Antara Ideologi dan Realisme Ekonomi
Inilah yang saya sebut sebagai Delcy’s Dilemma. Di satu sisi, Delcy Rodríguez adalah penjaga api revolusi bolivarian yang anti-imperialis. Namun di sisi lain, ia juga sedang menatap jurang kehancuran ekonomi negerinya sendiri.
Dengan penangkapan Maduro, Delcy kehilangan tameng politik utamanya, sementara rakyatnya sedang kelaparan dan infrastruktur minyak Venezuela terus memburuk. Tak pelak, Delcy berada di persimpangan jalan antara mempertahankan ideologi sampai titik darah penghabisan dan membiarkan negaranya runtuh, atau mulai bermain “catur transaksional” dengan Donald Trump.
Dilema ini tidak hanya milik Delcy, tapi juga milik Trump. Trump paham betul bahwa melakukan invasi militer darat secara total untuk menduduki ladang minyak akan memakan biaya politik dan finansial yang sangat mahal. Sehingga ia butuh seseorang di Caracas yang bisa memberikan legitimasi hukum pada kontrak-kontrak minyak baru agar lonjakan saham Chevron dan Exxon tadi bukan sekadar spekulasi sesaat, melainkan keuntungan fundamental jangka panjang.
Tanpa tanda tangan pemerintahan yang legal secara administratif, perusahaan raksasa ini akan ragu untuk benar-benar mengirim alat berat mereka karena takut akan tuntutan hukum internasional. Delcy, dengan segala otoritasnya saat ini, adalah mitra negosiasi yang paling logis.
Peluang bagi Amerika Serikat untuk benar-benar mengelola minyak Venezuela justru terletak pada kerentanan posisi Delcy. Ada kemungkinan bahwa di balik retorika anti-Amerikanya yang berapi-api, akan terjadi sebuah “transaksi bawah meja”. Trump bisa saja menawarkan pengakuan de facto terhadap kepemimpinan transisi Delcy, asalkan ia bersedia membuka akses penuh bagi teknisi dan perusahaan Amerika untuk mengelola operasional PDVSA (perusahaan minyak negara). Ini adalah bentuk diplomasi “minyak untuk pengakuan”. Jika Delcy setuju, artinya ia sedang menyelamatkan nyawa politiknya sendiri dari ancaman kudeta internal militer yang mungkin merasa tidak puas.
Bagi Trump, mengelola minyak melalui “tangan” Delcy adalah strategi yang brilian. Trump akan mendapatkan apa yang ia inginkan, kendali atas produksi minyak, tanpa harus menanggung beban sebagai penjajah militer secara penuh seperti di Irak. Dengan kontrol operasional di tangan Amerika, Trump secara otomatis memutus ketergantungan Venezuela pada China dan Rusia.
Inilah leverage sesungguhnya, yakni saat China menyadari bahwa mereka harus berurusan dengan Washington untuk mendapatkan minyak dari Venezuela. Jika itu bisa dilakukan, maka Trump telah memenangkan satu pertempuran besar dalam perang dingin abad ini tanpa melepaskan satu peluru pun ke arah Beijing.
Catur Geopolitik di Sabuk Orinoco
Mengapa Delcy’s Dilemma menjadi begitu krusial? Karena di dalamnya terkandung nasib stabilitas energi dunia. Jika Delcy memilih untuk melunak dan berkolaborasi dengan pola manajemen transaksional Trump, maka kita akan melihat transformasi unik dari “sosialisme bolivarian” menjadi “kapitalisme negara yang diprotektorat oleh AS”.
Ini adalah skenario di mana retorika sosialis tetap ada di permukaan untuk menenangkan massa, namun aliran uang dan teknologi sepenuhnya dikendalikan oleh Wall Street dan Texas.
Kemungkinan ini semakin menguat jika kita melihat rekam jejak Trump yang selalu lebih menyukai kesepakatan bisnis daripada perang ideologi yang berkepanjangan. Bagi Trump, musuh bukanlah mereka yang berbeda paham, melainkan mereka yang menghalangi berlimpahnya keuntungan.






