Senin, 5 Januari 2026
harianhaluan.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • UTAMA
  • EkBis
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • AGAM
    • BUKITTINGGI
    • DHARMASRAYA
    • KAB. SOLOK
    • KOTA SOLOK
    • KAB. LIMAPULUH KOTA
    • MENTAWAI
    • PADANG
    • PADANG PANJANG
    • PADANG PARIAMAN
    • PARIAMAN
    • PASAMAN
    • PASAMAN BARAT
    • PAYAKUMBUH
    • PESISIR SELATAN
    • SAWAHLUNTO
    • SIJUNJUNG
    • SOLOK SELATAN
    • TANAH DATAR
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
    • KAMPUS
      • INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
      • POLITEKNIK ATI PADANG
      • POLITEKNIK NEGERI PADANG
    • SASTRA BUDAYA
  • PARIWISATA
  • WEBTORIAL
  • PILKADA SUMBAR
  • INSPIRASI
  • RAGAM
    • PERISTIWA
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • RANAH & RANTAU
      • KABA RANAH
      • KABA RANTAU
    • PRAKIRAAN CUACA
  • UTAMA
  • EkBis
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • AGAM
    • BUKITTINGGI
    • DHARMASRAYA
    • KAB. SOLOK
    • KOTA SOLOK
    • KAB. LIMAPULUH KOTA
    • MENTAWAI
    • PADANG
    • PADANG PANJANG
    • PADANG PARIAMAN
    • PARIAMAN
    • PASAMAN
    • PASAMAN BARAT
    • PAYAKUMBUH
    • PESISIR SELATAN
    • SAWAHLUNTO
    • SIJUNJUNG
    • SOLOK SELATAN
    • TANAH DATAR
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
    • KAMPUS
      • INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
      • POLITEKNIK ATI PADANG
      • POLITEKNIK NEGERI PADANG
    • SASTRA BUDAYA
  • PARIWISATA
  • WEBTORIAL
  • PILKADA SUMBAR
  • INSPIRASI
  • RAGAM
    • PERISTIWA
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • RANAH & RANTAU
      • KABA RANAH
      • KABA RANTAU
    • PRAKIRAAN CUACA
harianhaluan.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • UTAMA
  • EkBis
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • SUMBAR
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
  • PARIWISATA
  • WEBTORIAL
  • PILKADA SUMBAR
  • INSPIRASI
  • RAGAM
HOME OPINI

2025 dan Air yang Tak Pernah Netral, Refleksi Marxian atas Bencana di Sumatera Barat

Editor: Atviarni
Senin, 05/01/2026 | 13:44 WIB
ShareTweetSendShare

Oleh : ElDias (Pemerhati Masalah Sosial)

Tahun 2025, Sumatera Barat kembali basah. Bukan oleh hujan yang membawa kesuburan, melainkan oleh air yang datang berlebihan. Bukan oleh air yang menenangkan, melainkan air yang datang tergesa, melampaui sungai, menembus rumah, dan menyisakan lumpur di ruang-ruang paling personal bagi kehidupan manusia.

Banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lain hadir berulang, seolah menjadi penanda waktu baru musim hujan tak lagi sekadar musim, melainkan peristiwa sosial yang terus menuntut korban. Hujan membuat air meluap dari sungai, merobohkan tebing, menyelinap ke rumah rumah, kantor dan sekolah. Bencana datang lagi, dan seperti biasa, kita terkejut sebentar, lalu perlahan terbiasa.

Padahal, bagi masyarakat Minangkabau, alam bukanlah sesuatu yang asing. Sejak lama, ia hadir dalam petatah-petitih, dalam cara orang membaca tanda-tanda, dalam falsafah alam takambang jadi guru. Namun entah sejak kapan, guru itu berhenti didengar. Alam masih berbicara, tapi kita terlalu sibuk berbicara tentang pembangunan.

Di tengah liputan yang cepat, angka kerugian, dan rutinitas bantuan darurat, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan sungguh-sungguh, mengapa bencana ini terus berulang, dan mengapa ia selalu menemukan korban di tempat yang sama? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Ia menuntut kita melihat lebih dalam pada struktur, relasi kuasa, dan cara kita memandang alam dalam proses pembangunan.

Banjir dan longsor akhir-akhir ini seolah menjadi kalender baru, bukan peristiwa luar biasa, melainkan rutinitas tahunan. Dan di balik setiap rutinitas, selalu ada sistem yang bekerja diam-diam.

Dalam kerangka Marxian, alam tidak pernah berdiri netral. Ia selalu berada dalam relasi dengan cara produksi manusia. Bencana, dengan demikian, bukan semata peristiwa alam, melainkan gejala dari hubungan yang timpang antara manusia, negara, dan lingkungan.

Alam dalam Logika Produksi
Dalam cara pandang pembangunan modern, alam sering kali diperlakukan seperti laporan keuangan. Ia dihitung, dipetakan, lalu diputuskan. Hutan diubah menjadi luasan hektare, sungai menjadi garis biru di peta tata ruang, bukit menjadi zona kuning atau merah, lalu setelah itu, izin berjalan.

Karl Marx pernah menulis bahwa kapitalisme menciptakan metabolic rift retakan metabolik antara manusia dan alam. Dalam logika produksi yang mengejar akumulasi, alam direduksi menjadi sumber daya hutan menjadi kayu, tanah menjadi komoditas, sungai menjadi saluran. Relasi ekologis yang kompleks disederhanakan demi efisiensi ekonomi.

Baca Juga  Memulihkan Peran Keluarga Dalam Krisis Kesehatan dan Sosial

Sumatera Barat, dengan topografi yang rapuh dan kekayaan ekologis yang tinggi, justru sangat rentan terhadap cara pandang semacam ini. Ketika pembangunan infrastruktur, ekspansi permukiman, dan eksploitasi ruang dilakukan tanpa visi ekologis yang kuat, alam tidak diberi ruang untuk “bernapas”. Sungai dipersempit, daerah resapan dikorbankan, dan lereng diperlakukan seolah tanah datar.

Alam dipaksa menyesuaikan diri dengan kepentingan manusia bukan sebaliknya. Maka ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, air tak punya cukup ruang untuk pergi.
Ia pun naik. Banjir lalu datang bukan sebagai anomali, tetapi sebagai koreksi alam yang terlambat kita pahami. Dan kita menyebutnya bencana.

Negara, Kebijakan, dan Ketidakhadiran Visi Lingkungan

Dalam perspektif Marxian, negara tidak berdiri di ruang hampa. Ia bekerja dalam relasi kepentingan sering kali lebih responsif terhadap dorongan pertumbuhan ekonomi jangka pendek ketimbang keberlanjutan jangka panjang. Di sinilah persoalan visi lingkungan menjadi krusial.

Masalah Sumatera Barat hari ini bukan ketiadaan regulasi. Dokumen, rencana tata ruang, dan jargon pembangunan berkelanjutan tersedia. Namun, lingkungan sering kali hadir sebagai catatan kaki, bukan sebagai kerangka utama. Ia dipertimbangkan setelah proyek disepakati, bukan sebelum arah pembangunan ditentukan.

Akibatnya, kebijakan lingkungan menjadi reaktif, bukan strategis. Ia muncul setelah bencana, dalam bentuk normalisasi sungai, relokasi darurat, atau bantuan sosial bukan sebagai upaya pencegahan yang terintegrasi sejak awal.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita sibuk mengeringkan lantai, tapi lupa memperbaiki atap.

Siapa yang Menanggung Risiko?

Marx mengajarkan kita untuk selalu bertanya: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung beban? Dalam konteks bencana, jawabannya nyaris selalu sama. Mereka yang tinggal di bantaran sungai, lereng bukit, dan kawasan rentan adalah kelompok yang paling sedikit berkontribusi pada kerusakan ekologis, tetapi paling besar menanggung dampaknya.

Bencana, dengan demikian, bukan peristiwa yang demokratis. Ia mengikuti garis kelas, akses, dan kekuasaan. Rumah yang hanyut bukan milik mereka yang menandatangani izin. Sawah yang tertimbun bukan milik mereka yang merancang proyek.

Baca Juga  Bagaimana Ketentuan Membayar Zakat Fitrah?

Ketimpangan ini sering disamarkan oleh narasi “musibah bersama”. Padahal, dalam kenyataan sosial, penderitaan tidak pernah dibagi rata.

Budaya Menunggu dan Politik Keterlambatan

Salah satu ciri paling kentara dalam pengelolaan lingkungan kita adalah budaya menunggu. Menunggu banjir besar, menunggu korban jatuh, menunggu viral, lalu bergerak. Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan politik.

Dalam logika pembangunan yang berorientasi pada hasil cepat, pencegahan tidak pernah seksi. Ia tidak menghasilkan peresmian, tidak mudah dipotret, dan tidak langsung terlihat manfaatnya. Maka, visi lingkungan kerap kalah oleh proyek yang lebih “terlihat”.

Padahal, dalam perspektif kritis, keterlambatan ini adalah pilihan. Pilihan untuk mengorbankan masa depan demi kenyamanan hari ini.

Refleksi 2025: Ke Mana Kita Melangkah?

Tahun 2025 seharusnya menjadi momen refleksi kolektif bagi Sumatera Barat. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mengajukan ulang pertanyaan paling mendasar, pembangunan untuk siapa, dan dengan cara apa?

Pendekatan Marxian tidak menawarkan solusi instan, tetapi ia memberi kita kacamata untuk melihat bahwa krisis ekologis adalah krisis sistemik. Ia tidak bisa diselesaikan dengan proyek tambal sulam, melainkan dengan perubahan paradigma: dari eksploitasi ke relasi, dari pertumbuhan ke keberlanjutan, dari reaksi ke pencegahan.

Lingkungan harus berhenti diperlakukan sebagai sektor tambahan. Ia harus menjadi fondasi. Tanpa itu, setiap jembatan, jalan, dan bangunan akan selalu berdiri di atas risiko yang kita ciptakan sendiri.

Penutup: Mendengar Air sebagai Bahasa Zaman

Air yang meluap di Sumatera Barat akhir-akhir ini bukan hanya membawa lumpur dan kerusakan. Ia membawa pesan. Bahwa ada yang keliru dalam cara kita membangun, merencanakan, dan memandang alam.

Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan datang lagi, melainkan apakah kita masih akan terus berpura-pura terkejut ketika ia datang.

Refleksi 2025 ini semestinya menjadi titik balik. Bukan sekadar untuk memperbaiki saluran air, tetapi untuk membenahi cara berpikir. Karena tanpa visi lingkungan yang kuat, pembangunan hanya akan menjadi cara lain untuk menunda bencana berikutnya.
Dan air, seperti sejarah, selalu menemukan jalannya sendiri.**

ShareTweetSendShare

BacaJuga

“Penjarahan” Pascabencana Hidrometeorologi di Sumatera: Membaca Fenomena Sosial Hukum dari Kacamata Sosiologi Hukum

Sabtu, 03/01/2026 | 17:09 WIB

Harapan SMSI Tahun 2026: Podcast Menjadi Institusi Pers

Kamis, 01/01/2026 | 18:54 WIB

Negara, Organisasi, dan Jabatan

Selasa, 30/12/2025 | 16:26 WIB

Tahun 2025 Masih Menyisakan Banyak Pekerjaan

Selasa, 30/12/2025 | 16:02 WIB

Ambisi Sawit Negara di Tanah Papua

Senin, 29/12/2025 | 15:56 WIB

Belajar Mengolah Sampah Melalui Pendekatan Seni

Senin, 29/12/2025 | 08:25 WIB

HALUANePaper

Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

HALUANOPINI

OPINI

2025 dan Air yang Tak Pernah Netral, Refleksi Marxian atas Bencana di Sumatera Barat

Senin, 05/01/2026 | 13:44 WIB

SelengkapnyaDetails

“Penjarahan” Pascabencana Hidrometeorologi di Sumatera: Membaca Fenomena Sosial Hukum dari Kacamata Sosiologi Hukum

Sabtu, 03/01/2026 | 17:09 WIB

Harapan SMSI Tahun 2026: Podcast Menjadi Institusi Pers

Kamis, 01/01/2026 | 18:54 WIB

Negara, Organisasi, dan Jabatan

Selasa, 30/12/2025 | 16:26 WIB

Tahun 2025 Masih Menyisakan Banyak Pekerjaan

Selasa, 30/12/2025 | 16:02 WIB

HALUANTERPOPULER

  • Nenek Saudah Dikeroyok Pekerja Tambang Ilegal, Posko Sumbar Pulih Desak Negara Hadir dan Bongkar Jaringan PETI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolres Pasaman Bezuk Korban Penganiayaan di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Berikan Dukungan Moral

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Semen Padang FC Gagal Kalahkan PSIM pada Laga BRI Super League 2025/2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumatera Barat, Ayo Bangkit Segera

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantu Saudara Serumpun, Kelab Penulis Muda Malaysia Bersama NGO dari 3 Negara Beri Bantuan Untuk Penanganan Banjir di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
harianhaluan.id

Kantor Redaksi dan Bisnis:
Jln. Prof Hamka (Komp. Bandara Tabing - Lanud St. Syarir) - Kota Padang - Sumatera Barat (25171)

  [email protected]

  Redaksi: 08126888210 (Nasrizal)
  Iklan: 081270864370 (Andri Yusran)

Instagram Harianhaluan Post

  • Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) telah melakukan pemetaan terkait kondisi destinasi yang dinilai aman dikunjungi bagi wisatawan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) seiring tengah berlangsungnya penanganan pas-
cabencana di sejumlah daerah di Sumbar.

Selengkapnya di koran Haluan hari ini.
  • Memasuki tahun 2026, perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) dihadapkan pada tantangan berlapis, mulai dari pemulihan pascabencana, tekanan daya beli, hingga ketidakpastian fiskal daerah. Menghadapi tantangan-tangan tersebut, pemerintah daerah (pemda) dinilai perlu mengubah cara pandang dalam
merespons kondisi ekonomi saat ini.

Selengkapnya di koran Haluan hari ini.

Follow Us

  • Indeks Berita
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

HarianHaluan.id © 2025.

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • UTAMA
  • EkBis
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • SUMBAR
    • AGAM
    • BUKITTINGGI
    • DHARMASRAYA
    • KAB. SOLOK
    • KOTA SOLOK
    • KAB. LIMAPULUH KOTA
    • MENTAWAI
    • PADANG
    • PADANG PANJANG
    • PADANG PARIAMAN
    • PARIAMAN
    • PASAMAN
    • PASAMAN BARAT
    • PAYAKUMBUH
    • PESISIR SELATAN
    • SAWAHLUNTO
    • SIJUNJUNG
    • SOLOK SELATAN
    • TANAH DATAR
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
    • KAMPUS
      • INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
      • POLITEKNIK ATI PADANG
      • POLITEKNIK NEGERI PADANG
    • SASTRA BUDAYA
  • PARIWISATA
  • WEBTORIAL
  • PILKADA SUMBAR
  • INSPIRASI
  • RAGAM
    • PERISTIWA
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • RANAH & RANTAU
      • KABA RANAH
      • KABA RANTAU
    • PRAKIRAAN CUACA

HarianHaluan.id © 2025.