JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Rabu, 14 Januari 2026. Upaya terpadu lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat terdampak sekaligus mempercepat transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal.
Dalam perkembangan terkini, jumlah korban jiwa kembali bertambah satu orang setelah tim gabungan menemukan satu korban meninggal dunia di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Dengan penemuan tersebut, total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.190 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 141 orang. Jumlah penduduk terdampak yang masih berada di lokasi pengungsian tercatat sebanyak 131.521 jiwa.
Seiring dengan membaiknya kondisi lapangan, jumlah pengungsi menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Sebanyak 64.021 jiwa telah kembali ke rumah atau ke lingkungan asalnya, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang. Penurunan ini dipengaruhi oleh percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan dan pembersihan akses jalan, serta pemulihan kawasan permukiman yang semakin kondusif untuk dihuni kembali.
BNPB bersama pemerintah daerah terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan. Dari total 51.740 unit rumah rusak berat, telah diajukan pembangunan hunian sementara sebanyak 27.560 unit. Saat ini, 4.304 unit masih dalam proses pembangunan dan 262 unit telah selesai dibangun dan siap dihuni. Selain itu, pengajuan hunian sementara tipe hanggar tercatat sebanyak 8.440 unit, dengan 648 unit di antaranya sedang dalam tahap konstruksi.
Skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan untuk mendukung masyarakat terdampak selama masa transisi menuju hunian tetap. Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 15.305 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.656 rekening penerima telah siap, dengan penyaluran yang terus meningkat. Tercatat penambahan 139 penerima dalam periode terakhir, sehingga total penerima DTH yang telah menerima bantuan mencapai 2.089 kepala keluarga.
Di sisi logistik dan peralatan, distribusi bantuan terus digencarkan melalui jalur darat dan udara guna menjangkau seluruh wilayah terdampak. Sejak 29 November 2025 hingga 13 Januari 2026, total logistik yang dimobilisasi mencapai 1.742 ton. Sebanyak 99,7 persen dari total tersebut telah tersalurkan kepada masyarakat terdampak melalui koordinasi BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah setempat.
Sebagai bagian dari upaya percepatan tanggap darurat, pemulihan, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 14 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilaksanakan sebanyak 449 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 431.600 kilogram.
Di Provinsi Sumatra Utara, OMC telah dilakukan sebanyak 368 sorti dengan total bahan semai sekitar 322 ton, sementara di Sumatra Barat tercatat 384 sorti dengan total bahan semai 381.325 kilogram. Operasi ini ditujukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan di wilayah rawan.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta seluruh unsur masyarakat dalam memastikan penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Dengan sinergi yang solid, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak, serta penguatan langkah mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh dan berdaya menghadapi risiko bencana ke depan. (*)





