EkBis

Kopi Janggut, Eksistensi Kopi Tertua di Solok Selatan

8
×

Kopi Janggut, Eksistensi Kopi Tertua di Solok Selatan

Sebarkan artikel ini

“Dulu aktivitas di pasar sangat ramai di sini. Orang-orang dari luar sering lewat dengan pedatinya. Sehingga warung kopi Pak Jangguik ini selalu ramai orang-orang yang ingin beristirahat dan mengopi,” ujarnya.

Melihat kondisi itu, terbesitlah oleh Pak Jangguik untuk memproduksi tanaman kopi menjadi sebuah usaha bubuk kopi yang bisa dijual di pasar. Dan tepat pada tahun 1930 itu, Pak Jangguik memulai peruntungannya menjual bubuk kopi.

Pak Jangguik memproduksi kopi secara tradisional dengan menggunakan lesung dari batu untuk menumbuk kopi dan juga kincir air untuk penggilingan. Dan setelahnya, Pak Jangguik menjualnya ke Pasar Padang Aro dengan berjalan kaki yang jaraknya mencapai 7 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan.

Baca Juga  Gelar RAT ke 48 Tahun Buku 2024, Aset KSSPN Disdikbud Bukitinggi Meningkat

“Dulu kopi itu dibungkus dengan daun karisiak (daun pisang kering). Pak Jangguik menjajal usahanya dengan berjalan kaki atau menumpang dengan pedati yang lewat untuk sampai ke pasar. Alhamdulillah, dari situlah usaha kopi Pak Jangguik terus berkembang,” ujarnya menjelaskan.

Puncak dari kemajuan usaha bubuk Kopi Janggut itu ketika penjajah Belanda meminta Pak Jangguik untuk mengirim kopinya yang dibungkus langsung dengan kaleng roti dengan skala besar menuju negara Swiss. Dan di situlah usaha kopi yang dibangun Pak Jangguik mulai dinamai dengan Kopi Janggut, karena sering disebut dengan kopinya Pak Jangguik.

Baca Juga  480 Siswa Mustahik Terima Bantuan Pendidikan dari Baznas Sawahlunto

“Pak Jangguik pun meneruskan usaha kopinya dengan serius. Sampai Pak Jangguik meninggal, usaha itu langsung diwariskan kepada anaknya yang bernama Rajiah yang merupakan ibu saya. Dan usaha ini tetap dinamai dengan Kopi Janggut karena sudah mendapatkan nama,” ujar Maiyulis.