PADANG, HARIANHALUAN.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) tahun 2025 tumbuh sebesar 3,37 persen, lebih rendah dibanding capaian tahun 2024 yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,37 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran, bukan hanya soal daya beli masyarakat, tetapi juga lemahnya sektor unggulan yang belum mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin mengatakan, pada 2025 Sumbar menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Pulau Sumatera. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Kepulauan Riau (Kepri) yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,94 persen. Selanjutnya diikuti Sumatera Selatan (Sumsel) sebesar 5,35 persen, Lampung sebesar 5,28 persen, Jambi sebesar 4,93 persen, Bengkulu sebesar 4,80 persen, Riau sebesar 4,79 persen, Sumatera Utara (Sumut) sebesar 4,53 persen, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 4,09 persen, Sumbar sebesar 3,37 persen, dan Aceh sebesar 2,97 persen.
Ia mengungkapkan bahwa secara spasial, struktur perekonomian Pulau Sumatera pada tahun 2025 didominasi oleh Sumut dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Sumatera sebesar 23,54 persen, diikuti Riau sebesar 22,88 persen, Sumsel sebesar 13,71 persen, Lampung sebesar 9,98 persen, Kepri sebesar 7,27 persen, Jambi sebesar 6,66 persen, Sumbar sebesar 6,71 persen, Aceh sebesar 4,90 persen, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 2,22 persen, dan Bengkulu sebesar 2,13 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 sendiri dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun dan atas harga konstan 2010 mencapai Rp51,85 triliun,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Haluan, Kamis (5/2).
Ia mengatakan, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Lainnya sebesar 8,50 persen. Kemudian diikuti Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,09 persen. Sebagai lapangan usaha yang memiliki peran dominan, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh sebesar 4,14 persen.
Selanjutnya, Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor tumbuh sebesar 3,71 persen. Sedangkan Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan, serta Konstruksi mengalami kontraksi sebesar 0,01 persen dan 1,40 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, komponen Impor Luar Negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 34,15 persen. “Perlu diperhatikan bahwa komponen ini merupakan pengurang PDRB,” ucapnya.
Sementara komponen lain yang mengalami pertumbuhan yaitu komponen Ekspor Luar Negeri yang mengalami pertumbuhan sebesar 17,16 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,28 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mengalami pertumbuhan sebesar 1,65 persen.
Adapun komponen yang mengalami kontraksi yaitu komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 2,13 persen, dan komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,83 persen.
Lebih jauh Nurul mengatakan, struktur PDRB Sumbar menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Sumbar masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 22,12 persen; diikuti oleh Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 16,65 persen; Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 10,68 persen; Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 9,47 persen; dan Lapangan Usaha Industri Pengolahan 8,55 persen. “Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumbar mencapai 67,47 persen,” katanya. (*)






