Oleh: Effendi Mukhtar (Hakim Yustisial BSDK Mahkamah Agung RI)
Manangih bapisah batang nan jo ureknyo
Rantiang jo daun indak badayo, indak badayo
Taragak mandanga kicau si buruang murai
Lah tabang jauah mambaok untuang, iyolah sansai
Usah tabang sumbarang tabang
Jikok lai takuik datang galodo
Urang kampuang, sawah jo ladang
Nan taniayo
Danga pasan unggeh jo buruang
Tolonglah kami nan lamah nangko
Rimbo tampek kami balinduang
Jan ditabang juo
(Menangis pohon berpisah dengan akarnya
Ranting dan daun yang tak berdaya, tidak berdaya
Kepingin mendengar kicauan si burung murai
Sudah terbang jauh membawa nasibnya, yang menderita
Jangan tebang pohon sesukamu
Kalau gak takut datang galodo ( banjir bandang )
Warga desa serta sawah dan ladang, yang akan teraniaya
Dengarlah pesan unggas dan burung
“Tolonglah kami makhluk yang lemah ini “
Hutan ( Pohon ) tempat kami berlindung
Janganlah ditebang juga)
Seorang Penyanyi Legendaris Minang Tiar Ramon (alm) pernah menyanyikan sebuah lagu Pasan Buruang (Pesan Burung) sekitar 35 tahun yang lalu. Bila kita telisik syairnya, terasa sangat relevan dengan kejadian saat ini yang menimpa saudara kita di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di kampung halaman penyanyi itu sendiri, yaitu terjadinya banjir bandang yang menurut ahli lingkungan hidup, disebabkan oleh penggundulan hutan karena ditebang untuk diambil kayunya untuk kepentingan sesaat segelintir oknum pengusaha atau penguasa. Tanpa memikirkan dampaknya bagi rakyat berupa penderitaan seperti yang yang kita saksikan di televisi, baik harta benda dan nyawa anak-anak tak berdosa, orang tua dan kaum wanita yang sangat menyesakkan dada.
Layar televisi memperlihatkan desa-desa yang terisolasi, tanah longsor menelan rumah dan warga yang menangis kehilangan keluarga. Reporter menjelaskan cuaca buruk yang sebenarnya telah diprediksi, tapi tak diantisipasi dengan baik. Hutan gundul dan bukit yang kehilangan akar penahan membuat tanah tak lagi mampu menahan air hujan. Sebagian wilayah gunung dan hutan telah berubah menjadi resort dan tempat wisata. Perkebunan kelapa sawit membentang luas, meninggalkan sedikit sekali ruang bagi alam untuk bernafas. Hanya sebagian kecil lahan yang masih dipertahankan sebagai sawah dan kebun, selebihnya rusak oleh keserakahan. Dada sungguh terasa sesak melihat anak-anak di layar televisi, wajah mereka kotor oleh lumpur debu dan air mata. Televisi terus menayangkan penderitaan, tetapi ada sebagian anak bangsa yang sangat care dengan penderitaan masyarakat telah mengambil keputusan. Diantara kepedihan dan kemarahan, masih ada pilihan untuk bertindak. Tidak semua dosa bisa ditebus, tetapi membantu sesama selalu menjadi jalan yang tak pernah salah.
Viralnya kondisi lapangan yang belum ditembus BPBD, ditambah birokrasi bantuan pusat yang rumit dan lamban, membuat sebagian anak muda tidak bisa menunggu. Banyak laporan menyebutkan desa-desa terisolasi, akses darat putus, sinyal hilang. Menunggu berarti membiarkan orang kelaparan, kedinginan atau terluka tanpa pertolongan. Di lokasi bencana pemandangan yang menyambut begitu memilukan. Warga saling bahu membahu mencari anggota keluarga di antara lumpur dan puing. Sebagian lagi bertahan di pengungsian darurat yang hanya beratapkan terpal tipis.
Ketika suara helikopter terdengar dari kejauhan, banyak yang mengira hanya bayangan harapan. Namun saat suara itu semakin dekat. Angin kencang dari baling-baling pesawat menyapu tanah basah. Helikopter berhenti melayang di atas lapangan sempit yang tersisa. Beberapa orang membawa tas besar di punggung, wajah mereka tertutup masker, mata fokus dan sigap.Tangis pecah dimana-mana, ada yang berlutut, ada yang bersujud. Rasa syukur bercampur lega tumpah tanpa kendali.Tenda-tenda darurat dipasang di area yang relatif aman. Pakaian layak pakai yang dikumpulkan secara kilat dibagikan satu persatu. Anak-anak mendapat jaket hangat, perempuan diberi selimut.
Gunung adalah tiang atau pasak, itu ada dalam Al Quran. Jika gunung dirusak, lantas tanahnya longsor, maka tanahnya akan semakin tipis. Lalu bagaimana dia akan menahan air hujan bahkan gejolak magma di dalamnya. Sudah seharusnya gunung dan hutan dikembalikan ke fungsinya, jangan lagi ada resort di atasnya. Cukup jadikan gunung sebagai pemandangan, tempat untuk bertualang atau mendaki dan itu sangat indah. Sawit sebaiknya ditanam di dataran rendah karena sawit akarnya tidak mampu menahan air hujan atau menyimpannya di dalam tanah karena lihatlah berkali-kali ketika musim kemarau, masyarakat kekurangan air, kekeringan melanda dimana-mana.
Dengan perkebunan sawit, pundi-pundi uang mungkin meningkat, tapi tidak ada air sebagai sumber kehidupan, tidak ada gunanya. Apakah kita akan menyuling air laut jadi air tepat guna sementara biayanya sangat mahal? Kenapa kita tidak memanfaatkan anugerah dari Allah secara tepat dan bijak bahkan tanpa harus mahal? Cukup dengan menjaga hutan dan pepohonan. Cukup sesederhana itu bukan?
Setelah musibah ini mudah-mudahan akan tumbuh kesadaran di hati penguasa dan masyarakat bahwa bukit dan pegunungan bukan sekedar latar pemandangan, melainkan penyangga kehidupan. Rakyat harus diberi penyuluhan dengan bahasa yang sederhana, menjelaskan fungsi akar dan tanah dengan cara yang mudah dipahami.
Selama ini orang zaman dulu selalu menjadikan pohon beringin sebagai pohon keramat. Karena mungkin mereka merasa aneh, dari pohon keluar air yang sangat jernih dan bersih, termasuk ketika kemarau panjang. Lalu mereka mengira karena leluhur atau roh leluhur yang bersemayam di pohon itu, padahal memang pohon-pohon seperti ini yang menyimpan air hujan dan ketika kekeringan, mereka keluar perlahan dari dalam tanah. Kearifan lama seringkali lahir dari pengamatan panjang dan bukan dari mitos kosong. Alam memberi tanda, manusia hanya perlu belajar membacanya.
Kekayaan bisa menipu. Membuat manusia merasa aman, seolah hidup tak akan berakhir. Padahal, justru disitulah jarak dengan Tuhan mulai tercipta. Memiliki harta tapi tetap membumi membuat langkah terasa lebih ringan. Tidak ada keinginan menaklukkan segalanya, termasuk alam. Yang ada hanyalah hasrat untuk memberi manfaat. Inilah hidup yang selama ini dicari, hidup yang tak sekadar berjalan, tetapi memiliki makna. Tetapi tujuan tetap searah. Membangun, menjaga dan menghidupkan kembali. Tidak hanya tanah yang dipulihkan, tetapi juga nilai, iman dan kesadaran bahwa kehidupan tidak pernah semata tentang memiliki, melainkan tentang merawat.
Layar televisi kembali menampilkan pemandangan yang membuat dada semakin sesak. Tanah bergeser seperti adonan basah. Sungai berubah jalur. Bekas rumah hanya menyisakan atap atau potongan dinding. Banyak luka dibersihkan. Banyak napas diselamatkan dan terlalu banyak air mata ditumpahkan.
Alam harus tetap dengan karakteristiknya. Dia bukit, ya untuk pepohonan. Jika terlalu banyak rumah atau ladang, malah jadi gembur tanahnya yang pada saatnya nanti di musim hujan tidak akan sanggup menahan air sehingga banjir bandang pasti akan terjadi.
Penguasa kadang tidak arif, betapa banyak para ahli menerangkan bahwa pohon sawit yang luasnya jutaan hektar, hijau tapi itu bukan reboisasi. Kekuatan akarnya untuk menahan air tidaklah sama dengan pohon-pohon yang digunduli dan kemudian ditanami sawit. Tidak mendengar masukan dari orang-orang pintar di sekelilingnya. Apakah pesan itu tidak sampai kepadanya , disebabkan hanya terhenti diantara staf Presiden atau dikondisikan oleh oknum para pengusaha hitam yang hanya memikirkan kepentingan ekonomi bagi segelintir orang tanpa memikirkan bagaimana akibatnya nanti bagi masyarakat.
Presiden sudah cukup berbuat banyak. Apakah tidak ada yang mengingatkan bahwa jutaan hektar perusahaan sawit milik beliau di Aceh dan beberapa bagian di pelosok Nusantara, suatu saat nanti menjadi cikal bakal kerusakan seperti sekarang. Beliau berpidato sanggup mati untuk rakyat dan mohon dibantu untuk berbuat dengan tulus untuk Indonesia Maju, tapi sanggupkah beliau menyumbangkan perusaahaan yang dimilikinya untuk memberi kesejahteraan seluruh rakyat dan mengembalikannya agar ditanam pohon-pohon yang akarnya kuat sehingga alam terjaga? Kita yakin bila itu dilakukan, maka pengusaha di sekitar beliau menjadi malu dan tergerak hatinya dan sadar bahwa sebenarnya pohon sawit tidaklah sama dengan pohon-pohon yang hanyut dibawa gelombang arus banjir bandang yang nampak nyata di televisi ada stempel-stempel kehutanan dan terpotong rapi dan bukan lapuk dan bukan karena jamur. Rakyat bukan bodoh dan jangan diperbodoh lagi dengan jargon-jargon yang memelintir kebenaran dengan berbagai alasan.
Jauh di alam keabadiannya, Tiar Ramon mungkin menangis dan menyesali bahwa nyanyi yang dibawakannya, memang terjadi di alam nyata. Sayup-sayup dari radio terdengar nyanyian Tiar Ramon mengagetkan lamunan bahwa ini nyata adanya…….betapa burung merintih tak berdaya. Rimbo tampek kami balinduang, jan ditabang juo… Wallahu a`lam bi shawab. (*)




