OPINI

Telaah Efektivitas Interactive Flat Panel dalam Pembelajaran Digital di Kota Padang

1
×

Telaah Efektivitas Interactive Flat Panel dalam Pembelajaran Digital di Kota Padang

Sebarkan artikel ini

Oleh : Yesi Deswita, S. Psi

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran 2025, yang ditandai dengan distribusi smartboard atau Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Tahun ini, sekolah sasaran yang akan menerima perangkat sebanyak 288.865 sekolah. Hingga bulan Agustus lalu, sudah berlangsung pengiriman untuk tahap pertama.


Penggunaan IFP dinilai menjadi langkah penting dalam percepatan transformasi pendidikan nasional. Menurut Prabowo, Digitalisasi bukan sekadar penyediaan perangkat, tetapi pembangunan ekosistem belajar baru yang kreatif, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.
Presiden menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih maju dan adaptif terhadap perkembangan zaman.


Kemendikdasmen bahkan menginstruksikan untuk mempercepat transformasi belajar mengajar di sekolah seluruh Indonesia, yang sudah dimulai November 2025 dengan distribusi ke 173.000 sekolah.

Pemerintah menyediakan perangkat interaktif untuk guru dan siswa, serta konten pembelajaran dan pendampingan. Targetnya seluruh sekolah memiliki IFP dalam 5 tahun ke depan. Sekolah yang telah mendapatkan IFP mulai mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran.

Salah satunya SDN 30 Kubu Dalam Kota Padang. Guru Kelas 6 SDN 30 Kubu Dalam, Nispu Mabrur, S.Pd mengungkapkan pengalaman para siswa dalam menggunakan IFP.


Menurutnya penggunaan IFP di kelas 6 SD Negeri 30 Kubu memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran siswa.
Ia melihat antusias dalam belajar siswa meningkat secara nyata. Hal ini dikarenakan guru memungkinkan untuk materi disajikan dengan visual yang menarik melalui video dan animasi.

Baca Juga  Energi Terbarukan di Hari Bumi

Peningkatan minat belajar siswa terutama terlihat pada mata pelajaran IPAS dan Matematika karena pada dua mata pelajaran ini banyak aplikasi dan game yang mendukung pembelajaran.

Dengan didukung Aplikasi dan Game tersebut, IFP memungkinkan guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif melalui game edukatif sebagai penguatan materi, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan efektif bagi siswa.

Siti Hamidah dkk. (2025) dalam Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar menunjukkan bahwa IFP berperan penting dalam meningkatkan kompetensi guru dan memfasilitasi pembelajaran mendalam yang interaktif. Studi ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan IFP tergantung pada peningkatan keterampilan digital guru.

Menurut teori motivasi belajar, stimulasi visual dan interaktif dapat meningkatkan attention dan interest siswa, yang kemudian berpengaruh positif terhadap proses belajar aktif. Perangkat IFP menyediakan konten audiovisual dinamis yang dapat menarik perhatian siswa, mengurangi kejenuhan, serta menstimulus partisipasi aktif dalam pembelajaran.

Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan media interaktif digital secara umum dapat meningkatkan antusiasme dan motivasi belajar siswa.

Terpisah, Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Fitri Arsih, S.Si., M.Pd., menilai bahwa penerapan Panel Interaktif Digital merupakan kemajuan dalam pembelajaran. Penggunaan perangkat ini akan membuat proses pembelajaran menjadi menarik, selain itu dengan memanfaatkan alat ini akan memperluas akses dan kualitas pembelajaran di kelas. Menurutnya, teknologi ini membawa perubahan signifikan pada cara guru mengajar dan cara siswa memahami materi.

Baca Juga  Mari Membedah SPM


Dengan memakai teknologi ini, guru dapat secara kreatif dalam menyajikan bahan ajar kepada siswa. Guru dapat memanfaatkan berbagai fitur pembelajaran seperti menghadirkan kuis secara interaktif, menyajikan materi yang tidak lagi sekedar berbasis tulisan namun dilengkapi video atau audio, hingga mendorong minat dan motivasi siswa.

Kaprodi S2 Pendidikan Biologi UNP tersebut tidak menampik bahwa implementasi teknologi ini memerlukan kesiapan sekolah, seperti ketersediaan listrik, jaringan internet dan keterampilan guru sebagai pengguna. Oleh karena itu, guru-guru harus diberikan bimbingan teknis, apalagi tuntutan saat ini adalah digitalisasi pendidikan,” jelasnya.

Meski demikian, Fitri menegaskan bahwa kehadiran Panel Interaktif Digital bukan berarti guru harus meninggalkan perangkat konvensional, terutama saat sumberdaya listrik mengalami gangguan seperti pemadaman listrik atau lemotnya jaringan internet. Menurutnya, kombinasi keduanya justru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel.

Selain itu, penggunaan panel yang ber keterusan tanpa jedah juga dapat mempengaruhi kesehatan mata atau kelelahan siswa. disamping terlalu fokus pada layar berpotensi mengurangi interaksi sosial siswa dan guru, tutupnya.

Dengan berkembangnya teknologi, para pendidik diharapkan mampu beradaptasi dan mengoptimalkan pemanfaatan perangkat digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. (*)