PARIAMAN, HALUAN – Upaya pengendalian diabetes mellitus tidak hanya bertumpu pada pengobatan, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan perubahan gaya hidup. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa di wilayah kerja Puskesmas Pariaman, Sabtu (20/12) lalu.
Kegiatan bertema Pemberdayaan Keluarga Diabetes Melalui Optimalisasi Aspek Psikososial, Pola Makan, dan Aktivitas Fisik Sehat ini menyasar penderita diabetes mellitus beserta anggota keluarga pendamping sebagai garda terdepan dalam pengelolaan penyakit kronis tersebut.
Pengabdian masyarakat dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi mengenai dukungan psikososial, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta praktik senam kaki bagi penderita diabetes. Metode diskusi interaktif dipilih agar peserta dapat menyampaikan langsung permasalahan yang dihadapi dan memperoleh solusi aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 15 orang penderita diabetes mellitus dan 15 orang anggota keluarga pendamping. Dalam diskusi dan tanya jawab, peran keluarga ditekankan sebagai pendamping utama dalam mendukung kepatuhan pengobatan, pengaturan pola makan, serta aktivitas fisik penderita diabetes.
Ketua tim pelaksana kegiatan, Ns. Febria Syafyusari, M.Kep mengatakan keterlibatan keluarga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan diabetes.
“Pengendalian diabetes tidak cukup hanya dengan minum obat. Dukungan keluarga sangat menentukan, mulai dari menjaga pola makan, mengingatkan aktivitas fisik, hingga memberi dukungan psikologis agar penderita tetap semangat menjalani pengobatan,” ujarnya.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Puskesmas Pariaman yang diwakili oleh Reza Ismarni, S.Keb selaku Kepala Tata Usaha Puskesmas Pariaman. Menurutnya, pendekatan berbasis keluarga sejalan dengan program pelayanan kesehatan di puskesmas.
“Kami melihat edukasi seperti ini sangat penting karena keluarga adalah orang terdekat penderita. Jika keluarga paham, maka pengelolaan diabetes di rumah akan lebih terkontrol,” katanya.
Turut hadir Ketua STIKES Piala Sakti Pariaman, H. Syahrul, SKM., M.Kes, yang juga menjadi anggota pelaksana kegiatan. Ia menyebut kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Melalui pengabdian masyarakat, dosen dan mahasiswa bisa berkontribusi nyata sekaligus menjawab kebutuhan kesehatan di lapangan,” ungkapnya.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari 40 persen menjadi 80 persen, baik penderita diabetes maupun anggota keluarga pendamping, terkait pentingnya pengelolaan diabetes mellitus secara holistik. Peserta memahami bahwa pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga memerlukan dukungan psikososial, pola makan sehat, dan aktivitas fisik yang teratur.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif memberi ruang bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman serta memperoleh solusi praktis yang dapat diterapkan di rumah. Kolaborasi antara STIKES Piala Sakti Pariaman dan Puskesmas Pariaman dinilai berjalan baik sehingga kegiatan terlaksana secara optimal dan tepat sasaran.
Sebagai tindak lanjut, tim pelaksana membentuk grup diskusi daring yang difokuskan pada dukungan psikososial keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita diabetes mellitus. “Melalui grup ini, kami berharap komunikasi dan pendampingan tetap berjalan meski kegiatan tatap muka telah selesai,” tutup Febria. (*)














