PADANG

Kemarau Hantui Ribuan Hektare Sawah di Padang

17
×

Kemarau Hantui Ribuan Hektare Sawah di Padang

Sebarkan artikel ini
1. Salah satu lahan sawah di daerah Kuranji yang menunggu masa panen. NURFATIMAH

PADANG, HARIANHALUAN.ID  — Sebanyak 3.149 hektare sawah di Kota Padang terancam tidak dapat digarap pascapanen apabila kerusakan bendungan irigasi utama tidak segera diperbaiki, terlebih jika kondisi tersebut diperparah oleh musim kemarau.

Ancaman ini mencakup sebagian besar dari total 4.358 hektare sawah yang ada di Kota Padang dan berpotensi memicu gagal tanam pada musim berikutnya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menyebutkan bahwa hingga kini dua bendungan irigasi utama, yakni Gunung Nago dan Koto Tuo masih dalam kondisi rusak berat akibat bencana. Selain itu, sejumlah Daerah Irigasi (DI) seperti Limau Manih, Lubuk Minturun, Sungai Latuang, dan Batu Busuak juga belum pulih sepenuhnya.

“Sekitar 3.149 hektare sawah akan terdampak setelah panen nanti karena tidak ada pasokan air irigasi. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, apalagi bendungan masih rusak dan kita juga harus bersiap menghadapi kemungkinan musim kemarau,” ujarnya kepada Haluan, Kamis (8/1).

Yoice menjelaskan, meskipun demikian kondisi pertanaman saat ini masih relatif aman karena ditanam sebelum bencana terjadi. Tanaman padi yang sedang berada di fase produksi masih dapat bertahan dengan mengandalkan curah hujan, meskipun suplai air dari bendungan belum pulih sepenuhnya.

Baca Juga  Jaga Keamanan dan Kenyamanan saat Lebaran, Tim Gabungan di Kota Padang Lakukan Pengamanan

“Untuk tanaman yang sekarang di lapangan masih produktif karena ditanam sebelum bencana dan masih mendapat air hujan. Namun, setelah panen nanti, kita khawatir petani akan kesulitan menanam kembali akibat irigasi yang belum menemukan titik terang,” ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi, sambungnya, Dinas Pertanian Kota Padang telah menyalurkan bantuan bagi kelompok tani yang mengalami puso atau gagal panen padi. Bantuan tersebut berupa benih sayuran dan pupuk guna mendorong alih komoditi dari padi ke tanaman hortikultura.

Benih yang disalurkan meliputi cabai, bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang, pare, dan terong. Berdasarkan hasil Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), tercatat 11 kelompok tani menyatakan kesediaannya untuk mengganti komoditas padi menjadi sayuran sepanjang tahun 2025.

“Alih komoditi ini menjadi solusi sementara agar lahan tetap produktif meskipun tidak terairi. Mudah-mudahan pada tahun 2026 nanti Kota Padang bisa difasilitasi benih sayuran dan pupuk dari Kementerian Pertanian, sehingga sawah yang tidak mendapatkan air irigasi bisa dimanfaatkan untuk sayuran atau jagung pakan ternak,” kata Yoice.

Baca Juga  Youth Centre Padang, Tempat Kreativitas Baru Generasi Milenial Hasil Kerja Nyata Hendri Septa

Di sisi lain, upaya perbaikan irigasi terus dilakukan secara bertahap. Dinas PUPR Kota Padang telah melakukan pengangkatan sedimen di sejumlah saluran irigasi, terutama pada titik-titik dengan sedimentasi tebal. Sementara itu, untuk saluran dengan sedimen dangkal, pembersihan dilakukan melalui gotong royong oleh kelompok tani.

“Agar sawah tidak kekeringan, sejumlah kelompok tani melakukan gotong royong membersihkan saluran irigasi, sehingga aliran air tetap bisa masuk ke sawah,” tuturnya.

Adapun wilayah yang dinilai masih relatif aman dari dampak kerusakan irigasi berada di Kecamatan Lubuk Begalung dan Bungus. Meski demikian, Yoice mengakui bahwa saat bencana terjadi, tiga kelurahan di Lubuk Begalung juga sempat terdampak. Dengan kondisi bendungan yang belum pulih dan ancaman kemarau di depan mata, Kadis Pertanian Kota Padang itu menegaskan pentingnya percepatan perbaikan infrastruktur irigasi agar keberlanjutan produksi pangan dan ketahanan ekonomi petani di Kota Padang tetap terjaga. (*)