jiwa baru kita bergerak,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan menyeluruh harus mencakup mitigasi jangka panjang, relokasi berbasis tata ruang baru, hingga pemulihan ekonomi warga. Pembangunan hunian sementara (huntara), menurutnya, bukanlah solusi akhir.
“Ada sawah yang habis. Potensi ekonomi hilang. Memulihkannya butuh waktu lama. Tapi kehidupan harus berjalan. Sampai hari ini, konsep pemindahan dan sumber penghidupan belum jelas,” ujarnya.
Buya Gusrizal juga mengingatkan tentang dimensi psikososial korban bencana. Ia menyebut, satu bulan pascabencana, korban kerap merasa ditinggalkan dan dilupakan.





