Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
OPINI

“Desainer vs Prompt Engineer: Pergeseran Peran DKV di Era Gen-AI Tahun 2026”

28
×

“Desainer vs Prompt Engineer: Pergeseran Peran DKV di Era Gen-AI Tahun 2026”

Sebarkan artikel ini

Menghadapi anomali industri yang semakin mengancam lulusan pendidikan dunia dkv ini, Transformasi Pendidikan seharusnya mampu mencetak Pujangga Visual Bukan sekedar Tukang Gambar.

Institusi pendidikan DKV kini berdiri di persimpangan jalan yang menentukan. Pendidikan desain tidak lagi bisa hanya terpaku pada pengajaran alat (tools), karena alat-alat tersebut kini bisa dikuasai oleh siapa saja dalam semalam. Dunia akademik harus berani menyatukan kurikulum dari sekadar melatih ketangkasan tangan, menuju pengasahan daya kritis intelektual.

Kesimpulannya, eksistensi desainer komunikasi visual di era AI tidak akan punah, namun ia akan mengalami “reinkarnasi” peran.

Desainer komunikasi visual masa depan adalah mereka yang mampu menguasai Semiotika Digital dan Etika Visual. AI mungkin bisa menggambar segalanya, tapi ia tidak tahu mengapa ia menggambar hal tersebut.

Baca Juga  Membedah Sawah Pokok Murah

Inilah celah di mana manusia tetap menjadi pemegang kendali utama sebagai pemberi makna, penentu konteks, dan penjaga empati yang tidak dimiliki oleh baris kode manapun. Sebagai saran bagi dunia pendidikan DKV, setidaknya ada tiga pilar utama yang harus segera diperkuat.

Pertama Literasi AI dan Etika Kreatif, dimana mahasiswa harus diajarkan cara berkolaborasi dengan AI secara taktis, sekaligus dibekali pemahaman mendalam mengenai hak cipta dan batasan moral dalam penggunaan konten generatif.

Kedua, Penguatan Narasi dan Semiotika, karena eksekusi visual sudah diambil alih mesin, maka kemampuan membangun cerita (storytelling) dan pemahaman makna di balik simbol menjadi “senjata pamungkas” desainer untuk membedakan diri dari hasil generik AI.

Baca Juga  Guru sebagai “Agen Sosialisasi Emosi” pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Dan terakhir Desain Berbasis Empati, pendidikan harus memfokuskan pada aspek kemanusiaan yang kompleks. Memahami psikologi audiens dan masalah sosial yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan algoritma.

Pada akhirnya, tantangan bagi para akademisi dan mahasiswa DKV bukan lagi tentang bagaimana cara mengalahkan mesin, melainkan bagaimana cara tetap menjadi “lebih manusia” di dunia yang semakin terotomatisasi.

Jika pendidikan berhasil mencetak desainer yang mampu berpikir lebih dalam daripada sekadar perintah prompt, maka profesi ini tidak hanya akan bertahan, tetapi akan memimpin peradaban visual yang baru. (*)