SUMBAR

Ketua PKC PMII Sumbar : Kematian Anak SD di NTT Alarm Kegagalan Kolektif Lindungi Anak

16
×

Ketua PKC PMII Sumbar : Kematian Anak SD di NTT Alarm Kegagalan Kolektif Lindungi Anak

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID- Ketua Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sumatera Barat, M. Yusuf Rahman menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar di kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.

Menurut Yusuf, peristiwa tersebut bukan sekadar tragedi personal, melainkan peringatan keras bagi seluruh elemen bangsa tentang rapuhnya sistem perlindungan anak, terutama bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan minim pendamping psikososial.

“Peristiwa ini adalah alarm kemanusiaan. Ketika seorang anak di usia 10 tahun merasa hidupnya terlalu berat untuk dijalani, maka yang gagal bukan hanya keluarganya, tetapi kita semua sebagai bangsa,” ujar Yusuf pada media, Kamis (5/2).

Yusuf menilai, kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada aspek material, tetapi juga menekan kondisi mental dan emosional anak. Yusuf menegaskan bahwa pendidikan yang diklaim sebagai hak dasar belum sepenuhnya hadir secara bermartabat bagi seluruh anak Indonesia.

“Kita sering bicara pendidikan sebagai hak, tetapi fakta di lapangan menunjukkan masih ada anak yang merasa putus asa hanya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah yang paling dasar. Ini ironi yang menyakitkan,” kata Yusuf.

Yusuf menambahkan, sepucuk surat yang ditinggalkan korban menunjukkan bahwa suara dan beban batin anak kerap luput dari perhatian lingkungan sekitar. Ia menilai perlindungan anak tidak cukup hanya melalui kebijakan administratif, tetapi membutuhkan kehadiran nyata dan empati kolektif.

“Anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan luka batinnya dengan kata-kata. Tugas orang dewasa, termasuk negara dan masyarakat, adalah peka membaca tanda-tanda itu sebelum terlambat,” ujar Yusuf.

Selain itu, Yusuf menegaskan pentingnya peran mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Menurutnya, tragedi ini harus menjadi panggilan moral bagi mahasiswa untuk lebih peka dan terlibat aktif dalam isu-isu kemasyarakatan.

“Mahasiswa tidak boleh hanya sibuk dengan ruang akademik. Kita harus melek terhadap realitas sosial di sekitar kita, karena di sanalah pengabdian itu menemukan maknanya,” Kata Yusuf.

Ia menegaskan bahwa organisasi kemanusiaan termasuk PMII, memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk hadir di tengah masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dari keluarga miskin.

“Organisasi kemahasiswaan harus hadir bukan hanya saat demonstrasi atau agenda formal, tetapi juga dalam bentuk pendampingan sosial, edukasi dan advokasi. Itulah salah satu wujud nyata pengabdian kita kepada masyarakat,” ujar Yusuf.

Yusuf berharap, kematian anak SD di NTT tidak berlalu sebagai berita duka semata, tetapi menjadi momentum refleksi bersama bagi negara, masyarakat dan generasi muda untuk memperkuat pedulian serta keberpihakan kepada anak-anak.

“Jika mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan mampu hadir lebih awal, lebih peka, dan lebih peduli, maka kita bisa mencegah tragedi- tragedi serupa terulang. Anak-anak Indonesia berhak tumbuh dengan harapan bukan dengan ketakutan,” pungkasnya (*)