UTAMA

Polri Sorot Keberadaan Tambang Ilegal di Sumbar : Kasus Nenek Saudah Hanya “Puncak Gunung Es”

5
×

Polri Sorot Keberadaan Tambang Ilegal di Sumbar : Kasus Nenek Saudah Hanya “Puncak Gunung Es”

Sebarkan artikel ini
Saudah, korban penganiayaan

Ia menjelaskan, penanganan kasus tambang ilegal akan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan polda maupun polres setempat. “(Penanganan) bisa gabungan (polda dan polres setempat). Tim kami sudah di sana, koordinasi dengan polda dan polres setempat tentunya,” ujar Irhamni.

Terkait kemungkinan keterlibatan korporasi besar dalam praktik tambang ilegal di Sumbar, Irhamni menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. “Kami sedang melakukan penyelidikan. Belum tentu. Bisa iya, bisa tidak,” ucap Irhamni.

Belum Ada Tindakan Serius

Terpisah, Kepala Departemen Advokasi Lingkungan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar, Tommy Adam menyatakan, temuan Walhi Sumbar menunjukkan bahwa lokasi penganiayaan Nenek Saudah berada dalam radius sangat dekat dengan kawasan tambang emas ilegal (PETI) yang telah lama beroperasi tanpa penindakan serius.

“Bahkan jarak Mapolsek Rao hanya sekitar 2 kilometer dari titik aktivitas tambang emas ilegal tersebut, sehingga klaim bahwa peristiwa kekerasan ini tidak berkaitan dengan tambang adalah tidak berdasar dan menyesatkan,” ujar Tommy dalam keterangan tertulis, Senin (12/1).

Baca Juga  Ratusan Anggota IMI dan HIPMI Gelar Touring Charity dalam Rangka Satu Dekade Kopmil Ijo Payakumbuh

Ia menyebut, pola intimidasi, kekerasan, serta pembiaran hukum yang selama ini menyertai konflik tambang ilegal di wilayah tersebut, pada akhirnya telah menempatkan warga, terutama kelompok rentan, sebagai korban. Hal ini sekaligus mencerminkan absennya negara dalam melindungi keselamatan rakyat dan menegakkan hukum atas kejahatan lingkungan dan kemanusiaan yang terjadi secara terang-benderang.

Tommy mengatakan, berdasarkan temuan Walhi Sumbar dari survei lapangan serta analisis citra satelit diketahui terjadi kerusakan lahan yang sangat masif dan terbuka yang diakibatkan oleh aktivitas PETI di Sungai Sibinail yang juga merupakan Hulu DAS Rokan.

Berdasarkan analisis citra satelit resolusi tinggi (Google Earth/Airbus) tanggal 1 November 2025, Walhi Sumbar menemukan aktivitas bukaan PETI berskala besar di Nagari Padang Matinggi (Matinggi), Kecamatan Rao, tepat di sepanjang Sungai Sibinail yang merupakan bagian dari hulu DAS Rokan.

Baca Juga  Semua Daerah di Sumbar Diminta Siaga Karhutla

“Sungai Sibinail berhulu di wilayah Muara Sipongi/Mandailing, airnya kemudian bertemu dengan sungai Rao di Utara dan Sungai Panti di selatan dan bergabung menjadi Batang Sumpur yang airnya mengarah ke Provinsi Riau,” tuturnya.

Selain itu, Walhi Sumbar juga menemukan bukaan lahan masif dengan warna coklat–abu terang (pada citra Satelit) yang tidak beraturan, khas aktivitas pengerukan tanah tambang terbuka (open pit/alluvial mining). Kemudian, puluhan kolam genangan bekas galian tambang dengan warna hijau keruh hingga kuning kecoklatan, yang mengindikasikan lubang tambang aktif maupun pascagalian.

Citra satelit juga memperlihatkan alur sungai yang berubah warna menjadi kuning kecoklatan, dengan pola pengerukan memanjang mengikuti badan sungai dan anak-anak alirannya. “Pola ini merupakan ciri khas tambang emas aluvial yang memanfaatkan sungai sebagai media pencucian material tambang,” ucapnya.