KESEHATANUTAMA

Bokek Bisa Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

1
×

Bokek Bisa Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

JAKARTA HARIANHALUAN.ID- Kondisi bokek alias kekurangan uang ternyata bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini dikemukakan dalam sebuah penelitian terbaru di Mayo Clinic Proceeding oleh Nazanin Rajai dkk. pada Desember 2025 lalu.

Para peneliti ini menganalisis data survei terhadap lebih dari 280.000 orang dewasa. Survei tersebut terkait hubungan faktor sosial dan ekonomi terhadap kesehatan kardiovaskular.

Fokus penelitian ini, yakni menentukan “usia kardiovaskular.” Konsep ini mencerminkan seberapa tua jantung dan pembuluh darah seseorang secara biologis, dibandingkan dengan kondisi ideal di usia sebenarnya.

Jadi, bagaimana sebenarnya kondisi kantong kering bisa bikin seseorang lebih mudah terkena penyakit jantung? Berikut Penjelasannya :

Dokter spesiaslis emergensi, Leana Wen menjelaskan hasil penelitian Rajai dkk. Berdasarkan hasil penelitian, orang yang melaporkan tingkat stres finansial dan kerawanan pangan yang lebih tinggi, cenderung mengalami penuaan usia kardiovaskular lebih cepat.

“Dengan kata lain, dua orang dengan usia kronologis dan profil risiko klinis yang sama, dapat memiliki jantung ‘menua’ dengan kecepatan berbeda, tergantung pada seberapa besar tekanan finansial yang mereka alami,” ujar Wen, seperti dilansir dari CNN Health.

Bagaimana penuaan jantung ini diukur? Para peneliti melihatnya dari perubahan struktural dan fungsional dalam sistem kardiovaskular. Mulai dari pengerasan pembuluh darah, perubahan fungsi otot jantung, hingga penurunan kemampuan sistem kardiovaskular untuk merespons aktivitas fisik.

Stres kronis dapat mempercepat proses tersebut. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dapat memengaruhi tekanan darah, detak jantung, peradangan, dan metabolisme. Jika seseorang mengalami stres dalam jangka lama, kerusakan jantung dan pembuluh darah bisa terjadi.

Siapa pun bisa mengalami stres karena berbagai hal, misalnya karena deadline pekerjaan atau mengalami kegagalan lain dalam hidup. Namun kira-kira apa yang membuat stres finansial lebih punya andil meningkatkan risiko jantung?

Wen menjelaskan, stres finansial sering kali bersifat kronis dan berkelanjutan. Seseorang bisa khawatir terus-menerus soal tagihan, utang, biaya keluarga, dan sebagainya.

Uang juga memengaruhi begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari, sehingga sulit untuk dihindari.

“Stres finansial dapat mengganggu tidur, membatasi akses ke makanan sehat atau perawatan medis, dan mengurangi kesempatan untuk berolahraga atau beristirahat. Semua faktor ini saling memperkuat dan dapat meningkatkan risiko kardiovaskular dari waktu ke waktu,” tutur Wen.

Bagi Wen, hal yang paling mencolok dari penelitian ini, yaitu stres finansial lebih berpengaruh terhadap penuaan jantung ketimbang faktor risiko klinis, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan merokok.

Namun stres finansial tidak bisa menggantikan faktor risiko klinis ini. Jadi, seseorang dengan tekanan darah tinggi yang juga mengalami stres finansial, kemungkinan menghadapi risiko lebih besar.

Meski demikian, Wen menekankan stres finansial hanya meningkatkan risiko. Jadi, bukan berarti orang yang mengalaminya, pasti akan memiliki kesehatan jantung yang buruk.

“Risiko dipengaruhi oleh banyak faktor, dan masih ada tindakan berarti yang dapat dilakukan individu dan dokter untuk mengurangi bahaya,” ucap Wen.

Dokter tentunya tidak bisa menyelesaikan masalah keuangan yang dialami pasien. Namun penyakit jantung tetap bisa dicegah dengan berbagai cara lain.

Wen menyarankan, tetaplah melakukan aktivitas fisik yang teratur, diet seimbang, menjaga berat badan ideal, dan tidak merokok. Selain itu, kontrol pula tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.

Melakukan pemeriksaan rutin juga penting. Soalnya, ada banyak faktor risiko kardiovaskular lain yang berkembang secara diam-diam.

Anda juga perlu mengatasi hipertensi dan diabetes sejak dini untuk menurunkan risiko serangan jantung, strok, penyakit ginjal, hingga gagal jantung.

“Karena stres kronis juga memengaruhi kesehatan jantung, teknik-teknik seperti praktik mindfulness, tidur yang cukup, dan koneksi sosial dapat membantu mengurangi stres,” Wen menyarankan. (*)