Laporan : Yesi Deswita
JEPANG, HARIANHALUAN.ID – Berita banjir bandang yang melanda Sumatra, dengan foto pemandangan Gunung Nago Kuranji yang telah luluh lantak Kota Padang pasca banjir turut diberitakan di Koran The Japan Times, member New York Times edisi 2 Desember 2025.
Hal itu terlihat langsung saat awak Haluan yang sedang mengikuti program Jenesys 2025 di Jepang mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di Kota Tokyo, pada hari yang sama.
Tidak tanggung-tanggung berita tersebut dimuat di halaman utama dan menjadi foto headline.
Koran tersebut dijual seharga JPY300 atau sekitar Rp30 ribu. Saat awak Haluan membeli koran tersebut, penjual turut menyampaikan rasa prihatin atas bencana yang menimpa Indonesia khususnya pulau Sumatra nya.
Dikabarkan berita banjir bandang yang terjadi di tiga provinsi di Indonesia turut menjadi sorotan di sejumlah media cetak, online hingga media televisi di Jepang. Hingga siang hari berita banjir masih terus diputar di sejumlah TV Nasional dan Swasta Jepang.
Dari info yang diperoleh Haluan dari Coordinator/interpreter bahasa Indonesia program Jenesys 2025, Takagi Hitoshi beberapa jurnalis dari Jepang juga turut diutus langsung untuk meliput langsung ke lokasi bencana.
Sementara itu, Salah seorang Reporter dari Metro TV yang berangkat ke Jepang, Rizki Naziah Aziz mengatakan dengan turut menjadi sorotannya banjir di Sumatra oleh media internasional, tentu akan semakin membuka mata dunia dan mengabarkan informasi tersebut secara lebih luas.
“Hal itu juga menunjukkan pemerintah Japan peduli terhadap banjir di Negara Asean lain,” tuturnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, meskipun saat ini bencana yang terjadi di Sumatra belum ditetapkan statusnya menjadi bencana nasional, tapi setidaknya seluruh dunia tahu bahwa bencana tersebut bukan bencana kecil.
“Bahwa menunjukkan ada bencana alam yang menyebabkan hampir ribuan orang meninggal dan hilang sampai hari ini. Bahkan beberapa binatang turut terdampak,” ujarnya.
Bencana ini, sambungnya juga disayangkan sebab banjir yang terjadi di medsos terjadi karena ulah manusia.
“Karena yang kita tau Sumatra belum pernah banjir sebesar itu secara bersamaan. Dari bujti yang terlihat, seforestasi memicu banjir yang akhirnya menyebabkan banyak kerugian,” ucapnya menutup. (*)






