PADANG, HARIANHALUAN.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Padang Panjang mencatat sepanjang tahun 2025 terjadi 1.273 kali gempabumi di wilayah Sumatera Barat (Sumbar).
Hal itu dibenarkan Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang BMKG, Suaidi Ahadi yang dihubungi Haluan, Rabu (7/1).
Untuk aktifitas kegempaan didominasi oleh gempa kecil di bawah magnitudo 3 (M<3) dengan 801 kejadian.
“Hal ini menandakan sistem tektonik yang terus aktif,” ujarnya.
Kemudian gempa menengah dengan magnitudo diatas 3 sampai 3,5 (3< M<5) tercatat terjadi 460 kali.
Sementara gempabumi kuat magnitudo 5 (M>5) relatif jarang, hanya 12 kejadian.
“Berdasarkan kedalaman sumber gempa, sebanyak 696 gempa merupakan gempa dangkal (h<60), 72 gempa merupakan gempa menengah (60300) dan hanya 2 (dua) gempa merupakan gempa dengan kedalaman lebih dari 300 Km,” rinci BMKG.
Bulan Desember 2025 paling sering merasakan gempa, salah satunya yang menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa rumah warga di kabupaten Agam, Sumbar.
Terakhir disebutkan, 1.273 kali gempabumi sepanjang tahun 2025 di wilayah Sumbar, mencerminkan dinamika tektonik yang terus aktif di zona subduksi dan sesar Sumatera.
“Tetap waspada, karena kesiapsiagaan dimulai dari informasi yang benar. Ikuti terus akun resmi kami untuk mendapatkan informasi terpercaya seputar BMKG di wilayah Sumbar,” tuturnya.
Secara geologis, Sumatera Barat adalah “dapur gempa” karena berada di zona pertemuan dua lempeng tektonik aktif.
Tak cuma sesar di darat, zona subduksi di lepas pantai barat Sumatera juga berperan dalam memicu gempa besar dan bahkan tsunami, seperti yang terjadi di tahun 2009 dan sebelumnya pada 2004 di Aceh.
Ia menambahkan Provinsi Sumbar dilalui oleh lima segmen yaitu Barumun, Angkola, Sianok, Sumani dan Suliti dengan potensi ancaman gempa magnitudo 6 hingga 7,4.
“Kita juga hidup dalam zona tektonik aktif yakni zona Subduksi, Megathrust dan zona Patahan Sumatera,” katanya.
Berdasarkan kajian BMKG masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir pantai barat Sumatera seperti Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan hingga Kabupaten Kepulauan Mentawai, ancaman terbesar yang mesti dimitigasi ialah patahan Megathrust.
“Aktivitas tektonik ini diperkirakan bisa menciptakan gempa magnitudo 8,9 yang disertai gelombang tsunami,” tuturnya.
Sementara, untuk masyarakat di Kota Padang Panjang, Kabupaten Pasaman, Kota Bukittinggi, Kabupaten Solok, Kota Solok dan Kabupaten Solok Selatan dan sekitarnya potensi yang wajib diwaspadai ialah gempa-gempa kembar seperti yang terjadi pada tahun 1926, 1943 dan 2007 akibat aktivitas Sumatera Fault System atau Patahan Semangko.
“Artinya, masyarakat wajib tahu potensi bencana ini dan pemerintah berkewajiban mendampingi dengan cara mensosialisasikan dan membangun kapasitas kesiapan mitigasi masyarakat,” kata Suaidi.
BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan persiapan mitigasi kepada masyarakat salah satunya membangun desa tangguh bencana atau Destana.
BMKG bersama pihak terkait lainnya juga menguatkan kapasitas masyarakat pesisir lewat program masyarakat siaga tsunami. Program ini sendiri mengacu pada agenda besar United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) dalam memitigasi dampak bencana alam terutama gelombang tsunami.
Sebelumnya, pakar gempa yang juga akademisi di Unand, Badrul Mustafa Kemal mengatakan ada dua megatrust yang harus diwaspadai di Indonesia.
“Yaitu Megatrust Mentawai Segmen Siberut dan Megatrust Jawa Barat Banten yang sudah lama juga tidak terjadi gempa besar disitu,” jelasnya.
Belajar dari Masyarakat Simeulue Aceh
Terkait Megatrust Mentawai, sejak gempa Aceh sudah diingatkan, bahkan sempat viral kembali beberapa waktu lalu. Tapi ketika kemarin diingatkan kembali, sebagian orang terkaget-kaget. Orang yang terkaget-kaget ini, sambungnya boleh jadi belum mendapatkan informasi sebelum ini atau sudah tau tapi kemudian lupa.
Jadi mengenai hal ini, maka kita harus ingat bahwa bencana dengan adanya potensi ini, timbul dari interaksi beberapa faktor.
Pertama kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya atau hazard apakah gempa, tsunami, erupsi gunung api.
“Kita harus belajar dari masyarakat Simeulue Aceh. Ketika gempa besar terjadi tanggal 26 Desember 2024 yang episentrumnya dekat sekali dengan Simeulue, tapi masyarakat Simeulue yang jumlahnya kurang lebih 70 ribu jiwa, itu bisa dikatakan selamat,” ucapnya.
Jadi masyarakat Simeulue sudah paham dengan karakteristik tsunami. Ketika gempa kuat sudah terjadi pagi itu, maka seluruh masyarakat kan Simeulue langsung mencari tempat yang tinggi.
Manfaatkan Golden Time 20 Menit
Masyarakat Simeulue, sambung Badrul sadar golden time nya sangat pendek (20 menit waktu evakuasi). Dengan waktu yang singkat itu mereka bisa melakukan evakuasi mandiri.
Sementara saudara-saudara mereka di daratan Aceh yang golden time nya lebih lama justru tidak selamat.
“Pada saat itu, masyarakat Aceh di daratan belum memahami karakteristik gempa dan tsunami. Itu salah satu faktor,” jelas Badrul.
Kemudian faktor lain sikap dan perilaku yang menyebabkan penurunan kualitas sumber Daya Alam dengan kata lain fullnerabillity (kerentanan). Kemudian kurangnya informasi atau peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan.
Untuk Kota Padang dan Pemprov Sumbar secara umum sudah berusaha meningkatkan Early Warning System ini. Dimana setiap tanggal 26 dilakukan reaktivasi sirine dan persiapan lainnya juga dilakukan.
“Untuk Kota Padang sudah lumayan. Hendaknya Kota dan Kab lain, atau setidaknya 7 Kab/Kota lainnya di Pesisir yang berpotensi terdampak tsunami harus meningkatkan kewaspadaan,” ucap Badrul.
Masyarakat harus melakukan mitigasi prabencana sebaik-baiknya.
“Masyarakat tidak perlu takut. Karena kita dapat belajar, bahwa meskipun golden time nya pendek, mereka bisa selamat. Kecuali Mentawai sendiri,” tuturnya.
Untuk Kota dan Kab di Sumbar mulai dari Pasaman Barat, Agam, Kab. Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, Kab. Pesisir Selatan, dengan Golden time sekitar 20 menit, itu tentu tidak perlu takut.
Masyarakat Mentawai sendiri perlu belajar dari Simeulue. Apalagi yang berada di daratan Sumatra. Yang penting harus selamat dulu dari gempa. Pada umumnya tsunami disebabkan gempa tektonik yang episentrum nya di dasar laut.
“Selamat dulu dari gempa, periksa bangunan kita, harus memenuhi standar. Kalau kurang kuat harus dilakukan penguatan. Kemudian kalau terjadi tsunami, warga di zona merah periksa lagi apakah sudah memiliki ransel sibat (Siaga Bencana Darurat), periksa lagi apakah isinya sudah lengkap atau tidak. Itu hal penting yang harus dilakukan,” kata Badrul.
Dengan adanya gempa tadi dan lima hari lalu, bisa jadi itu pertanda gempa pendahuluan (foreshock) tapi tidak harus. Tapi kalau terjadi berdekatan misal 10 atau lebih gempa, itu perlu dikhawatirkan.
“Kalau misalnya tidak terjadi lagi, kita bisa tenang. Tentu harus tetap siap siaga dan siap selamat. Kenapa kita harus selalu siaga, karena bencana sering terjadi ketika kita lengah dan lupa. Supaya bencana tidak terjadi kita tidak boleh lengah dan lupa. Mudah-mudahan energi keluar dalam gempa kecil yang sangat banyak,” ucapnya. (h/yes)





