PADANG

Pulihkan Ekologi Pascabencana, PT Semen Padang Serahkan 10 Ribu Bibit Kaliandra

0
×

Pulihkan Ekologi Pascabencana, PT Semen Padang Serahkan 10 Ribu Bibit Kaliandra

Sebarkan artikel ini
PT Semen Padang melakukan penanaman kaliandra, dukung pemulihan ekologi pascabencana. IST

Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera Febriyandi Putra menjelaskan gerakan ini dilatarbelakangi bencana ekologis yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, Sumbar membutuhkan langkah pemulihan yang kolaboratif dan berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek.

“Hari ini kita membutuhkan solusi atas bencana ekologis yang terjadi di Sumbar. Karena itu kami mendorong keterlibatan semua pihak—pemerintah, BUMN, swasta, LSM, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat—untuk bergerak bersama. Target awal kami satu juta pohon, dan jumlahnya bisa bertambah sesuai partisipasi publik,” ujar Febriyandi.

Ia mengatakan, pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga tanaman produktif yang bernilai ekonomi. Jenis yang diprioritaskan antara lain durian, petai, dan jengkol, serta kaliandra yang disuplai PT Semen Padang.

“Kami berterima kasih kepada PT Semen Padang dan pihak lain yang terlibat dalam gerakan ini,” kata Febriyandi.

Febriyandi menyebut gerakan ini melibatkan sekitar 20 pihak kolaborator. Di tingkat provinsi, target penanaman mencapai satu juta pohon. Khusus Kota Padang, targetnya 10 ribu pohon yang dibagi dalam lima segmen wilayah. Selain Balai Gadang, lokasi penanaman mencakup Batu Busuk dan Batang Gabung.

“Gerakan ini kami awali dari Kota Padang dengan penanaman bertahap dan estafet. Penanaman dilakukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir Pantai Padang,” ujarnya.

Menurut dia, Gerakan Sejuta Pohon bukan agenda seremonial semata. Gerakan ini diharapkan mendorong lahirnya kebijakan publik agar aktivitas menanam pohon menjadi bagian dari budaya dan kewajiban sosial.

“Kami berharap gerakan ini tidak berhenti pada euforia sesaat. Menanam pohon harus menjadi budaya. Sumatera Barat memiliki potensi bencana yang besar dari pesisir hingga pegunungan. Tidak ada wilayah yang benar-benar aman jika lingkungan tidak dijaga,” tambah Febriyandi. (*)