PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kecelakaan beruntun yang terjadi di Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Senin (26/1) lalu, kembali membuka persoalan serius dalam sistem keselamatan transportasi darat di Sumatera Barat. Peristiwa tragis yang melibatkan truk trailer bermuatan pupuk dan sejumlah kendaraan lain itu dinilai bukan hanya sekadar kecelakaan teknis, melainkan cerminan lemahnya pengawasan dan dominannya faktor human error.
Para pengamat transportasi menilai, meskipun kecelakaan diduga dipicu rem blong pada truk trailer, akar persoalan tetap bermuara pada kelalaian manusia, mulai dari aspek perawatan kendaraan, pengawasan operasional, hingga lemahnya kontrol di titik-titik pengecekan.
Pengamat Transportasi Universitas Bung Hatta (UBH), Fidel Miro menjelaskan, dalam teori elemen lalu lintas terdapat tiga faktor utama penyebab kecelakaan, yakni manusia, kendaraan, serta jalan dan lingkungan. Dari ketiga elemen tersebut, manusia memiliki kontribusi terbesar dalam peristiwa kecelakaan.
“Sekitar 90 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia. Jalan hanya sekitar 1 persen, sedangkan kondisi kendaraan berkisar 3 sampai 10 persen. Manusia adalah elemen hidup yang mengendalikan dua elemen lainnya,” ujar Fidel kepada Haluan, Selasa (27/1).
Menurutnya, kecelakaan di Panyalaian yang terjadi di jalur menurun Padang Panjang–Bukittinggi tidak bisa dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan kendaraan berat yang melintas di jalur ekstrem tersebut.
Ia menyoroti fungsi terminal dan pos pengecekan yang dinilai belum berjalan optimal. “Terminal pengecekan seharusnya tidak hanya mengatur arus muatan, tetapi memastikan sistem keselamatan kendaraan benar-benar laik jalan, termasuk rem dan kondisi teknis lainnya,” katanya.
Fidel mempertanyakan bagaimana kendaraan bermasalah masih bisa melintasi jalur lintas Sumatera tanpa terdeteksi sejak awal. Menurutnya, ini menunjukkan adanya celah besar dalam regulasi dan pengawasan transportasi darat.
“Pertanyaannya, apakah kendaraan-kendaraan ini benar-benar melalui pemeriksaan ketat? Atau ada pembiaran dalam proses pengawasan? Ini yang perlu dievaluasi secara serius,” ucap Fidel.
Senada, Ketua Pusat Transportasi Lembaga Penelitian Universitas Andalas (UNAND), Yosritzal menilai aspek teknis seperti rem blong sering kali berakar dari buruknya perawatan kendaraan. Ia menyebut kegagalan sistem pengereman bisa disebabkan oleh banyak faktor yang seharusnya dapat dicegah.
“Rem blong bisa terjadi karena kampas rem aus, sistem hidrolik bermasalah, atau cairan rem terkontaminasi. Semua itu menandakan perawatan kendaraan tidak dilakukan secara berkala,” ujar Yosritzal.
Ia menambahkan, faktor operasional seperti muatan berlebih juga memperbesar risiko kecelakaan, terutama di jalur menurun panjang dan tajam seperti kawasan Panyalaian dan Silaiang. “Beban berlebih membuat rem bekerja ekstra keras. Dalam kondisi menurun, rem cepat panas dan bisa mengalami overheat hingga akhirnya gagal berfungsi,” ujarnya.






