Guru dalam model ini berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa meninjau pemahaman mereka secara mandiri maupun berkelompok, dengan sistem pendukung berupa modul ajar, buku siswa dan guru, LKPD, serta video pembelajaran.
Para guru peserta menyambut baik kegiatan ini. Mereka menilai bahwa model yang dikembangkan sangat sesuai dengan tantangan pembelajaran masa kini, yang menuntut siswa untuk tidak hanya memahami konsep secara pasif, tetapi juga aktif mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi dan eksplorasi.
“Saya merasa terbantu dengan model ini. Anak-anak bisa belajar lebih mandiri di rumah, lalu saat di kelas mereka lebih siap berdiskusi dan mengerjakan proyek bersama. Kelas jadi lebih hidup,” ujar Roby Arjuna salah satu guru dari Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.
Selain peningkatan kemampuan berpikir komputasi sebagai dampak instruksional, Ary juga mencatat adanya dampak pengiring seperti meningkatnya keaktifan belajar, kemampuan kolaborasi, kemandirian, serta keterampilan pemecahan masalah pada siswa yang menjadi subjek uji coba model.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Ary berharap bahwa inovasi pembelajaran berbasis riset seperti yang ia kembangkan dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan guru di berbagai daerah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap kualitas pendidikan dasar di Indonesia, khususnya dalam menyambut tantangan pembelajaran abad ke-21. (*)





