PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID – Di tengah penderitaan warga Kampung Ngalau Gadang, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, pascabencana yang hingga kini belum pulih, sikap Ketua DPRD Kabupaten Pesisir Selatan, Darmansyah, justru menuai sorotan tajam. Saat warga masih terisolasi dan akses dasar belum kembali normal, pimpinan lembaga legislatif daerah itu memilih diam.
Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan Haluan Kabupaten Pesisir Selatan melalui pesan WhatsApp tak mendapat satu pun respons. Padahal, pertanyaan yang diajukan menyentuh langsung persoalan kemanusiaan dan keselamatan warga yang hingga kini hidup dalam keterbatasan akibat rusaknya infrastruktur pascabencana.
Wartawan Haluan, Okis Mardiansyah, sejak Kamis (22/1/2026) siang telah mengirimkan sejumlah pertanyaan kepada Ketua DPRD Pesisir Selatan. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kondisi warga Ngalau Gadang yang masih terisolasi, belum diperbaikinya jembatan utama, serta peran DPRD dalam mendorong percepatan penanganan oleh pemerintah daerah dan dinas terkait.
Mulai dari ungkapan keprihatinan, pertanyaan soal sikap lembaga DPRD, hingga penegasan identitas sebagai wartawan, seluruh pesan itu tak mendapat jawaban.
“Ketua kalau diam sajo. Izin ambo buek beritanyo. Karano ketua adalah wakil dari masyarakat yang harus menyuarakan suaro masyarakat Pesisir Selatan,” tulis Okis dalam pesan terakhirnya.
Namun hingga berita ini diturunkan, Ketua DPRD Pesisir Selatan Darmansyah tidak memberikan klarifikasi, pernyataan, ataupun penjelasan apa pun. Sikap bungkam tersebut kontras dengan kenyataan pahit yang masih dialami warga Ngalau Gadang di lapangan.
Kondisi darurat itu kembali terasa ketika seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bernama Aras mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Saat sedang bermain, Aras terjatuh dan mengalami luka cukup dalam di bagian kaki kiri hingga tidak bisa digerakkan. Tak ada ambulans yang bisa masuk ke kampung tersebut. Tak ada kendaraan yang mampu menjangkau lokasi. Jembatan utama putus sejak bencana hampir dua bulan lalu, sementara beberapa titik jalan masih tertimbun longsor.
Dalam kondisi darurat, warga bersama anggota TNI AD terpaksa menandu Aras sejauh kurang lebih tiga kilometer dari Kampung Ngalau Gadang menuju Limau-limau, titik terdekat yang masih dapat dilalui kendaraan roda empat. Jalur yang dilalui licin, rawan longsor, dan berisiko tinggi, terutama saat hujan turun.
“Lukanya cukup parah, kakinya tidak bisa digerakkan. Tidak mungkin dibawa pakai motor dan tidak bisa ditangani di bidan desa,” ujar Jondra Folta, warga setempat.
Setelah tiba di Limau-limau, Aras baru dapat diangkut menggunakan mobil menuju Puskesmas Asam Kumbang dengan jarak sekitar 10 kilometer, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD M. Zein Painan.






