PADANG

Kawasan Batu Busuk Tak Boleh Lagi Ditempati, Warga Ragu Tinggalkan Lokasi

59
×

Kawasan Batu Busuk Tak Boleh Lagi Ditempati, Warga Ragu Tinggalkan Lokasi

Sebarkan artikel ini
Kondisi rumah di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. YESSI

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Pemerintah kota, pemerintah provinsi, anggota dewan daerah hingga pusat, kementerian-kementerian, bahkan sampai kunjungan artis pun, kawasan Batu Busuk tetap saja seperti saikua capang saikua lapeh.

Penetapan Batu Busuk sebagai zona merah yang artinya akan tak boleh lagi ditempati, semakin membuat perasaan masyarakat bercampur aduk. Bagaimana tanah dan rumahnya? Bagaimana perekonomiannya nanti? Apakah harus alih mata pencarian atau entah? Bagaimana memulai lagi kehidupan dan adaptasi baru karena akses, tempat baru, atau hal-hal lain yang selalu terbawa pikiran?

Penetapan kawasan Batu Busuk sebagai zona merah, secara keberlanjutan oleh Pemko Padang adalah meminta masyarakat setempat untuk tidak menempatinya lagi, mengingat potensi berulang dan perlunya mitigasi bencana ke depan.

Namun apa mau dikata, masyarakat Batu Busuk seolah berada di antara bayang-bayang gamangnya. Sebagian masyarakat mengiyakan arahan, sebagiannya lagi tetap memilih tinggal di rumahnya yang telah merasai diterjang banjir bandang.

Berdasarkan laporan dan pantauan Haluan, Selasa (27/1), di kawasan Batu Busuk masih banyak terlihat warga yang masih bertahan di sana untuk sekadar berkeras hati membersihkan rumah dari sisa lumpur dan material lain.

Nina Fitri Yeni (35), salah seorang warga RT01/RW03 Kelurahan Lambung Bukit juga melakukan hal serupa. Ia menyempatkan waktu melihat dan membersihkan rumahnya andai-andai ada harapan terang atas bencana yang ikut menghantam rumahnya.

“Kini saya sudah mengontrak di Korong Gadang. Sedih rasanya meninggalkan rumah begitu saja. Titik terang solusi rumah kami juga tidak jelas. Katanya rumah saya tidak terdata dalam kerusakan. Lalu penanganan untuk saya dan senasib dengan saya bagaimana?” keluh ibu dua anak itu.

Penetapan Batu Busuk sebagai zona merah membuatnya bingung. Apabila harus meninggalkan rumahnya sebagaimana yang diinstruksikan pemerintah untuk menjadikan kawasan Batu Busuk sebagai perladangan, lantas Nina justru tidak punya tanah dan tempat untuk berladang.

“Yang saya punya hanya rumah itu saja. Apa yang bisa saya tanam di atas lahan rumah itu? Merugi saja saya jadinya kalau begitu. Bahkan janji untuk hunian ini itu seakan jauh saja dari kami. Saya benar-benar tidak tahu dengan kepastian itu. Apakah kedatangan dewan, artis, pusat, atau pejabat lain, merangkap dalam kerja pemerintah atau bagaimana. Semakin tidak jelas bagi saya,” katanya.

Begitu juga yang diketengahkan Ketua Pemuda RT01/RW03, Syamsi Candra. Hampir sebulan ini ia masih tetap menempati rumahnya di Batu Busuk untuk sekadar memantau kondisi, membersihkan rumah, dan aktivitas lain.