OPINI

Kini Antara Donald Trump dan Delcy Rodríguez

0
×

Kini Antara Donald Trump dan Delcy Rodríguez

Sebarkan artikel ini
Ronny P. Sasmita (Analis Senior ISEAI/Peneliti Senior Tamu CIDS University of Philippines)

Jika Delcy bisa menjamin keamanan investasi Amerika, Trump kemungkinan besar tidak akan peduli siapa yang duduk di istana kepresidenan Caracas, asalkan keran minyaknya mengalir deras ke utara. Ini adalah jenis pragmatisme ala Donald Trump, namun efektif dalam peta geopolitik kekinian.

Bagi dunia internasional, fenomena ini mengirimkan pesan yang cukup kuat. Penangkapan seorang pemimpin negara mungkin merupakan tindakan militer, namun pengelolaan sumber dayanya adalah tindakan ekonomi murni.

Dengan menekan Delcy melalui dilema eksistensial ini, AS sedang mencoba menciptakan preseden baru bahwa kedaulatan sebuah negara bisa “disewa” atau “dikelola ulang” demi stabilitas pasar energi global. China, yang selama ini merasa nyaman sebagai pembeli utama minyak Venezuela, kini harus menelan kenyataan pahit bahwa jaminan energi mereka sedang disandera oleh kebijakan luar negeri Amerika yang makin agresif.

Penguasaan ini akan menjadi kartu as bagi Trump saat ia duduk di meja perundingan dengan Xi Jinping. Trump bisa saja menawarkan kelonggaran ekspor minyak Venezuela ke China sebagai imbalan atas konsesi perdagangan di bidang teknologi atau tarif. Dengan kata lain, minyak Venezuela bukan hanya soal energi, tapi soal mata uang baru dalam diplomasi global. Trump sedang mengubah Venezuela menjadi “tabungan energi” yang bisa ia gunakan kapan saja untuk menekan lawan-lawan politik dan ekonominya.

Ketidakpastian

Pada akhirnya, masa depan Venezuela bergantung pada seberapa jauh Delcy Rodríguez mampu menahan tekanan dari dua sisi, yakni tekanan dari rakyatnya yang butuh makan dan tekanan dari Washington yang butuh minyak. Jika ia terlalu keras, ia akan hancur oleh sanksi yang makin mencekik. Jika ia terlalu lemah, ia akan dianggap sebagai pengkhianat oleh faksi militan Chavista. Inilah inti dari Delcy’s Dilemma yang sedang dimainkan dengan sangat lihai oleh pemerintahan Trump.

Dunia sedang menyaksikan sebuah eksperimen besar dalam tata kelola dunia, di mana kekuatan militer digunakan untuk membuka pintu bagi “manajemen korporasi” skala negara. Donald Trump mungkin tidak peduli dengan teori-teori hubungan internasional yang rumit, namun ia sangat paham tentang posisi tawar.

Dengan menempatkan Delcy dalam posisi terjepit, ia sedang memastikan bahwa Amerika Serikat akan menjadi pengelola bayangan atas kekayaan alam Venezuela, terlepas dari siapa yang secara resmi memegang bendera di Caracas.

Drama di Caracas ini masih jauh dari kata usai. Namun, satu hal yang pasti, peta energi dunia telah bergeser secara permanen. Penguasaan minyak Venezuela bukan lagi sekadar impian lama Amerika, melainkan sebuah realitas geo-ekonomi yang sedang dibangun di atas fondasi pragmatisme yang brutal.

Di tangan Trump, minyak bukan lagi komoditas, melainkan senjata. Dan bagi Delcy Rodríguez, pilihannya hanyalah menjadi bagian dari sistem baru ini atau menjadi catatan kaki dalam sejarah kegagalan sebuah revolusi.

Namun, di atas segala kalkulasi angka dan manuver catur politik ini, satu pertanyaan besar tetap menggantung di cakrawala Caracas, benarkah Amerika sudah benar-benar “menguasai” minyak Venezuela?