NASIONAL

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 7 Februari 2026

1
×

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 7 Februari 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Pengendalian Operasi mencatat sejumlah kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia. Laporan peristiwa yang berhasil dihimpun sejak Jumat (6/2) hingga Sabtu (7/2), pukul 07.00 WIB didominasi oleh kejadian bencana yang dipicu oleh bencana hidrometeorologi basah.

Kejadian pertama bencana tanah longsor di wilayah Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Kejadian tersebut dilaporkan pada hari Jumat, (6/2). Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Pemalang menerima laporan adanya peristiwa tanah longsor yang terjadi di Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari. Sekitar pukul 16.30 WIB, tebing yang berada di belakang rumah warga mengalami runtuh secara tiba-tiba. Material longsoran berupa tanah dan bebatuan menimpa satu unit rumah warga. Peristiwa berlangsung cepat dan dipicu oleh kondisi hujan deras yang masih berlangsung saat kejadian.

Akibat kejadian tersebut, satu kepala keluarga dengan total tiga jiwa terdampak. Tercatat satu orang meninggal dunia. Selain itu, satu orang mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Kerugian materiil akibat bencana ini meliputi satu unit rumah warga yang mengalami rusak berat karena tertimbun material longsoran. Hingga laporan ini disusun, kondisi rumah tersebut masih dalam keadaan tertimbun tanah longsor.

Sebagai tindak lanjut, BPBD Kabupaten Pemalang telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di tingkat desa dan kecamatan. BPBD juga menerima dan mendokumentasikan laporan kejadian, menyusun laporan resmi bencana, serta melaporkan perkembangan situasi kepada pimpinan. Unsur yang terlibat dalam penanganan kejadian ini antara lain pemerintah desa, aparat kewilayahan, unsur ketenteraman dan ketertiban kecamatan, Destana, relawan sekitar, serta masyarakat setempat.

Kondisi mutakhir hingga Jumat, (6/2), material longsoran masih menimbun rumah terdampak dan situasi terus dalam pemantauan pihak berwenang untuk mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.

Selain itu, bencana tanah longsor juga terjadi pada area pertambangan timah di wilayah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan laporan pada Jumat, (6/2) pukul 10.15 WIB, kejadian longsor tersebut terjadi pada Kamis, (5/2) sekitar pukul 02.00 WIB. Peristiwa dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan berujung pada terjadinya longsoran.

Lokasi kejadian berada di Kecamatan Pemali, Desa Pemali. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut juga mengakibatkan meluapnya air sungai hingga ke area sekitar permukiman dan lokasi aktivitas pertambangan, sehingga memperparah dampak kejadian dan menyulitkan proses evakuasi awal.

Akibat bencana tersebut, dilaporkan enam orang meninggal dunia. Selain itu, satu orang masih dalam status pencarian, sementara empat orang lainnya dilaporkan selamat. Tidak terdapat laporan kerugian materiil dalam peristiwa ini.

Sebagai upaya penanganan, BPBD Kabupaten Bangka bersama Badan Pencarian dan Pertolongan serta tim gabungan terus melakukan proses evakuasi terhadap korban yang tertimbun material longsoran. Pencarian dilakukan secara intensif dengan mengerahkan peralatan berat dan dukungan personel di lapangan.

Unsur yang terlibat dalam penanganan kejadian ini antara lain BPBD Kabupaten Bangka, aparat kewilayahan setempat, Badan Pencarian dan Pertolongan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, relawan, staf desa, serta masyarakat. Hingga Jumat, (6/2), proses pencarian masih terus berlanjut dengan menggunakan tiga unit excavator. Situasi di lokasi kejadian masih dalam pemantauan ketat guna mengantisipasi potensi longsor susulan.

Update bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal

Berdasarkan laporan pada Jumat, (6/2) pukul 15.30 WIB, bencana tanah bergerak yang terjadi di Kecamatan Jatinegara, Desa Padasari, Kabupaten Tegal, masih berdampak signifikan terhadap permukiman warga dan fasilitas umum. Tanah bergerak dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi serta kondisi kontur tanah yang miring dan labil, dengan kejadian awal tercatat pada Selasa, (3/2) sekitar pukul 03.00 WIB.

Update terkini mencatat sebanyak 464 unit rumah terdampak, dengan rincian 205 unit rumah rusak berat, 174 unit rumah rusak sedang, dan 85 unit rumah rusak ringan. Selain itu, dampak juga meluas ke 36 fasilitas umum yang mencakup fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan, serta infrastruktur vital lainnya seperti tiga akses jalan, satu jembatan, dan satu bendungan irigasi. Pendataan lanjutan masih terus dilakukan oleh OPD terkait untuk memastikan validitas dan kelengkapan data kerusakan.

Jumlah pengungsi berdasarkan update sementara mencapai 2.425 jiwa dari 590 kepala keluarga, ditambah 526 santri, yang tersebar di enam titik pengungsian. Proses pendataan masih berlangsung mengingat dinamika pergerakan warga dan kondisi tanah yang masih aktif. Hingga saat ini, prioritas utama adalah keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian.

BPBD Kabupaten Tegal bersama instansi terkait terus melaksanakan operasi tanggap darurat, meliputi evakuasi warga ke lokasi aman, pendirian dan operasional dapur umum dengan penyiapan sekitar 1.050 porsi makanan, serta distribusi logistik yang dilaksanakan satu pintu melalui Pos Lapangan di Balai Desa Padasari. Dukungan pendampingan dari BPBD Provinsi Jawa Tengah juga terus dilakukan, disertai kunjungan pimpinan daerah ke lokasi terdampak.

Saat ini, Posko Penanganan Bencana tetap aktif dengan pengoperasian klaster pengungsian, logistik, kesehatan, operasi SAR, pendidikan, serta sarana dan prasarana. Layanan kesehatan dilakukan melalui pos kesehatan dan mobile check-up, sementara pemenuhan air bersih dilakukan dengan perbaikan jalur pipa oleh PDAM dan Pamsimas serta suplai air bersih menggunakan truk tangki.

Untuk langkah lanjutan, penyiapan hunian sementara dan perbaikan infrastruktur terdampak masih menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi terkait tingkat keamanan lahan. Opsi penanganan menengah yang dipertimbangkan meliputi pemanfaatan lahan Perhutani, sewa lahan milik masyarakat, serta kemungkinan relokasi atau penempatan kembali warga ke lokasi asal apabila dinyatakan aman. Seluruh penanganan dilaksanakan dalam kerangka Status Tanggap Darurat selama 14 hari, terhitung sejak 3 Februari hingga 16 Februari 2026.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana hidrometeorologi, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD setempat, dan kanal komunikasi BNPB, serta segera melaporkan apabila ditemukan tanda-tanda awal bencana seperti retakan tanah, pergerakan lereng, peningkatan debit air sungai, maupun genangan air yang berpotensi meluas. Pemerintah daerah diminta memastikan kesiapsiagaan personel, sarana dan prasarana, serta jalur evakuasi guna meminimalkan risiko dan dampak bencana. (*)