SUMBAR

Pers Jangan Kalah Dengan Produk Akal Imitasi

22
×

Pers Jangan Kalah Dengan Produk Akal Imitasi

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Tokoh Pers Sumbar, Hasril Chaniago melihat kondisi pers di seluruh dunia saat ini menghadapi tantangan yang sama. Dimana Artificial Inteligent atau Akal Imitasi (AI) memicu era perubahan yang sangat cepat dalam industri media massa.

Menyikapi kondisi ini, Hasil menyebut hasil karya jurnalistik seharusnya jangan kalah dengan produk imitasi.

“Untuk mempertahankan kualitas, yang imitasi ini harusnya kalah dari yang asli. AI bisa jadi lebih cepat, tapi belum tentu jadi yang paling akurat. AI juga dikendalikan oleh akal manusia, jangan sebaliknya,” ujarnya, saat dihubungi Haluan, Minggu (8/2).

Pengaruh AI terhadap perkembangan industri media massa bahkan sudah diungkapkan sejak 15 tahun lalu bahwa era media cetak akan masuk “sunset industry”. Kecuali jika para pelakunya menemukan terobosan dan kreativitas untuk bertahan.

Ia menilai ada dua hal kontradiktif yang dihadapkan dengan kehadiran AI. Pertama, AI menjadi saingan manusia. Kedua, kecendrungan kualitas dan semangat juang para jurnalis zaman ini yang berkurang.

“Generasi ’80 atau ’90 an para jurnalis ditantang untuk berjuang memperoleh informasi yang akan mereka suguhkan. Untuk mendapatkan peristiwa bahkan harus mencari arsip ke kantor pemerintahan, belum ada internet ataupun press rilis yang bisa diandalkan seperti sekarang,” kata Hasril yang acapkali diundang menjadi narasumber di televisi nasional ini.

Ia menekankan jangan sampai pers ikut-ikutan mencari data hanya bersumber pada AI. Sebab saat ini sangat disayangkan banyak platform berkedok media yang belum terverifikasi setidaknya Dewan Pers, hanya membuat artikel berita berlandaskan AI tanpa melakukan pencarian kebenaran langsung ke narasumber, melakukan kewajiban verifikasi atau tanpa penanggungjawab yang jelas.

Disisi lain ada juga hal-hal yang tidak bsia dijangkau AI. Seperti produk jurnalistik Human Interest, Indept news, investigasi report, atau hal analisa tajam yang tidak dimiliki AI.

Hasril juga sudah berulangkali menyoroti beberapa platform media sosial yang memuat informasi tidak tepat yang disuguhkan kepada publik. Kehadiran media juga diharapkan mampu meluruskan berbagai informasi keliru supaya tidak menjadi narasi yang menyesatkan.

“Kedepan media massa juga punya tanggungjawab meluruskan informasi keliru yang dikeluarkan AI,” ungkapnya.