PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID — Lebih dari satu bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang Bayang Utara, kondisi memprihatinkan masih dirasakan masyarakat Ngalau Gadang, Nagari Limau Gadang, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Hingga Kamis (1/1/2026), wilayah tersebut masih terisolasi akibat putusnya jembatan dan tertimbunnya akses jalan utama.
Anggota DPRD Pesisir Selatan Fraksi PAN, Novermal, menegaskan bahwa keterlambatan penanganan infrastruktur pascabencana telah berdampak serius terhadap kehidupan warga. Ia mengaku kembali dihubungi tokoh masyarakat Ngalau Gadang yang mempertanyakan kepastian perbaikan jalan dan jembatan tersebut.
“Sebulan lebih pascabencana, pertanyaan masyarakat masih sama kepada saya. Kapan jalan dan jembatan kami diperbaiki, Pak? Ini menunjukkan bahwa kondisi di lapangan belum banyak berubah,” ujar Novermal.
Ia menjelaskan, bencana yang terjadi pada 27 November 2025 lalu mengakibatkan jembatan di kawasan Limau-Limau menuju Ngalau Gadang putus total. Selain itu, tiga titik jalan di dalam wilayah Ngalau Gadang tertimbun material longsor, sehingga akses utama masyarakat terhenti.
Meski warga bersama TNI AD telah membangun jembatan darurat yang hanya bisa dilalui sepeda motor, kondisi tersebut dinilai belum cukup. Jalan yang dibersihkan secara manual dengan peralatan seadanya juga masih ekstrem dan rawan bagi pengguna.
“Dengan kondisi seperti ini, sekitar 678 jiwa masyarakat Ngalau Gadang terancam lumpuh aktivitasnya, baik pendidikan maupun ekonomi. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” kata Novermal dengan nada tegas.
Menurutnya, rencana BNPB dan TNI AD untuk membangun jembatan yang dapat dilalui kendaraan roda empat hingga kini belum terealisasi. Informasi yang diterima, pelaksanaan masih menunggu masuknya program rehabilitasi dan rekonstruksi. Sementara itu, bantuan alat berat yang diharapkan dari PT Semen Padang dan Balai Jalan Nasional juga belum tiba di lokasi.
“Kalau terus menunggu, masyarakat akan semakin dirugikan. Anak-anak sekolah, guru, pedagang, semua terdampak. Ini bukan soal kenyamanan, tapi soal kebutuhan dasar,” ucapnya lagi.
Novermal mengungkapkan, demi mempercepat pemulihan, ia telah berdiskusi langsung dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Zainal Arifin. Dalam pertemuan tersebut, ia mendorong agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
“Sekda sepakat, jembatan darurat yang bisa dilalui kendaraan roda empat dan pembersihan jalan harus disegerakan. Untuk pembiayaan, kita dorong menggunakan dana CSR perusahaan yang beroperasi di Pesisir Selatan agar tidak menunggu terlalu lama,” jelas Novermal.
Ia menambahkan, keberadaan akses jalan sangat vital bagi Ngalau Gadang yang memiliki satu SD, satu TK, satu masjid, dan dua mushalla. Guru-guru berasal dari luar wilayah, sementara pelajar tingkat SMP hingga SMA harus keluar dari nagari tersebut untuk bersekolah.
“Kalau akses ini tidak segera dibuka dengan layak, maka masa depan pendidikan anak-anak kita yang terancam. Begitu juga ekonomi warga yang bergantung pada kelancaran transportasi,” tutur Novermal.
Di akhir pernyataannya, Novermal meminta seluruh pihak, baik pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga pihak swasta, untuk tidak menutup mata terhadap kondisi Ngalau Gadang.
“Ini soal kemanusiaan dan tanggung jawab bersama. Saya akan terus mengawal agar Ngalau Gadang tidak dibiarkan terisolasi. Save Ngalau Gadang,” pungkasnya. (*)














