Dia bertekad menjadikan alam sebagai sumber pertumbuhan ekonomi tanpa merusak ekosistemnya. Melalui koordinasi dengan para Niniak Mamak, Dasrul memastikan setiap langkah pembangunan didasarkan pada kesepakatan kolektif kaum.
“Kami sangat membutuhkan binaan dan pengembangan, baik secara fisik maupun pemikiran, agar kearifan lokal kami tetap terjaga seiring dengan meningkatnya kesejahteraan keluarga kami,” pungkas Dasrul.
Ketua Kadin Sumatera Barat, Buchari Bachter mengungkapkan bahwa proyek di Kampung Talang ini merupakan tonggak sejarah penting. Huntap Mandiri ini tercatat sebagai Huntap pertama yang dibangun di wilayah Sumatera Barat pascabencana.
“Walaupun ini cuma 10 rumah, tapi berdasarkan informasi, ini Huntap pertama yang dibangun se-Sumatera, bukan Sumatera Barat saja,” tegas Buchari Bachter.
Pembangunan ini ditargetkan selesai dalam waktu singkat, yakni sekitar 30 hari menggunakan teknologi semen block dari PT Semen Padang. Targetnya, pada pertengahan bulan Ramadan mendatang, rumah-rumah tersebut sudah dapat ditempati para penyintas banjir bandang.
Proyek ini menjadi prototipe ekosistem baru pascabencana yang melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Kadin, Pemko Padang, akademisi Universitas Andalas,, hingga dukungan dari Kementerian Perumahan dan PT Danantara (BUMN).
Wali Kota Fadly Amran mengapresiasi Dasrul bersama Ninik Mamak Suku Tanjuang dan Kadin yang telah bergerak cepat (gercep) merealisasikan hunian ini.
“Sinergi ini diharapkan tidak hanya memberikan atap bagi warga, tetapi juga mengembalikan martabat dan kesejahteraan masyarakat melalui ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” kata Fadly Amran. (*)






