Laporan : Yesi Deswita
Sudah hampir tiga minggu banjir bandang dan galodo meluluh lantakkan tanah Sumatra. Tim Relawan Indonesian Disaster Emergency Response Unit (I-DERU) turut bertahan sejak hari pertama bencana pada Kamis (27/11/2025) hingga detik berita ini diturunkan.
Mereka tidak butuh pengakuan, bahkan meninggalkan kenyamanan di hunian masing-masing menuju lokasi bencana.
Bermandikan lumpur, turut makan seadanya demi misi yang telah ditanamkan organisasi kemanusiaan ini “So OTHERS may LIVE! (Agar Orang Lain Dapat Hidup).
Kordinator wilayah Sumbar I-DERU, Falerino Tanjung yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia kerelawanan menceritakan dan berbagi rekaman bagaimana tali karmantel mereka sudah menyelamatkan puluhan nyawa yang nyaris hanyut saat evakuasi.
Bahkan banyak korban selamat yang sampai saat ini dihantui kecemasan setiap hujan datang. Hingga tim relawan berkali-kali menenangkan “ibu sudah aman”.
“Kami melihat sendiri banyak rumah yang hilang, hanyut disapu air. Di Guo bahkan rumah warga sudah menjadi aliran sungai. Pernah pula kami dapar kabar, sungai ini mencari jalan yang lama, mungkin dulu aliran sungainya memang disitu, jadi sekarang air itu mencari jalan yang lama,” tuturnya.
Di daerah Batu Busuk aliran air nya kini sudah sampai ke rumah-rumah warga, yang menjadikan pondasi mereka tidak ada lagi.
Kalau dirinci banyak sekali daerah yang terdampak cukup parah. Bahkan logika pun sulit mengatakan bagaimana mereka akan memulai kembali kehidupan baru setelah ini.
Di daerah hulu ada Batu Busuak. Masuk disitu Gunuang Nago, Guo, Lubuak Tampuruang, Lumin hingga ke Gurun Laweh dan Tabing banda Gadang, itu hanya terkena efek. Lokasi terparah ada di Kecamatan Pauh, Kapalo Koto, Lambung Bukit, Batu Busuk dan Kuranji.
I-DERU mendirikan posko sejak hari pertama dari daerah Lumin. Demi alasan keamanan pindah ke Guo, lalu pindah ke Batu Busuk. Namun semangat mereka mengevakuasi tidak pernah mundur.
“Info dari BMKG intensitas hujan akan meningkat kembali, maka kita di tempat aman. Posisi kita sekarang di posko gabungan relawan dan posko kesehatan di Masjid Raya Durian Taruang bekerja sama dengan DKM Masjid dan remaja masjid,” kata Falerino.
Selama bencana dan setelah bencana, para relawan aktif membuka dapur umum siap saji.
“Baik di daerah Lumin, Batu Busuk terdapat dua kelurahan Kapalo Koto dan Lambung Bukit. Di Guo kita buka dapur umum juga. Program lain juga sidah dicanangkan termasuk pembuatan MPASI untuk balita, dan pembagian higient kit untuk warga yang terdampak setelah lebih kurang 13 hari setelah kejadian,” jelasnya.
Tim relawan I-DERU tidak sendiri. Bencana ini nyatanya menelan korban jiwa hingga materil yang tidak sedikit. Mereka berjalan beriringan dengan tim evakuasi warga bersama SAR lain ada PMI, BPBD, TNI, relawan, Damkar banyak gabungan.
I-DERU sebuah Lembaga yang bergerak di bidang Kemanusiaan, Lingkungan, Kebencanaan dan Rescue yang berdiri tanggal 28 Oktober 2024. Berkantor pusat di Bekasi dan membuka cabang di seluruh Indonesia. Tetapi individuindividu yang tergabung dalam I-DERU sudah berkontribusi dalam bidang kebencanaan sejak tahun 2003.
I-DERU di Sumbar diketua oleh, Zuhrizul, dengan penasehat Gubernur, Buya Mahyeldi.
Namun Falerino yang sudah mengikuti Diksarnas di Purwokerto, punya NRA, dipercayakan untuk mengurus Sumbar dan terjun langsung ke lokasi-lokasi bencana.
Para relawan yang belum mengikuti Diksarnas, mereka terdata sebagai potensi I-DERU. Sehingga I-DERU juga sudah punya potensi di Kabupaten Kota.
“Setelah Diksarnas, baik darat maupun air, penyelamatan, baru bisa keluar NRA nya,” ujarnya.
Falerino menambahkan keberadaan individu yang tergabung di I-DERU, selalu berupaya maksimal dalam setiap kontribusinya di berbagai kejadian bencana dan Rescue yang terjadi di Indonesia khususnya.
Tanpa ragu berupaya melangkah dengan motto, “Expect for the BEST, Prepare for
the WORST, Always be PREPARED!!!”. (*)





