Laporan: Okis Mardiansyah (Wartawan Haluan Pesisir Selatan)
Pagi itu, di Kampung Ngalau Gadang, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, tak lagi dimulai dengan deru sepeda motor yang melintas menuju sekolah. Sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang pada 27 November 2025 lalu, suara yang terdengar justru langkah kaki para guru dan siswa yang menapak pelan di jalan berlumpur, licin, dan menanjak.
Setengah perjalanan menuju sekolah, kendaraan tak lagi bisa digunakan. Para guru terpaksa memarkir sepeda motor mereka jauh sebelum sekolah, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer. Waktu tempuh yang biasanya singkat, kini berubah menjadi perjuangan setengah jam, bahkan lebih.
“Kami para guru pergi ke sekolah setengah perjalanan harus jalan kaki. Tidak bisa pakai motor karena kondisi jalan pascabencana tidak memungkinkan,” tutur Yulia Eka Putri, guru SD 07 Ngalau Gadang, kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Ia bercerita tentang perjalanan yang dimulai dari titik longsor pertama di perbatasan Ngalau Gadang, tepatnya di sekitar Jembatan Lubuak Pagu. Dari sana hingga ke sekolah, para guru dan siswa harus melewati jalan berlumpur dengan medan menanjak. Belum lagi longsor kedua yang berada di Kampung Balai, Nagari Ngalau Gadang, yang menambah panjang dan beratnya perjalanan.
Sejumlah murid dan guru bahkan harus berjalan kaki sejak dari rumah mereka, karena tempat tinggal berada sebelum titik longsor. Memaksakan diri menggunakan sepeda motor dinilai terlalu berisiko.
“Kalau dipaksakan naik motor, takut jatuh. Jalannya licin, berlumpur, dan sempit,” ucap Yulia.
Sebelum bencana terjadi, kata dia, perjalanan menuju sekolah adalah hal yang biasa. Dari Kampung Limau-limau, Yulia mengaku bisa berangkat tepat waktu, kurang pukul 08.00 WIB, ia sudah tiba di sekolah. Kini, dengan berjalan kaki, ia baru sampai di sekolah sekitar pukul 08.30 WIB.
“Selain licin, jalannya juga banyak tanjakan. Kami sebagian guru sudah banyak yang tua-tua, jadi tidak bisa berjalan cepat,” katanya.
Namun kelelahan itu tak memadamkan semangat mereka. Di tengah keterisolasian, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan. Guru-guru dengan penuh tanggung jawab mengawal siswa mereka menembus lumpur dan longsor, demi memastikan pendidikan anak-anak di kampung terujung Pesisir Selatan itu tidak terhenti.
SD 07 Ngalau Gadang saat ini memiliki 12 orang guru. Jumlah itu berkurang satu orang setelah kepala sekolah memasuki masa pensiun. Dari total 58 siswa, hanya 50 anak yang masih bisa mengikuti pembelajaran di sekolah. Delapan siswa lainnya terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih aman dan sementara menumpang belajar di sekolah terdekat dari lokasi pengungsian.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Ngalau Gadang tak hanya merusak akses jalan. Sebanyak 13 unit rumah hanyut dan tertimbun tanah longsor, satu unit pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) hancur, dan 168 kepala keluarga atau sekitar 670 jiwa terisolasi. Hingga satu setengah bulan pascabencana, akses pendidikan dan perekonomian masyarakat masih lumpuh.
Di kampung itu hanya terdapat satu unit TK/PAUD dan satu unit SD. Sementara siswa SMP, MTs, MA, hingga SMA harus bersekolah ke luar Ngalau Gadang, sebuah perjalanan yang kini nyaris mustahil dilakukan secara normal.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Novermal. Ia menyebut apa yang dilakukan para guru dan siswa di Ngalau Gadang adalah potret keteguhan dan pengorbanan luar biasa.
“Apa yang dilakukan guru dan siswa di Ngalau Gadang adalah teladan. Mereka tidak menyerah pada keadaan. Ini bukti bahwa semangat pendidikan di kampung-kampung kita masih sangat kuat, meski dihadapkan pada keterbatasan akses dan infrastruktur,” ujar Novermal.
Novermal menyebut, keteguhan itu harus diimbangi dengan kehadiran negara. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah daerah bergerak lebih cepat untuk memulihkan akses dasar masyarakat.
“Sudah 1,5 bulan akses pendidikan dan ekonomi lumpuh. Jembatan harus segera dibangun kembali, longsoran dibersihkan dengan alat berat, dan PLTMH dipulihkan. Jangan biarkan perjuangan guru dan siswa ini berjalan sendiri,” ucapnya lagi.
Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan terus berupaya membuka isolasi Ngalau Gadang. Dari rapat lintas sektoral yang dipimpin Sekretaris Daerah Pessel, Zainal Arifin, disepakati pemasangan gorong-gorong plat baja Aramco sebagai pengganti sementara jembatan yang putus, serta pengerahan alat berat untuk membersihkan longsoran di badan jalan. Targetnya, sebelum Lebaran akses Ngalau Gadang sudah kembali terbuka.
Sementara itu, harapan sederhana terus dipanjatkan para guru dan siswa SD 07 Ngalau Gadang. Mereka ingin kembali berangkat ke sekolah tanpa harus berjalan kaki menembus lumpur dan longsor.
“Kami berharap ada perhatian cepat dari pemerintah daerah, provinsi, dan pusat, supaya akses jalan bisa segera dilewati. Biar kami bisa mengajar dan anak-anak bisa sekolah dengan aman,” ujar Yulia.
Di tengah lumpur, tanjakan, dan jalan yang terputus, langkah-langkah kecil para guru dan siswa Ngalau Gadang terus bergerak. Mereka membuktikan bahwa bencana boleh merusak jalan, tetapi tidak mampu memutus tekad untuk menjaga masa depan melalui pendidikan. Semoga para pemangku kebijakan tidak lengah (*)





