HEADLINE

Akses Vital Terputus, Warga Pelangai Gadang Terpaksa Menyeberang Sungai dengan Perahu Karet

7
×

Akses Vital Terputus, Warga Pelangai Gadang Terpaksa Menyeberang Sungai dengan Perahu Karet

Sebarkan artikel ini

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID — Sudah tiga tahun berlalu, denyut kehidupan masyarakat Pelangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, berjalan dengan keterbatasan. Jembatan gantung yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga, kini benar-benar putus dan tak lagi bisa dilalui. Akibatnya, ratusan kepala keluarga terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu karet demi mengakses layanan publik.

Jembatan gantung Pelangai Gadang mengalami kerusakan berat setelah berulang kali dihantam banjir besar. Banjir pada akhir November 2025 lalu, menjadi pukulan terakhir. Lantai jembatan hanyut, sementara sling baja penggantung menjuntai ke dasar sungai. Sejak saat itu, jembatan dinyatakan tidak dapat diperbaiki dan harus dibangun ulang dari awal.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Sekitar 200 kepala keluarga yang bermukim di satu sisi sungai kini terisolasi. Untuk berangkat ke sekolah, ke pasar, atau menjalankan aktivitas harian lainnya, mereka harus menggunakan perahu karet yang disediakan oleh Wali Nagari Pelangai Gadang.

Di sisi lain sungai, sekitar 500 kepala keluarga juga menghadapi kesulitan serupa. Mereka harus menyeberang dengan perahu karet untuk mengurus administrasi ke kantor wali nagari maupun mendapatkan layanan kesehatan di Pusat Kesehatan Nagari (Puskesri).

Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan, Novermal, menyebutkan bahwa memang terdapat jalur alternatif, namun jaraknya sangat memberatkan masyarakat.

“Jalan alternatif ada, tapi harus melingkar sejauh kurang lebih empat kilometer ke arah hulu sungai. Masyarakat tidak sanggup membayar ongkos ojek yang sangat mahal,” ujar Novermal, Kamis (5/2/2026).

Politisi PAN itu menyebut, jembatan gantung Pelangai Gadang sebelumnya telah beberapa kali rusak akibat banjir dan selalu diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat melalui gotong royong. Namun, kerusakan akibat banjir besar akhir November 2025 membuat jembatan tersebut benar-benar tak dapat difungsikan kembali.

“Lantainya hanyut, sling baja penggantungnya menjulai ke dasar sungai. Jembatan ini tidak bisa lagi diperbaiki. Harus dibangun ulang,” ucapnya lagi.

Novermal menambahkan, sejumlah pejabat kabupaten, termasuk Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni, bersama pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah berulang kali meninjau langsung kondisi jembatan tersebut. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, kata dia, juga telah mengajukan permohonan pembangunan kembali jembatan gantung Pelangai Gadang kepada BNPB.

“Informasi dari pihak BNPB, saat ini prosesnya tinggal menunggu ketersediaan anggaran dari Kementerian Keuangan,” kata Novermal.

Ia berharap pemerintah pusat melalui BNPB segera merealisasikan pembangunan kembali jembatan tersebut. Menurutnya, jembatan gantung Pelangai Gadang bukan sekadar sarana penghubung, melainkan akses utama masyarakat untuk pendidikan, layanan kesehatan, administrasi pemerintahan, hingga aktivitas ekonomi.

“Ini merupakan akses vital masyarakat. Tanpa jembatan, semua sektor lumpuh,” pungkasnya.

Selain jembatan gantung Pelangai Gadang, Novermal juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan telah mengajukan permohonan pembangunan kembali dua jembatan gantung lainnya, yakni jembatan gantung Koto Pulai di Kecamatan Lengayang dan jembatan gantung Inanang di Kecamatan Batang Kapas.

“Permohonan ini diajukan di luar usulan R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana banjir dan tanah longsor akhir November 2025,” tuturnya.

Mewakili masyarakat Pesisir Selatan, Novermal berharap BNPB segera merealisasikan pembangunan kembali ketiga jembatan gantung tersebut agar akses dan roda kehidupan warga di wilayah terdampak dapat kembali normal.

“Kita minta BNPB segera merealisasikan pembangunan kembali tiga jembatan gantung ini,” kata Novermal. (*)