OPINI

Risiko Tersembunyi di Bawah Sumur Dekat Sinkhole Kabupaten Limapuluh Kota

0
×

Risiko Tersembunyi di Bawah Sumur Dekat Sinkhole Kabupaten Limapuluh Kota

Sebarkan artikel ini

Oleh:
Timtim Deby Purnasebta
Praktisi GIS Sumatera Barat

Fenomena aliran air deras pada sumur warga di Nagari Tungka, Kabupaten Limapuluh Kota, dalam beberapa waktu terakhir menarik perhatian masyarakat. Sumur warga tersebut menunjukkan aliran air yang aktif dan deras di dasar sumur, menyerupai aliran sungai bawah tanah. Kondisi ini tidak lazim untuk sumur galian pada umumnya dan menimbulkan pertanyaan tentang penyebabnya.
Menariknya, lokasi sumur tersebut berada tidak jauh dari titik sinkhole atau sawah luluih yang sebelumnya muncul di Nagari Situjuah Batua, nagari tetangga yang secara geografi dan geologi saling berdekatan. Hubungan spasial ini menimbulkan dugaan bahwa fenomena di Nagari Tungka dan kejadian sinkhole di Nagari Situjuah Batua mungkin saling terkait melalui satu sistem hidrogeologi yang sama, meskipun secara administratif berada di nagari berbeda.
Sebagai praktisi Geographic Information System (GIS) Sumatera Barat, saya menekankan pentingnya pendekatan analisis spasial untuk memahami fenomena ini. Kawasan kaki Gunung Sago, yang menjadi lokasi kedua nagari, secara umum tersusun atas dua jenis batuan utama, yakni tufa batuapung dan gamping, yang memiliki karakteristik hidrogeologi berbeda.
Tufa batuapung merupakan endapan vulkanik hasil aktivitas letusan eksplosif Gunung Sago pada masa lampau. Material ini terdiri dari abu vulkanik dan fragmen batuapung yang mengendap cepat, ringan, dan tidak sepenuhnya terkonsolidasi. Sifat tufa batuapung yang sangat berpori, kurang kompak, dan mudah tererosi menjadikannya rentan terhadap perubahan aliran air.
Dalam konteks hidrogeologi, tufa batuapung berperan sebagai akuifer dangkal yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah. Namun, akuifer ini sensitif terhadap variasi tekanan dan volume aliran air. Genangan sawah yang berlangsung bertahun-tahun menyebabkan infiltrasi air terus-menerus, meresap melalui pori dan rekahan mikro, dan mengalir mengikuti jalur lemah di dalam tufa.
Proses erosi internal atau piping ini secara perlahan dapat membentuk rongga bawah tanah yang semakin membesar. Ketika rongga kehilangan daya dukung, lapisan di atasnya dapat runtuh, membentuk sinkhole, seperti yang diamati di Nagari Situjuah Batua. Dalam sistem yang saling terhubung, perubahan tekanan ini dapat mendorong aliran air di titik lain, menjelaskan fenomena aliran deras pada sumur warga Nagari Tungka yang kemungkinan telah terhubung secara hidraulik dengan jalur bawah tanah baru atau yang diperbesar akibat erosi internal.
Selain tufa batuapung, batuan gamping juga hadir di wilayah ini, meskipun dalam jumlah lebih kecil. Rongga pada gamping terbentuk melalui proses pelarutan kimiawi oleh air yang bersifat asam atau dikenal dengan karstifikasi. Air tanah yang mengalir di batu gamping mengikuti jalur pelarutan, membentuk saluran bawah tanah yang dapat mengalirkan volume besar air dengan cepat.
Jika sumur berada di atas atau dekat sistem karst ini, perubahan tekanan atau debit di saluran karst dapat memicu aliran air sumur meningkat secara signifikan. Dengan demikian, kombinasi tufa batuapung yang mudah tererosi dan gamping yang membentuk saluran karst menyediakan mekanisme hidrogeologi yang kompleks dan memungkinkan munculnya aliran deras pada sumur, tanpa adanya runtuhan langsung di lokasi sumur itu sendiri.
Fenomena ini menjadi indikasi adanya gangguan pada keseimbangan sistem air tanah dangkal. Rongga bawah tanah pada tufa dan gamping berpotensi berkembang secara lateral, sehingga area yang terlihat stabil di permukaan belum tentu aman di bawahnya. Aktivitas berat, genangan air berkepanjangan, atau perubahan tata air dapat mempercepat terbentuknya amblasan lanjutan.
Dari sudut pandang mitigasi risiko, pendekatan berbasis GIS dan data spasial menjadi sangat penting. Pemetaan lokasi sinkhole, sumur warga, jaringan irigasi, sebaran batuan tufa batuapung dan gamping, serta potensi amblasan perlu diintegrasikan dalam satu basis data spasial. Peta semacam ini dapat membantu pemerintah daerah menentukan zona rawan, pembatasan aktivitas, dan penyesuaian tata guna lahan yang lebih aman, sekaligus memandu pengawasan lingkungan dan perencanaan mitigasi bencana.
Selain peran pemerintah, masyarakat lokal juga perlu diberdayakan melalui pemantauan dan pelaporan dini. Tanda-tanda perubahan, seperti retakan tanah, penurunan permukaan, atau perubahan debit sumur yang signifikan, harus segera dilaporkan untuk ditindaklanjuti oleh instansi terkait. Kajian lanjutan dengan survei geofisika, pengukuran fisik lapangan, dan studi hidrogeologi tetap diperlukan untuk memastikan kondisi bawah permukaan secara lebih akurat. Integrasi data lapangan dengan pemetaan GIS memungkinkan analisis prediktif untuk mengantisipasi area yang berpotensi mengalami amblasan atau gangguan air tanah di masa mendatang.
Fenomena yang melibatkan kedua nagari ini menjadi pengingat bahwa sistem alam tidak mengenal batas administratif. Warisan aktivitas vulkanik Gunung Sago masih membentuk perilaku tanah dan air hingga saat ini. Memahami karakter tufa batuapung dan gamping, mekanisme aliran air bawah tanah, serta interaksi antar-elemen dalam sistem hidrogeologi menjadi kunci agar risiko dapat dikelola sejak dini.
Pendekatan ilmiah berbasis GIS, dikombinasikan dengan pemantauan masyarakat dan pengkajian lapangan yang cermat, memungkinkan mitigasi yang lebih efektif dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. Meski demikian, semua analisis ini masih perlu dipastikan melalui data lapangan, pengukuran fisik, dan kajian lanjutan untuk memastikan interpretasi yang akurat mengenai fenomena aliran deras di sumur warga dan potensi perkembangan sinkhole di masa mendatang. (*)