Sugesti Edward
(Motivator Bisnis dan Pengusaha)
Tadi malam (Sabtu, 7/2/2026), Indonesia berdiri di panggung tertinggi futsal Asia. Final Piala Asia Futsal 2026 mempertemukan timnas futsal Indonesia dengan Iran negara yang selama ini dikenal sebagai raksasa futsal benua ini. Laga berlangsung ketat, keras, penuh tekanan, dan sarat emosi.
Indonesia sempat unggul beberapa kali, menampilkan permainan menyerang yang penuh keyakinan. Garuda bahkan sempat unggul di berbagai momen pertandingan dan skor imbang 5–5 membawa laga ke adu penalti yang menegangkan. Namun di ujung drama penalti itu, Indonesia kalah tipis 4–5, dan gelar juara kembali diraih oleh Iran yang telah menguasai futsal Asia selama puluhan tahun. Indonesia pun terpaksa memupus mimpi meraih gelar juara tertinggi di Asia tersebut dan harus mencobanya 2 tahun lagi.
Bagi banyak orang, hasil ini menyakitkan. Harapan yang sempat membubung tinggi terpaksa harus ditunda. Ada rasa kecewa, ada rasa “hampir”, dan ada rasa penyesalan yang sulit dijelaskan. Bahkan ada derai air mata yang tertumpah. Namun jika kita mau jujur, kekalahan tadi malam bukanlah kisah tentang kegagalan. Ia adalah kisah tentang keberanian untuk bertarung sampai akhir. Ya, menghadapi tim yang secara sejarah dan peringkat jauh lebih baik, timnas Indonesia tidak ada rasa takutnya.
Dan di situlah pelajaran penting bagi dunia bisnis dimulai.
Dalam bisnis, seperti dalam pertandingan futsal, tidak semua perjuangan harus selalu berakhir dengan piala. Tidak semua kerja keras langsung berbuah manis. Tidak mungkin sekali percobaan langsung berhasil. Ada kalanya kita sudah berlatih, mempersiapkan diri, menyusun strategi dengan matang, bahkan mengorbankan banyak hal namun hasil akhirnya tetap tidak sesuai harapan. Bahkan ada juga yang jauh dari keinginan. Ibarat “jauh panggang pada api”. Ini harus menjadi pemahaman dan pembelajaran bagi siapa pun. Bahwa sesiap apa pun, hasil akhir terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Sehingga pertanyaan yang muncul bukan lagi “kenapa kalah?”, melainkan “apa yang kita lakukan setelah kalah”. Jika sudah berada pada tahap ini berarti kita memahami makna dari berjuang dan berkoban. Ini yang banyak tidak disadari oleh kebanyakan pengusaha khususnya mereka pengusaha pemula.
Karena yang membedakan pengusaha biasa dan pengusaha tangguh bukan soal seberapa sering menang, tetapi seberapa kuat mereka bertahan saat kalah. Banyak dari kita yang siap menang, namun tidak siap untuk kalah. Membentuk mental ini bukan perkara mudah. Bisa jadi, butuh tahunan atau puluhan tahun untuk membentuknya seperti ini.
Usaha Sudah Maksimal tapi Hasil Tidak
Final Piala Asia Futsal 2026 adalah panggung tertinggi di Asia. Untuk bisa sampai ke sana, Indonesia harus melewati fase demi fase, menghadapi lawan-lawan kuat, tekanan mental, dan ekspektasi publik. Tidak ada satu pun tim yang sampai ke final hanya dengan keberuntungan, termasuk tim nasional Indonesia. Semua yang berdiri di sana adalah mereka yang sudah bekerja keras jauh sebelum lampu stadion dinyalakan.
Hal ini persis dengan dunia usaha.
Ketika seorang pengusaha gagal di tahap akhir gagal mendapatkan investor, gagal menutup kontrak besar, gagal memenangkan tender sering kali orang luar hanya melihat hasil akhirnya. Mereka lupa bahwa proses panjang sebelumnya sudah dilalui dengan keringat, waktu, dan pengorbanan.
Indonesia kalah dari Iran lewat adu penalti. Artinya, secara permainan, jaraknya tidak sejauh yang dibayangkan. Indonesia tidak dipermalukan. Indonesia tidak menyerah. Indonesia berdiri sejajar, menantang, dan memaksa pertandingan berjalan sampai titik paling menentukan. Mereka tidak kalah karena persiapan, mereka kalah karena memang ‘belum saatnya’.
Dalam bahasa bisnis, ini adalah kondisi di mana usaha kita sebenarnya sudah “layak bersaing”, tetapi belum “menang hari ini”. Dan hal ini adalah hal yang biasa terjadi dalam dunia bisnis. Namun banyak yang belum menyadarinya.
Dan itu bukan alasan untuk berhenti.
Justru di titik inilah banyak calon pengusaha salah mengambil kesimpulan. Mereka mengira kalah berarti tidak pantas berada di lapangan. Mereka lupa bahwa berada di final saja sudah menunjukkan kapasitas. Dalam bisnis, bisa bertahan sampai fase krusial di tengah persaingan ketat adalah bukti bahwa fondasi usaha tidak rapuh.
Kekalahan seperti ini seharusnya tidak mematikan semangat, melainkan mempertajam insting. Di mana yang perlu diperbaiki? Strategi apa yang harus diasah? Mental apa yang harus dikuatkan?
Iran tidak menjadi raksasa futsal Asia karena selalu menang sejak awal. Mereka besar karena bertahun-tahun kalah, belajar, membangun sistem, dan terus kembali ke lapangan dengan versi yang lebih baik. Hal yang sama berlaku bagi pengusaha.
Tidak ada bisnis besar yang lahir dari jalan yang lurus dan mulus.
Mental Pengusaha Sesungguhnya
Ada satu hal penting dari pertandingan tadi malam yang sering luput disadari: Indonesia tidak kalah di waktu normal karena menyerah. Indonesia kalah setelah bertahan sampai adu penalty, fase paling menegangkan, paling menguras mental, dan paling jujur dalam menguji ketahanan psikologis. Tidak semua orang bisa sampai ke tahap ini. Adu penalti bukan sekadar soal teknik. Ia soal mental.
Dan bisnis, pada akhirnya, juga soal mental.
Banyak usaha tumbang bukan karena produknya buruk, bukan karena pasarnya tidak ada, tetapi karena pengusahanya menyerah terlalu cepat. Baru satu kali rugi, sudah berhenti. Baru satu kali ditolak pasar, sudah menyimpulkan “ini bukan jalan saya”.
Padahal, dalam pertandingan hidup, kita sering berada di fase adu penalti—fase ketika semua terasa di ujung, ketika tekanan datang dari mana-mana, dan ketika satu keputusan kecil bisa menentukan segalanya.
Timnas futsal Indonesia tadi malam menunjukkan satu sikap penting: tidak keluar dari pertandingan. Mereka tidak walk out. Mereka tidak bermain setengah hati. Mereka berdiri, mengambil penalti, dan menerima hasil dengan kepala tegak.
Inilah mental yang seharusnya dimiliki pengusaha.
Dalam bisnis, mungkin kamu sedang berada di fase, modal menipis, penjualan stagnan, kepercayaan diri turun dan tekanan keluarga meningkat.
Itu adalah fase adu penalti. Fase ketika mental diuji lebih keras daripada kemampuan teknis.
Pengusaha yang kuat bukan yang tidak pernah takut, tetapi yang tetap melangkah meski takut. Bukan yang tidak pernah gagal, tetapi yang tidak membiarkan kegagalan menjadi alasan untuk berhenti.
Indonesia memang belum mengangkat trofi Piala Asia Futsal 2026. Namun mereka telah mengangkat satu hal yang jauh lebih penting: standar baru tentang keberanian dan daya saing. Dan dalam bisnis, standar seperti ini sering kali menjadi fondasi kemenangan di masa depan. Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya hanya dianggap tim pendukung atau peramai acara. Namun kini mereka dianggap sebagai penantang para juara. Tim lawan yang menghadapi timnas telah menilai lain dan menganggap timnas adalah lawan yang berbahaya.
Kekalahan tadi malam seharusnya tidak kita ingat sebagai akhir cerita, tetapi sebagai penanda bab baru. Bab di mana Indonesia sudah tidak lagi sekadar “peserta”, tetapi penantang serius. Begitu pula dalam bisnis. Ketika usahamu sudah sampai titik krusial, itu berarti kamu sudah jauh melangkah.
Tidak semua orang berani bermain di level final. Tidak semua orang sanggup menahan tekanan ketika taruhannya besar. Dan tidak semua orang mau kembali bangkit setelah kalah tipis.
Jika hari ini kamu adalah calon pengusaha yang masih ragu memulai, ingatlah: tidak ada jaminan menang di pertandingan pertama. Namun tidak pernah bermain jauh lebih berisiko daripada kalah.
Jika kamu adalah pengusaha yang sedang berjuang dan merasa “kalah skor”, lihatlah timnas futsal tadi malam. Mereka kalah, tetapi tidak kecil. Mereka kalah, tetapi tidak runtuh. Mereka kalah, tetapi pulang membawa pengalaman, pelajaran, dan rasa lapar untuk kembali lebih kuat.
Dalam bisnis, seperti dalam futsal, yang benar-benar kalah bukan mereka yang gagal di final. Yang benar-benar kalah adalah mereka yang berhenti datang ke lapangan. Mereka yang telah berani masuk gelanggang adalah orang-orang yang berani mengambil keputusan dengan segala risiko.
Kita boleh kecewa. Kita boleh sedih. Kita boleh menunda perayaan. Tetapi jangan pernah menutup usaha hanya karena satu hasil yang belum berpihak.
Karena sering kali, kemenangan besar datang bukan pada pertandingan yang kita menangkan melainkan pada pertandingan yang hampir kita menangkan, tetapi memilih untuk bangkit dan mencoba lagi.
Dan seperti timnas futsal Indonesia, tugas kita hari ini bukan menyesali kekalahan, melainkan bersiap untuk pertandingan berikutnya. (*)






