Mahyeldi berharap gerakan tersebut berlanjut dan menjadi gerakan masif di seluruh wilayah Sumatera Barat. Ia juga mengusulkan kebijakan penghijauan berbasis keagamaan, seperti wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin.
“Misalnya, wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin yang akan menikah. Ini akan kami koordinasikan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Kita harapkan ini bisa terwujud,” kata Mahyeldi.
Pj Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kolaborasi lintas sektor yang dibangun. Menurut dia, penghijauan terutama di hulu sungai dan kawasan hutan menjadi salah satu kunci mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
“Bencana hidrometeorologi erat kaitannya dengan air dan kondisi lingkungan. Penghijauan, khususnya di hulu sungai dan kawasan hutan, menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana,” ujar Raju.
Ia menambahkan, pascabencana banjir dan longsor, Kota Padang juga menghadapi dampak lanjutan berupa kekeringan. Perubahan aliran sungai menyebabkan jaringan irigasi terputus, sungai-sungai kecil rusak, dan pasokan air bersih terganggu.
“Data kami mencatat ada sekitar 121 titik di Kota Padang yang mengalami kekeringan,” kata Raju.






