PADANG, HALUAN –Banjir bandang tak hanya meninggalkan bekas lumpur di lantai dan dinding rumah, tetapi juga bekas luka di hati warga .
Yelida Yanti (47), warga Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang, terpaksa harus tidur di posko pengungsi saat bencana itu terjadi.
Lumpur setinggi dada orang dewasa, mengepung seluruh sudut rumahnya, meninggalkan bau anyir yang menusuk hidung siapapun yang berada di sana.
“Meskipun semua barang hancur terendam lumpur, tetapi saya tetap bersyukur karena masih selamat,”kenangnya, di sudut matanya tampak buliran air hangat mulai mengucur.
Kesedihan sekaligus rasa trauma juga dirasakan Yona (45), karena banjir bandang yang datang secara tiba-tiba telah merusak rumah beserta seluruh isinya.
Sebanyak 360 keluarga di Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang, ikut terdampak banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra termasuk Sumatra Barat pada 27 dan 28 November 2025 silam.
Tidak hanya merendam ratusan rumah, banjir bandang juga telah merusak bangunan sekolah, rumah ibadah serta prasarana umum seperti jalan dan jembatan.
Saat bencana terjadi di Surau Gadang, ada sosok Aipda Windrizal (40), yang datang paling awal ke lokasi bencana dan terjun langsung membantu warga.
Ia merupakan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat atau dikenal dengan Bhabinkamtibmas Surau Gadang.
Sejak Kamis pagi (27/11), air sudah sepinggang, Aipda Windrizal langsung menyisiri lokasi untuk memberikan pertolongan .
Dengan perahu karet bantuan Polisi air dan Udara (Polairud), ia ikut membantu evakuasi lima keluarga yang tidak dapat keluar dari rumah.
Aipda Windrizal juga dengan sabar mengevakuasi warga yang berusia lanjut (lansia), bahkan hingga menggendongnya di punggungnya.
Saat medan sedang tidak bersahabat, penuh lumpur dan jembatan hancur, dengan motor dinasnya ia membawa lansia yang sakit parah ke rumah sakit untuk berobat.
Aipda Windrizal juga tanpa banyak berpikir menerobos banjir untuk membantu warga memindahkan barang mereka ke tempat yang lebih aman.
Sepatu bootsnya juga menjadi saksi, betapa langkahnya penuh hati-hati saat membersihkan lantai rumah warga, sekolah dan masjid yang licin karena lumpur.
Aipda Windrizal juga senantiasa memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi dengan membantu mendistribusikan makanan mulai dari pagi hingga malam.
Sebanyak 1.200 bungkus makanan dibagikan setiap hari pada pagi dan malam hari di posko dan dapur umum bantuan Polda Sumbar di Masjid Al-Hadist Komplek Indah Pratama Surau Gadang.
Di luar itu, Aipda Windrizal juga membuka posko dan mendirikan dapur umum secara swadaya bersama warga Komplek Indah Pratama yang tidak terdampak bencana.
Meski mata sudah tampak merah karena kurang tidur, tetapi semangatnya tetap tak pudur membantu warga dengan sekuat tenaga yang ia punya.
Ia juga aktif berkordinasi dengan berbagai instansi seperti Polda Sumbar dan Polresta Padang sehingga bala bantuan segera berdatangan.
Selain bantuan yang mengucur dari berbagai donatur, Ia juga tidak perhitungan mengeluarkan dana pribadi hingga jutaan rupiah demi bisa membantu warga yang tertimpa musibah.
Sosok Aipda Windrizal memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Kelurahan Surau Gadang dan sekitarnya. Ia sudah dianggap seperti keluarga sendiri, bukan polisi. Melainkan seperti orang tua, mamak, kakak, adik dan saudara sendiri bagi warga.
Meski baru bertugas di wilayah Surau Gadang selama enam bulan, Aipda Windrizal sangat dekat dengan masyarakat sehingga mereka pun tak ragu untuk mengadu.
“Bahkan soal toilet tersumbat pun diadukan warga. Ada juga yang menelpon minta bantuan jam 3 pagi, tetapi tetap saya layani,” ujarnya kepada Haluan, Sabtu (27/12).
Aipda Windrizal memang senang membantu orang. Selain karena panggilan tugas, prinsip tersebut juga merupakan panggilan jiwanya sejak lama.
Prinsipnya tiada hari tanpa membantu orang lain. Ia aktif menghubungi dan menawarkan apa saja yang masih dibutuhkan oleh warga terdampak bencana.
Seperti Yusnidar (68) warga terdampak banjir bandang yang tampak tersenyum mengembang karena dibantu Bhabinkamtibmas Surau Gadang.
“Terima kasih banyak pak bhabinkamtibmas, sudah membelikan magic com baru dan baju koko untuk cucu saya pergi mengaji,” ia berujar sambil tersenyum lebar.
“Apa yang dirasakan warga, itu pula yang saya rasakan,” jawab Aipda Windrizal ketika ditanyakan alasan bagaimana bisa ia seakan tanpa lelah membantu warga yang tengah susah.
Ia menceritakan ketika dulu Asrama Polisi Alai terbakar, ia menjadi salah satu korban. Peristiwa itu membuatnya mengerti bagaimana rasanya kehilangan.
Sejak itu ia juga berjanji kepada dirinya sendiri dengan sepenuh hati dan daya upaya, akan membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan.
Sekarang situasi sudah pulih kembali di Surau Gadang. Sejak 22 Desember lalu, tak ada lagi warga di posko pengungsi, semua sudah pulang ke rumah atau menumpang sementara di rumah saudara.
Tetapi meski begitu, masih ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya. Ia terus memikirkan nasib salah seorang warga yang rumahnya hanyut oleh banjir bandang.
“Kami pasti akan berusaha agar bapak yang rumahnya sudah tidak ada bisa mendapatkan bantuan baik untuk makan dan rumah yang layak nantinya,” janjinya.
Begitu tampak nyata bagaimana Aipda Windrizal sangat peduli terhadap warganya. Beginilah sejatinya aparat negara di negeri ini.
Aipda Windrizal mungkin hanyalah salah satu contoh dari banyak polisi berdedikasi di negeri ini yang bekerja dalam senyap membantu masyarakat.
Pengabdiannya adalah bukti bahwa polisi selaku aparat negara, senantiasa hadir di tengah warga terlebih lagi pada saat bencana melanda.
Di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pihak kepolisian, sosok polisi seperti Aipda Windrizal sejatinya akan kembali meningkatkan citra positif Polri. (h/ita)














